Ide cemerlang

2118 Kata

Lintang terpaku. Mobil Jalu sudah menjauh, bahkan membaur dengan mobil lainnya di jalan raya. Lintang tetap terdiam, menatap gamang ke arah yang tak terlihat sejelas yang tadi. Air matanya luruh, ternyata seperti ini rasanya dibuang bahkan sebelum dipungut dengan benar. Lintang tetap diam, membiarkan air matanya membasahi pipinya kembali. Jalu berbeda dengan Akasa, apa yang terjadi ke pada kekasihnya itu? Lintang menggeleng beberapa kali, itu bukan Akasa, sungguh itu bukanlah Akasa-nya. Dengan kaki yang menempel di tubuh dan seolah tak bernyawa, Lintang berjalan menjauh dari taman. Menuju ke rumahnya setelah menghapus air matanya. Pikirannya masih melayang-layang, Lintang tak paham dengan apa yang terjadi saat ini. Bukan lelah, Lintang hanya belum siap untuk kembali ke rumah dan bertemu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN