“Bolehkah ... aku memintamu membuatkan puisi untukku?” 'Deg.' Kusuma terkejut dengan permintaan Jalu yang terbilang aneh dan di luar nalar. Sudah berapa lama ke duanya tidak membicarakan masalah itu, dan permintaan Jalu malah membuatnya bingung saat ini. “Aku ingin kamu menuliskan apa pun, tentangku, tentang anak kita,” terkekeh melihat wajah bingung itu, “aku yakin kamu bisa, banyak waktu dan aku ... mau kamu mencurahkan apa pun agar bisa kubaca.” Jalu mengeratkan pelukannya, “Aku hanya rindu.” Imbuhnya dan mengecupi puncak kepala Kusuma lagi. Kusuma yang awalnya enggan, mengangguk untuk menjawab permintaan itu. “Aku tidak jago, Jalu. Anggap saja aku menulis diari, ya? Jangan ditertawakan nanti.” Kusuma menikmati pelukan di tubuhnya saat ini. “Ya. Aku akan menerima apa pun yang kamu b

