Peringatan Terakhir

1248 Kata
"Kalau aku boleh jujur, aku sendiri susah melupakan Leonathan. Perbuatannya di masa lalu yang membuatku takut mengenal laki-laki lagi. Tapi aku sadar kalau El butuh seorang ayah." Kesal sekali Leonardo mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Brielle. Tapi ia masih mendengarkan dengan baik. "Untuk itu aku mulai berteman dan mengenalmu lebih jauh setelah putus dari Naomi, itu juga karena kau selalu mendekatiku. Ditambah Naomi yang mendukungku untuk mengenalmu," tambah Brielle berusaha memberikan fakta yang ada. "Jadi sampai kita pacaran, mantan calon istriku ternyata masih ada perasaan dengan kakakku?" Brielle mengangguk pelan sambil menelan ludahnya. "Mungkin, tapi aku berusaha menepis kebenaran itu. Aku mencoba untuk mencintaimu meskipun El sendiri mengingatkanku pada ayahnya, Leonathan," terang Brielle yang membuat lawan bicaranya melongo, sedikit tak percaya. "Aku akui, aku sendiri yang tak bisa tegas dengan hatiku." "Kenapa harus dilanjutkan kalau kau sendiri tidak yakin bersamaku? Diputuskan sebelum menikah lebih menyakitkan, apa kau tidak memikirkan itu? Dampaknya sampai detik ini." "Maaf, karena kesalahanku itu kau menanggung dampaknya. Maaf, Nard." Kepalanya turut menunduk sedalam-dalamnya, Brielle tampak begitu menyesali perbuatannya, terlebih keputusannya. "Seharusnya aku bisa menolakmu dari awal. Aku terlalu takut dengan masa lalu sampai harus mengorbankan perasaan laki-laki baik sepertimu. Maaf, Nard," sesalnya sekali lagi. "Mengapa harus Leonathan? Mengapa harus kakak kandungku sendiri? Mengapa kau harus hadir di hidup kami?" "Maaf," ucap Brielle yang tak tahu harus berkata apalagi. Ia sendiri juga bingung dengan jalan takdir, mengapa harus hamil anak Leonathan dan harus kenal pula dengan Leonardo. Semua karena takdir, bukan? "Elle bisa menerimamu karena aku mendesaknya," sela perempuan yang baru saja membuka pintu toko bunganya. Naomi berjalan santai, meski tak mendekati dua orang yang saling bercengkrama itu. Leonardo yang melihat kehadiran sang mantan langsung melengos. "Jangan salahkan dirimu," bisik Brielle untuk sang sahabat, dan didengar oleh Leonardo. "Sudah kubilang, aku tahu kau menyukai Elle. Karena alasan masuk akal itu aku mengakhiri hubungan kita, dan aku selalu membujuk Elle agar perasaanmu terbalaskan. Aku mau dia membalas perasaanmu." Naomi tak menunjukkan ekspresi apapun, dia hanya berdiri sambil menatap ke arah Leonardo. "Apalagi yang harus dijelaskan Brielle? Semua ini salahku." Brielle yang tak mau melihat sahabatnya sedih pun ikut membeberkan, "Aku tahu sekali ... Naomi masih sangat mencintaimu. Mungkin perasaanmu padaku dulu cuma sebatas kagum atau penasaran saja, dan bukan cinta." Ia menoleh ke belakang dan menghampiri sahabatnya. Merangkul Naomi, menepuk singkat bahunya. "Bukan cinta?" Leonardo mendengus. "Percayalah, Tuhan sudah mengirimkan perempuan yang baik untukmu. Naomi sangat mencintaimu, kembalilah padanya. Cinta yang tulus sangat susah didapatkan, tapi untukmu sudah ada di depan mata." Naomi lantas menggenggam erat tangan Brielle, ia merasa tersentuh dengan penjelasan sahabat baiknya itu. Sedangkan Brielle masih menatap lekat-lekat Leonardo. Pria yang hanya memandanginya dalam-dalam tak bisa membuka bibir. Sulit baginya untuk mengeluarkan suara lagi karena merasa tertampar. Alhasil, Leonardo hanya melirik kedua perempuan itu sebelum berlalu dari sana dan masuk ke dalam sebuah mobil. "PIKIRKAN BAIK-BAIK! NAOMI JODOHMU! PEREMPUAN SEBAIK DIRINYA PASTI MENDAPATKAN LAKI-LAKI YANG BAIK JUGA! AKU BISA MENJAMIN ITU!" teriak Brielle sebelum mobil tumpangan Leonardo melaju dan menjauhi halaman parkir toko bunga Mille. "Biarkan dia, Elle. Memaksa orang itu tidak baik." "Sudah keharusanku menyadarkannya, kalau sahabatku ini yang terbaik." Brielle memeluk Naomi dan mengajaknya masuk toko. "Kerjaanku pasti banyak, apalagi aku libur beberapa hari. Aku kangen antar bunga-bunga di pagi hari." "Ya, kita harus kerja daripada memikirkan cinta, orang hidup butuh makan juga bukan cuma rasa." Brielle membalas ucapan Naomi dengan tertawa, keduanya masuk toko dan mulai menempatkan diri pada tugasnya masing-masing. Brielle mengecek buku pesanan, sedangkan Naomi mengatur bunga-bunga yang akan dikirim. Beruntunglah mereka berdua, karena petugas kasir baru saja datang. Sehingga dia tidak tahu-menahu soal Leonardo dan masalah mereka, pembeli bunga pun datang satu-persatu setelah Brielle bersiap untuk mengirim pesanan. *** Leonathan, pria yang selalu tampil dengan kemeja atau kaos berwarna hitam itu kini tengah memakai kemeja cokelat muda. Tatanan rambut cokelat yang diarahkan ke samping kanan itu membuatnya makin keren dan bisa disebut bagai pria dewasa yang dingin. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Alice Wanita seumuran Leonathan yang berdiri sambil menggendong seorang anak perempuan cantik. Bukannya menyapa Leonathan, wanita itu justru menunduk malu setelah menunjukkan Abigail pada lelaki di hadapannya sekarang ini. Pasalnya, bocah itu seakan bingung dan enggan kala melihat Leonathan. "Kau bilang dia merindukanku, itu yang kau bilang rindu?" Alice tak menjawab, ia bahkan tidak berani menatap Leonathan. Kemudian anak dalam gendongannya minta diturunkan. "Itu Papa," sahut Alice sembari menunjuk Leonathan. Sedang Abigail, si bocah menggemaskan itu menatap Leonathan seraya tersenyum lebar. "Kau bohong soal dia yang merindukanku." Leonathan berdecih. "Sebenarnya bukan dia, tetapi kau yang ingin bertemu denganku, bukan?" "Ya! Aku ingin kau ada di sini, Nath! Apa aku salah memintamu datang ke sini sesekali?! Sudah bertahun-tahun kau jarang mengunjungi kami! Setelah hari pemotretan itu kau langsung menghilang." "Itulah bukti nyata bahwa aku tidak main-main dengan ucapanku," Leonathan menekankan. "Kau bisa lihat sendiri akibatnya," katanya lagi menambahkan. "Ya, aku tahu itu. Tapi kenapa kau tega melakukan itu Nath? Kenapa di otakmu hanya mencari Brielle?!" "Kupikir kau tahu alasannya." "Aku benci kalau dialah yang membuatmu menjauh dariku!" Leonathan melirik Abigail lalu memandang ibunya yang tak tahu sopan santun itu. "Bisa kau bawa dia bermain dulu? Perkataanmu sangat buruk untuk tumbuh kembangnya." "Bukan perkataanku yang buruk, tapi jalan pikiran dan perbuatanmu padaku! Kau bilang tidak akan meninggalkanku dan kita mengurus Abigail bersama-sama." "Bawa masuk Abigail, Alice. Kau benar-benar ingin Abigail mendengarkan kata-katamu?" Alice yang tak ingin mendengarkan, justru menggandeng Abigail dan hal itu yang membuat Leonathan semakin geram dengan tingkah wanita di depannya. "Kau tidak tahu cara mendidik anakmu sendiri?" "Selalu disalahkan! Kau sendiri lupa dengan janjimu! Bilang akan terus menemaniku membesarkan Abigail, tapi kenyataannya? Mana buktinya? Sampai Abigail sebesar ini kau baru menampakkan diri! Abigail sampai lupa wajahmu, Nath!" "Sudah kukatakan, aku ingin membantumu mendidik Abigail. Tapi tidak dengan menjadi suamimu." Leonathan menggapai Abigail dan mencoba menjauhkan anak balita itu dari ibunya. "Kesalahanmu sendiri karena berharap lebih," ujar pria itu tanpa rasa bersalah, setelah Abigail berada dalam pelukannya. "Lalu kau sendiri tidak merasa bersalah karena melanggar janjimu sendiri?" "Siapa yang membuatku berani melanggar janji padamu? Jika bukan dirimu sendiri?" tanya Leonathan yang berhasil membuat wajah kesal Alice makin kentara. Bisa dia lihat kepalan tangan wanita itu yang mengencang. "Seandainya ... jika kau tidak terus berusaha mendekatiku, aku mungkin tidak akan menjauh dan tetap di Bali mengurus semua usahaku." "Aku masih tidak terima! Kau melanggar janjimu sendiri. Kau yang berjanji tanpa kuminta, Nath!" "Lagipula hakku, ingin memilih Brielle atau kembali pada wanita yang sempat menolakku!" murka Leonathan sebelum membawa Abigail dalam gendongannya ke ruangan khusus. Ternyata kamar kosong di rumah Alice telah menjadi ruang bermain anaknya. Ia membiarkan Abigail bermain-main di lantai beralaskan karpet bulu tanpa mengunci pintunya. Setelah itu keluar lagi. Leonathan bukanlah pria bodoh. Ya, mungkin dulu dia terlanjur menunggu cinta Alice, hitung-hitung memberi kesempatan wanita itu untuk berpikir. Tapi setelah menemukan wanita sebaik Brielle, bukankah sudah rejekinya? Apalagi kini Brielle sudah menerima cintanya. Jelas kalau wanita yang membalas cintanya, yang pantas dinikahi. Ditambah lagi dia dan Brielle menjadi orang tua bagi anak mereka, memikirkan dua orang itu saja Leonathan sudah rindu dan ingin pulang sekarang juga. Dengan lancangnya, saat Leonathan ingin duduk di sofa ruang tamu, Alice berlari dan memeluknya sekencang-kencangnya. Seakan tak mau dilepaskan, wanita itu justru membenamkan mukanya di balik punggung di gagah Leonathan yang tertutup kemeja. "Lancang sekali! Sudah kutolak mentah-mentah tapi kau masih berani menyentuhku!" sembur Leonathan yang berusaha menjauhkan sepasang tangan Alice di perutnya. "Kumohon, kembalilah padaku, Nath! Aku menyesal!" "Ini peringatan terakhir untukmu sebelum aku memutuskan pergi dari hadapanmu selamanya." "TIDAK! JANGAN PERNAH PERGI LAGI!" "Lepaskan, Alice!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN