Malam telah datang. Jalu terdiam di balkon kamar inapnya. Hotel ini cukup indah dengan pemandangan malam. Jalu menerawang di kejauhan, apa yang dia rasa dan pikirkan seolah bertolak belakang. Sampai kapan semua ini akan berakhir? Jalu sendiri tak tahu apa dan bagaimana akhir kisahnya. Kusuma tidak ada di sini, membiarkan Lintang menyusul Gusti juga bukan hal yang baik. Jalu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, merasa tak terlalu malam kalau hanya sekedar untuk berbincang saja. Jalu pun segera menghubungi seseorang, mengambil jaket miliknya untuk menghalau dingin, dan segera ke luar. Jalu merasa harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan dirinya sendiri. “Tuan Jalu? Saya pikir Anda lelah. Itulah kenapa saya tidak mengajak Anda untuk makan malam tadi.” Jalu terkekeh, dia

