"Perjanjian yang menguntungkanku atau hanya dirimu, Elle?" Brielle melepas lingkaran tangan Leonathan dan berusaha mundur dengan hati-hati, merubah posisi duduk yang semula bersandar menjadi tegak. Kemudian mengembangkan senyuman yang membuat pria itu mendadak memiliki firasat buruk. "Aku tidak ingin rugi."
"Heiii...! Aku juga enggak mau rugi, Nathan! Kau kira aku untung terus kalau diserang bibirmu?"
"Itu sudah pasti," jawab papa satu anak itu sambil mencondongkan tubuhnya ke Brielle. "Menciumku pun sudah menjadi tanggung jawabmu sebagai kekasihku." Wanita yang diamatinya itu lantas memutar bola mata dan menghembuskan napas panjang, Leonathan tahu Brielle muak. "Fakta berkata begitu, Honey ... jika bukan dirimu, aku harus mendapatkannya dari siapa? Tidak mungkin minta Naomi, bukan?" Melihat ekspresi Brielle yang berubah drastis, Leonathan terkekeh pelan. "Tidak, aku cuma bercanda. Mana mungkin aku mengkhianati cinta terakhirku?"
Setelah mengatakan itu Leonathan tak membiarkan Brielle menjaga jarak darinya. Diraihnya lagi tubuh molek sang kekasih dan mengikatnya dengan sepasang tangannya sendiri. "Enggak akan jadi masalah besar kalau kau mau mencium sahabatku tapi, biarkan aku hidup bersama El saja. Tanpa ada dirimu."
Leonathan berdecak kesal. "Ancamanmu selalu saja seperti itu, tidak main-main ... seperti diriku yang tidak ingin bermain-main denganmu dalam hubungan kita sekarang. Dari jawabanmu tadi terbukti bahwa kau sendiri yang berusaha untuk terlihat tidak cemburu dan selalu menutupi gengsimu."
"Lupakan sifatku! Ternyata kau cerewet sekali, ya!"
"Hanya padamu."
"Huh! Yang sudah berlalu biarkan saja! Kau terus mengungkitnya!"
"Masalahnya belum selesai, dan akan terus berlanjut karena itulah karaktermu ... sifat aslimu. Tetapi santai saja, kau tidak perlu cemas, Elle. Aku suka apapun yang alami dari dirimu."
Leonathan sedari tadi berkata seraya membelai rambut sang wanita berulang-ulang. Sebuah senyum juga terukir walau Brielle menggunakan nada orang emosi. Kini Leonathan bisa menangkap binar bahagia di mata sang kekasih meskipun tidak terlalu terang. Pria itu menebak bahwa wanitanya terkejut sekalian takjub pada ucapannya barusan.
"Kau...?"
"Apa aku harus bilang sekali lagi, aku mencintaimu karena tertarik padamu dari awal melihat mata cantik dan wajah manis ini?" selanya bersama bibir menunjukkan senyuman lebar. "Aku mengatakan yang sebenarnya." Ia tak berhenti memantau sepasang mata cokelat gelap, persis di depannya itu. "Lalu, apa perjanjian yang kau inginkan?" tanyanya masih tersenyum.
"Pertama, jangan pernah melakukan hal gila padaku, seperti contohnya menggodaku dengan belaian ataupun yang lebih parah dari itu," jelasnya singkat karena Leonathan sudah mengangkat tangannya ingin mengajukan pertanyaan seperti anak sekolahan. "Ya?"
"Godaanku apakah masih bisa diterima, Honey?"
"Mungkin harus aku pilah dulu. Kalau masih bisa aku terima, kau tidak akan mendapatkan hukuman." Leonathan mengangguk singkat dan menyetujui perjanjian pertama dengan mudahnya tanpa ingin tahu hukuman apa yang akan diterimanya jika melanggar. "Untuk perjanjian kedua, tidak ada sentuhan melebihi batas yang aku tentukan. Kalau berani melanggarnya, tentunya kau dapat hukuman."
"Oke, aku terima. Masih ada lagi?"
"Ini yang terakhir ... aku enggak mau menikah bersamamu dalam waktu dekat." Leonathan sudah siap menyambar, namun Elle menahan bibirnya agar tak mengeluarkan bantahan atau pernyataan dulu. "Keputusanku masih sama, harus mengenalmu lebih lama lagi, Nathan." Dari nadanya pria berkaos hitam itu tahu bahwa Brielle memohon dengan sungguh. "Jadi, jangan pernah mengajakku menikah sebelum aku sendiri yang menyinggung hari itu tiba," putusnya lalu mempersilakan Leonathan berbicara, dan dia mulai kembali mencicipi minuman lezat buatan sang pria.
"Jadi perjanjian ini ada tiga poin yang menguntungkan kita, Elle?" Brielle manggut-manggut sambil meneguk minuman cokelat di tangannya.
"Baiklah, yang pertama ... aku ingin kalian berdua tetap tinggal bersamaku. Apapun yang terjadi padaku atau masalah menimpaku, aku ingin kau dan Elnathan setia mendampingiku."
Brielle mendengarkan dengan baik. "Kedua, aku ingin kita berdua sama-sama melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang dan berusaha menjadi lebih dewasa. Ketiga, aku ingin pelukan di setiap malam sampai pagi menjelang," terang Leonathan dalam satu tarikan napas.
"Kau menerima ketiganya?" sambungnya yang membuat wanita di samping itu tak berkedip, bahkan tak lagi meminum minuman enaknya.
"Poin yang kedua," jawab Brielle dan diiyakan sang pacar. "Apa aku terlihat belum dewasa?"
"Tidak, bukan itu." Leonathan tertawa dan buru-buru meredamnya. "Tetapi yang kumaksud adalah jika kita dihadapkan pada masalah berat. Ada lagi?"
"Sepertinya enggak ada yang berat." Leonathan membenarkan meskipun saat ini senyumannya langsung menghilang dan menerawang jauh. "Jadi aku juga menerimanya, aku enggak keberatan.
"Deal?" tanya Leonathan setelah mengenyahkan pikirannya dari wajah menggemaskan dan mungil Abigail serta panggilan Alice yang mengganggu.
"Deal!" seru Brielle sambil menutup mata dan tersenyum. Keduanya pun tak hanya saling berjabat tangan, melainkan berpelukan. "Habiskan minumanmu, setelah itu kita tidur. Aku sudah mengantuk." Leonathan mematuhi permintaan wanitanya hingga segelas minuman cokelat itu benar-benar tandas.
***
Tanpa Leonathan sadari, Brielle yang tadinya tertidur di atas ranjang sudah terbangun. Wanita itu menyandarkan punggungnya seraya menoleh ke Leonathan yang baru masuk dan menutup pintu. "Kau terbangun?" suara pria itu mencoba tenang setelah terkesiap dengan tangan meremas selulernya.
"Aku mau melihat dan memeluk El. Dari sore kemarin aku belum melihatnya lagi, dimana dia tidur?"
"Ada di kamarnya, di sebelah kamar kita. Kau ingin ke sana?"
"Bawa saja El ke sini." Leonathan dengan tersenyum kaku memutar badannya. Begitu ingin menggapai handle pintu di hadapannya, Brielle bertanya seperti yang sudah ia duga sebelumnya. "Kau dari mana? Menerima telepon dari seseorang?" tanya sang kekasih dan diputarlah tubuhnya hingga menghadap ke arah Brielle. "Ternyata benar," imbuh Brielle usai melirik benda pipih pada genggaman Leonathan.
"Ya, ada yang harus aku bicarakan."
"Soal rekan kerjamu yang kemarin menelepon?" Leonathan menggerakkan kepalanya naik-turun. "Oh ... ya, sudah. Aku cuma tanya, bisa bawa El ke sini?"
Leonathan pun bergegas keluar dari kamar mereka dan menghampiri pintu di ruangan sebelah. Senyumnya terbit saat melihat bocah yang cukup mirip dengannya itu bergelung di bawah selimut. Diangkatnya Elnathan penuh waspada, lalu angkat kaki dan tak lupa menutup pintu kamar sang anak.
"Percuma aku menyiapkan kamar El jika kau ingin tidur bersamanya."
"Kau cemburu?"
"Ya, dia sudah tidur bersamamu setiap malam selama tiga tahun." Brielle menarik sudut bibirnya, menyunggingkan senyuman kecil. "Sementara aku selalu kesepian tanpa pelukanmu. Jika ingin pun harus menunggu persetujuanmu."
"Oke, aku janji ... akan lebih sering memelukmu mulai perjanjian kita dibuat."
Leonathan ikut berbaring di kasur dan turut melingkarkan tangannya di tubuh Elnathan. "Hati-hati dengan kakimu, Honey." Brielle mengangguk dan kembali memejamkan mata. "Selamat malam," ucap Leonathan sebelum mengecup puncak kepala Brielle dan Elnathan.
"Nathan?" panggil wanita yang tak jadi melanjutkan tidurnya. Sang pemilik nama menoleh ke arahnya seketika.
Leonathan yang melihat ekspresi datar Brielle mendadak gusar. Terlebih lagi tatapannya menjadi lebih tajam dari sebelumnya. Apa wanita itu tahu kalau dirinya sudah berbohong? Sepertinya tidak. Tapi Leonathan heran kala wanitanya sudah mengumbar aura berbeda. "Ya, ada apa?"
"Nanti, saat kau mengantar dan menjemput Elnathan, jangan pernah mendekati ibu-ibu seperti kebiasaanmu!" Mendengar perintah itu Leonathan tak bisa untuk tidak terkejut. Refleks dia membuka mulutnya dan duduk dengan tegap, hal itu pun membuat Brielle melipat bibirnya sebelum melanjutkan lagi, "Aku enggak suka." Sesudah mengatakan isi hatinya, barulah Brielle berusaha masuk ke alam bawah sadar.