Muncul

1170 Kata
"Satu ditambah satu?" "DUA!" seru dua orang dari arah berbeda. Yang besar baru saja keluar dari kamar kecil, sementara yang bocah duduk di hadapan meja makan khusus balita. "Nathan!" kesal wanita yang anteng di atas kasur itu sembari melirik kekasihnya dan yang dilirik cuma melemparkan senyuman juga kedipan mata genit. "Dua ditambah satu, sama dengan?" "Tiga!" Brielle semakin tertantang untuk memberikan pertanyaan yang lebih susah bagi sang anak. "Tiga ditambah satu, sama dengan?" "Empat...? Betul atau salah, Mama?" tanyanya tak yakin dengan kepala mendongak dan tangan berhenti memasukkan sesendok bakso ke mulut kecilnya. Brielle mengangguk dan melanjutkan, "Empat ditambah satu, sama dengan?" "Lima!" seru Elnathan yang seluruh jari sebelah kirinya langsung terangkat, ikut memberitahu, menunjukkan jawaban pula ke mama dan mulutnya sampai batal makan bakso. "Pintarnya anak Mama!" Brielle tersenyum bahagia dari tempatnya duduk lalu meraih selulernya seraya menyarankan, "Sekarang El makan dulu, belajar berhitungnya lanjut nanti lagi." "Iya, Mama." Brielle beralih memerhatikan Leonathan yang sedang menata pakaiannya ke dalam koper. "Kau berangkat malam ini 'kan?" tanya wanita itu yang tentu saja tak disukai sang pria. "Besok pagi, kalau malam ini aku belum siap. Kakimu belum terlalu pulih, Elle." "Tinggal malam ini saja, besok pasti sudah baik-baik saja. Aku juga bisa mandi pagi sendiri, enggak ada yang harus kamu cemaskan." Leonathan masih menyusun pakaian, namun dengan raut wajah yang tak biasa. "Bekerjalah dengan tenang, kondisi kakiku sudah jauh lebih baik," sambung Brielle yang kini lebih serius dan terdengar meyakinkan bagi telinga Leonathan. Meski begitu, pria tersebut konsisten pada keputusannya. "Aku berangkat besok, dan jangan membujukku untuk buru-buru meninggalkan kalian." Brielle yang merasa ada yang salah dari kalimat terakhir yang disampaikan pria itu meralat, "Bukan begitu maksudku." "Satu minggu bukanlah waktu yang cepat, Elle. Tempat tujuanku juga tidak dekat, mengertilah...." "Bukannya semakin cepat pergi, kau akan cepat kembali? Itu yang aku mau. Kau paham apa maksudku?" Leonathan terdiam, tangannya berhenti menata baju dalam koper. Kini ia mengamati baik-baik wajah wanitanya. "Coba pikirkan lagi, kalau kau pergi malam ini ... kau juga akan semakin cepat kembali bersama kami 'kan? Ayolah, aku bisa mengurus semuanya sendiri. Kakiku sudah mendingan." "Kau yakin?" "Yakin sekali," tandas Brielle dengan senyuman. "Kenapa kau yang tak yakin pergi malam ini? Karena enggak akan bisa melewati setiap malam tanpa pelukanku, ya?" dugaannya sekaligus menggoda. "Papa mau kemana?" tanya Elnathan yang membuat kedua orangtuanya melirik ke arahnya. "Papa harus kerja, Nak. El jadi anak yang pintar selama Papa pergi, jangan nakal sama Mama." Elnathan mengangguk mantap dan menunjukkan senyumannya yang khas. "Papa harus kerja beberapa hari, El sama Mama di sini. El berani 'kan, Sayang?" "Pasti, Mama! El 'kan anak laki-lakinya, Mama sama Papa!" jawabnya dengan dua alis yang sudah dinaik-turunkan. "Good boy!" Leonathan lantas menghampiri bocah yang masih sibuk menghabiskan bakso dalam mangkuk stainless itu sembari tertawa. "Peluk Papa," pintanya seraya merentangkan kedua tangan ke arah Elnathan. Sore itu dihabiskan Leonathan bersama anak dan wanitanya sebelum dia terbang ke Bali. Jika dihitung-hitung, sudah sangat lama dirinya tidak pernah ke Bali. Bahkan terakhir kali Leonathan ingat, memutuskan pergi meninggalkan Abigail ketika anak Alice itu masih sangat bayi. Ya, sudah bertahun-tahun lamanya dia tidak pernah ke sana karena fokus mengembangkan usaha dan mencari Brielle. Sekarang kebahagiaannya sudah sangat cukup meskipun belum sempurna, karena Brielle belum sepenuhnya menjadi miliknya seorang. Dalam artian, tujuan utama untuk membangun rumah tangga bersama wanita itu belum terwujud. Mengikat wanitanya dalam ikatan suci pernikahan. Malam ini, siap tidak siap ia harus bertatap muka lagi dengan Alice karena wanita itu terus menerornya dengan puluhan panggilan. Namun tetap, hanya bayi perempuan yang sangat Leonathan nantikan, bukan wanita itu. Mulai petang nanti dan hari-hari berikutnya ia harus bisa tidur dan melewati tiap jam tanpa jagoan kecil dan pujaan hati. "Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," kata Leonathan ketika jarum jam tepat di angka enam dan dua belas. "Apa?" tanya wanita yang sudah berdiri dari kasur dan dipegangi Leonathan, "Kau akan tahu setelah melihatnya langsung." Brielle dituntun untuk menuruni tangga setelah melewati kamar mereka. Sedangkan lengan kiri Leonathan menggendong Elnathan yang ingin bermanja-manja dengannya. Leonathan dan Brielle tak berhenti saling melempar tatapan hingga tidak terasa ketiga penghuni rumah itu sudah sampai di depan pintu. "Coba buka pintunya sendiri, dan lihat isinya." Dengan mata setengah terpejam, Brielle mengulurkan tangan kanannya dan menekan gagang pintu perlahan. "Apa ada sesuatu yang menyeramkan, Nathan?" "Periksa saja, Honey." "Jangan main-main!" Leonathan tertawa-tawa dan disusul anaknya, membuat kekesalan di hati Brielle hadir saja. "Tidak, mungkin setelah melihatnya kau akan memelukku," balas Leonathan yang langsung membuat tangan Brielle mendorong pintu di hadapan mereka. "Wow," pekik Brielle yang langsung menutup mulutnya dengan dua tangan sekaligus. "Mau! El mau naik, Papa!" Leonathan mengangguk dan menurunkan jagoan kecilnya dari gendongan. "Itu banyak sekali, Nathan." "Kau bisa memakainya kapanpun kau mau." *** Dibilang beruntung karena dicintai seorang pria seperti Leonathan, mungkin iya. Itulah yang dirasakan Brielle sekarang, hidupnya tidak seburuk dulu yang harus banting tulang mencari uang demi menghidupi Elnathan dan dirinya sendiri. Sekarang kalau dia ingin memakai berbagai macam kendaraan, bisa langsung memilih di garasi tanpa sungkan karena Leonathan membebaskannya memakai itu semua. Termasuk motor matic yang dipakai Brielle sekarang, kendaraan warna putih itu diberikan Leonathan sebelum laki-laki itu menuju bandara. Dua hari setelah kepergian kekasihnya ke Bali, Brielle memulai aktivitasnya secara normal. Kakinya yang keseleo sudah tak lagi sakit dan mudah digerakkan, kembali seperti sediakala. Kini dia semangat sekali mengantar Elnathan ke sekolah. "Kalau ada Nathan, mungkin aku enggak akan sesemangat ini!" pikirnya sembari mengingat hari dimana prianya digoda para wali murid genit. "Bisa-bisa mukaku merah seharian," katanya sebelum naik motor matic yang dia ambil dari garasi rumah Leonathan. Kendaraan roda dua itu membawa sang empunya melewati jalan raya yang cukup ramai dengan banyaknya transportasi umum pribadi. Butuh waktu sepuluh menit untuk Brielle menunggangi motor cantik itu. Meliuk-liuk, menyalip beberapa pengguna, hingga akhirnya ia tiba di depan toko bunga. Dilepaskannya helm yang senada dengan motor, kemudian membenarkan tatanan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Brielle turun dari motor dengan senyum cerah. "Akhirnya bisa kerja seperti biasa," syukurnya karena kondisi kaki dan tangan sudah cukup sehat. "Sudah lama kita tidak bertemu, Sayang..." ucapan seseorang itu membuat Brielle yang ingin membuka pintu toko menoleh ke belakang dan sedikit terbelalak. "...sepertinya ada yang belum tuntas dan harus kita selesaikan." "Leonardo, aku..." sela Brielle yang masih terkejut dan menatap pria di depannya yang tersenyum tipis ke arahnya. "Kalau kau mau mengobrol di sini tidak masalah, aku terima. Asalkan alasanmu meninggalkanku jelas, Brielle. Harus dibuktikan kalau tempat bukanlah suatu alasan untukmu susah menjelaskan semuanya." "Aku merasa semua sudah selesai. Kau seharusnya tahu kalau Naomi sangat mencintaimu dan melebihi cinta yang kuberikan untukmu, Nard." "Apa karena kau sendiri sudah tahu bahwa Leonathan kakakku, jadi kau lebih memilihnya daripada aku yang lebih dulu mencintaimu?" Brielle sontak menggelengkan kepalanya. "Bilang saja kalau perasaanmu padaku bukanlah sebuah keseriusan." Leonathan tersenyum miris. "Apa selalu mudah bagimu meninggalkan orang-orang yang cinta padamu ... Brielle Putri Adiharja?" "Aku minta maaf sebanyak-banyaknya, tapi bukan itu maksudku, Nard. Semua sudah kupikirkan baik-baik." "Tapi nyatanya tidak baik bagi beberapa pihak, termasuk aku yang susah melupakanmu." Brielle sontak mundur beberapa langkah kala sepasang tangan Leonardo ingin menggapai tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN