Kebohongan Lagi

1137 Kata
Beberapa menit berlalu, namun Leonathan masih saja terjaga. Lelaki itu memang terlihat menutup mata, tetapi pikirannya tidak bisa berhenti mengingat ucapan Alice di telepon. Seakan terus terngiang di telinga dan memaksanya untuk berpikir baik-baik mengenai keberangkatannya ke Bali sebentar lagi. Ya, dia baru saja mengangkat panggilan masuk sahabat lamanya. Bukan kebohongannya pada sang wanita saja yang dipikirkan, tapi ia terlanjur mengiyakan permintaan Alice. Bodohnya ia terlanjur setuju karena fokus pada Abigail, tanpa memikirkan betapa senangnya wanita itu jika dia kembali ke Bali. Leonathan sudah mengatakan bahwa dia akan ke Bali kira-kira satu minggu lagi. Pria itu bahkan meyakinkan Alice bahwa dirinya sungguh-sungguh merindukan Abigail. Leonathan pun mengatakan kalau ia tak main-main, berjanji akan menengok anak perempuan yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu walaupun hanya bisa di sana beberapa hari saja. Sayangnya, setelah melihat lagi wajah Brielle dan Elnathan, Leonathan tidak tega untuk meninggalkan dua orang tercintanya. Akankah dia berangkat minggu depan? "Sial!" umpatnya karena pusing memikirkan tugas dan tanggung jawab yang tidak kecil, sampai harus mengerjapkan mata lagi. Leonathan semula tidur telentang, kini menghadap ke samping kiri sambil membuka mata. Dilihatnya dua orang paling disayangi secara bergantian. "Aku tidak bisa bahagia di sini seratus persen, sementara di sana ... malaikat kecil sedang menangis karena menanti kedatanganku," ungkap Leonathan pada angin, sangat lirih. Dengan mantap, tangan kanannya meraih kepala Elnathan. Secara otomatis, bocah itu merespons dengan mendekatkan tubuhnya pada sang ayah. Leonathan melirik Brielle yang terpejam, dan terpanggil untuk melayangkan sebuah kecupan lama di dahi wanita itu. "Aku tidak tahu penilaianmu setelah tahu aku berbohong, tetapi aku berharap kau akan mengerti. Aku melakukannya untuk anak yang tidak berdosa, bukan Alice." Diusapnya pipi Brielle cukup lama sebelum melanjutkan, "percayalah ... hanya kau wanita yang aku cintai, Elle." Mencium lagi kening Brielle. Sesudah itu ia kembali berbaring seraya memeluk anak laki-lakinya cukup kencang. "El tetap anak kesayangan Papa," tegasnya tanpa kebohongan. Kemudian bangun, karena tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Leonathan pun turun dari kasur dan terpaksa harus ke dapur. "Tidak ada yang bisa kulakukan selain menuruti perintah Alice. Satu minggu saja, tetapi rasanya berat bagiku meninggalkan kalian," ungkap Leonathan begitu segelas air mineral sudah ada di tangannya. Hanya butuh lima menit seharusnya, tapi lama di dapur untuk duduk-duduk. Menenangkan diri agar ketika sampai di kasur nanti dirinya bisa langsung tidur. Berat baginya untuk menutupi kedekatannya dengan Abigail pada sang kekasih. Kepalanya kini tertunduk lemas sembari mengarah pada gelas yang isinya tinggal setengah saja. "Berat bagiku untuk terbuka padamu, Elle..." lirihnya sebelum memasukkan air bening itu ke dalam mulutnya secara keseluruhan. Akhirnya setelah lebih dari setengah jam di dapur, Leonathan memutuskan masuk lagi ke kamar. Dengan langkah gontai ia menaiki tangga. Lengannya yang tertutup kaos hitam itu tampak berotot, namun itulah yang membuat sang pemilik terkekeh. "Apa aku seperti suami-suami takut istri?" Melihat badannya yang gagah, ia merasa lucu sendiri karena teramat menghargai perasaan wanitanya. "Aku semakin percaya jika cinta mampu mengubah segalanya," gumamnya lagi sebelum benar-benar membuka pintu kamar. "Aku kira kau akan terbangun karena aku tidak ada di ranjang bersamamu," sambil tersenyum kecil, ketika ditengoknya Brielle yang tampak pulas. Merangkak ke tempat tidur dengan hati-hati dan menidurkan badannya. Barulah Leonathan berusaha untuk tidur seperti kedua makhluk paling cantik dan tampan di kasur bersamanya. Tak lupa memakaikan selimut dengan benar. Leonthan yang sepasang netranya telah terpejam, seakan diminta untuk kembali melihat sekitar ketika mendengar namanya dipanggil. Hitungan pertama, kedua, ketiga, sampai keempat ia masih bersikeras untuk pura-pura tuli dan enggan membuka mata. Namun, pada hitungan ketiga pun ia tak kuat lagi. "Ada apa, Elle? Aku sudah mengantuk, kau butuh sesuatu?" tanya Leonathan yang ngantuk sekali. "Aku mau kau memelukku." Saat itu juga Leonathan menatap Brielle heran. "Sesuai janji, aku akan memelukmu. Kau bisa memindahkan Elnathan sekarang." "Kau yakin? Ini sudah pukul dua lebih. Beberapa jam lagi sudah pagi, Elle." "Yakin." Bukannya keberatan, tapi Leonathan justru kasihan dengan anaknya kala dipindah berulang kali. "Aku tidak masalah jika belum bisa merasakan pelukanmu sepanjang tidur. Asalkan, anak kita tidur nyenyak dan nyaman. Pikirkan juga dirimu, tidurlah ... kau butuh mengistirahatkan tubuhmu supaya kakimu cepat sembuh, Honey." "Baiklah. Selamat malam Nathan, aku mencintaimu." *** Bukannya manusia bisa berubah? Masalah kedalaman hati siapa yang tahu kalau bukan orang itu sendiri dan Sang Pencipta? Begitu juga dengan kelakuan Leonathan yang sekarang. Bukannya langsung ke tempat kerja setelah mengantar anaknya ke PAUD, ia tetap kukuh balik ke rumahnya. Padahal Brielle sudah meminta tolong pada Naomi untuk ke rumah siang nanti. Tentunya untuk memasak sesuatu dan menemaninya selagi Leonathan bekerja. Leonathan yang sudah menyiapkan satu buket bunga mawar merah, mengambilnya dari kursi di sampingnya sebelum keluar mobil. Makin memantapkan langkah kakinya setelah melewati pintu utama. Ia tahu, Brielle tidak akan keluyuran ke mana-mana. Karena itu, tujuannya pasti kamar tidur mereka. Sampai di dalam, Leonathan bisa melihat pintu balkon terbuka. Tampak tubuh bagian belakang seorang wanita dari jendela. Ia sedang duduk di kursi balkon. "Hai, Honey..." sapa Leonathan masih dengan menyimpan sebuket bunga mawar di belakang punggung berbalut kemeja hitam polos. "Malas kerja?" tanya Brielle yang enggan bertele-tele. "Bukannya aku enggak suka kau di sini, tapi pekerjaanmu juga penting." "Kesehatanmu jauh lebih penting, dan aku ingin memberikanmu sesuatu agar semangatmu lebih menyala. Supaya aku juga bisa melihat senyummu lagi, bukan wajah masammu itu." "Apa?" "Berjanjilah, sesudah mendapatkan hadiah dariku kau mau mengucapkan selamat pagi dengan memberiku ciuman." Karena Brielle bangun kesiangan dan hanya memberikan pelukan saja, sebelum Leonathan dan Elnathan pamit pergi tadi. Brielle pun menghembuskan napas seraya mengangguk. Kemudian tersenyum tulus setelah Leonathan memerintahnya untuk menutup mata. "Buka sekarang." Brielle tak bisa menahan senyum lebarnya ketika buket besar di depan mata dan Leonathan sudah berlutut. "Hadiahku jangan lupa," imbuh lelaki itu tanpa malu. "Terima kasih," sahut Brielle sembari menerima buket bunga mawar cukup besar seharga satu juta rupiah itu. "Meskipun aku bisa melihatnya waktu kau masuk ke sini," tambahnya terkekeh. "Jadi kejutanku gagal?" "Ya, sedikit." Sesuai perjanjian, mereka pun melakukan pertemuan bibir di balkon dengan burung-burung di langit yang menjadi saksi kemesraan mereka. Hanya sebentar saja, namun mampu menggetarkan jantung keduanya. "Sekali lagi terima kasih hadiahnya." "Elle, aku harus memberitahumu." "Tentang apa?" tanya Brielle setelah menghirup dalam-dalam bunga pemberian kekasihnya seraya menatap Leonathan tanpa berkedip. "Apa itu sangat penting?" "Beberapa hari lagi aku harus ke Bali untuk melihat perkembangan kafe dan kinerja seluruh pegawaiku di sana, apa kau keberatan di sini tanpaku selama satu minggu?" "Kalau itu harus terjadi, aku bisa menerimanya," balas Brielle seraya tersenyum manis yang membuat Leonathan merasa lega. Lelaki yang sudah berdiri itu merasa kaget sekaligus bisa bernapas dengan teratur. Senyumnya bahkan sudah mengembang dan tangannya terulur untuk membawa tubuh Brielle agar masuk ke dalam dekapannya. "Aku sangat beruntung memiliki calon istri sepertimu, Elle." "Hem, bisa saja." Dipukulnya d**a bidang Leonathan hingga pria itu memekik berlebihan. Padahal pukulannya tak terlalu kencang. "Kau cepatlah sembuh, aku tidak ingin mendengarmu meringis kesakitan jika kakimu tidak sengaja disenggol." "Iya. Mungkin dua hari lagi sudah sembuh total."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN