Seperti biasanya, Lintang sibuk dengan qwerty dan juga pikirannya sendiri. Bermain dengan imajinasi dan anggannya dalam naskah yang dia sukai saat ini. Saat sedang asyik, bel di rumahnya pun berbunyi, Lintang menjeda pekerjaannya dan membukanya untuk melihat siapa yang bertandang ke rumahnya ini. “Gusti? Tumben gak telepon dulu kalau mau ke sini?” tanya Lintang setelah melihat Gusti ada di depannya. Tangan yang mengangkat kantong belanjaan itu, hanya dibalas kekehan saja oleh Lintang, “Ayo masuk!” ajaknya sambil menerima uluran kantong belanjaan dari Gusti itu. “Ayah ke luar?” Gusti mengakrabkan diri beberapa hari terakhir. Dia sudah tidak memanggil ayah Lintang dengan ‘om’ lagi, lebih menempatkan diri karena dua tahun yang dia janjikan semakin berkurang setiap harinya. “Iya, kemarin be

