“Dari mana saja kamu, Jalu?” Jalu yang baru saja masuk dari pintu samping, tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mendekat ke Kusuma dan memeluknya, “Aku hanya ... memastikan tidak ada yang akan mengganggu kita selama dua hari ini.” Mengeratkan pelukannya, mencium pipi Kusuma lama, Jalu tak akan membiarkan wanita itu lepas dengan mudah. Kusuma terkekeh, “Pasang layarnya, Jalu. Aku akan mengunci pintu.” Jalu mencium bibir Kusuma singkat, pergi untuk mencari proyektor yang sedari tadi belum juga dia dapatkan. Di ruang kerja, memang Jalu menyimpannya di sana. Segera memasangnya di ruangan khusus. Saat Jalu sibuk merakit semuanya, si kucing dan si anjing bergabung, Jalu mengajak mereka bermain sebentar sebelum berdiri dan mulai menutup tirai agar ruangan khusus itu lebih ge

