Memang benar jika Alice rekan kerjanya, dulu. Tidak salah bila Leonathan berkata seperti begitu, hanya saja untuk detik ini sahabat perempuannya itu sudah tidak ditugaskan lagi. "Aku tidak bisa berterus-terang padamu sekarang, maaf..." batinnya seraya mengikatkan dasi di kepala belakang. "...karena hubungan kita belum sepenuhnya membaik," sambung Leonathan yang sepasang matanya sudah tertutup oleh dasi hitam. Ya, Leonathan cukup takut kalau membahas Alice beserta Abigail, ia belum siap.
"Baru boleh lepas baju dalamku sekarang," Brielle mengatakannya setelah melihat dasi di kepala Leonathan terpasang dengan sangat baik. "Tapi tunggu! Celanamu basah! Ganti dulu di kamar mandi!"
"Kau yang sakit, bukan aku. Akan lebih baik jika aku menanganimu lebih dulu, Elle. Lupakan celanaku yang basah, aku tidak akan demam karena ini."
"Ya sudah kalau itu maumu." Kemudian Brielle meraih tangan kanan Leonathan perlahan dan membawanya ke pundak. "Sekarang turunkan jarimu sampai punggung, cari pengaitnya, dan tolong lepaskan kaitan itu," pinta Brielle hati-hati sebelum menggigit bibir bawahnya, malu. Bisa-bisanya dia menuntun Leonathan melakukan hal bodoh semacam ini.
Leonathan cuma berdeham singkat bersama jari-jarinya meraba ke punggung sang tambatan hati. Dadanya kian naik-turun kala menyapukan kulitnya sendiri ke punggung Brielle. Sangat menguji iman meski matanya tak bisa melihat. "Ini konyol, Elle. Mengapa kita harus seperti ini, jika aku sendiri pernah melihat tubuhmu sebelumnya."
"Kau sudah tahu alasannya! Jangan banyak tanya, cepat kerjakan saja!" perintah Brielle yang sudah menahan diri untuk tidak lari sekencang mungkin sekarang. Meski tahu Leonathan tidak bisa melihat punggungnya, tetap saja dia bisa merasakan usapan lembut dan pergerakan jemari pria itu.
Butuh waktu kurang lebih tiga menit untuk melepas dan memasang baju dalam Brielle yang baru. Kini yang paling mendebarkan sudah di depan mata, Leonathan harus hati-hati melepaskan celana dalamnya karena dua pergelangan kaki penyiksa Brielle. Leonathan sudah berjongkok di depan lutut sang wanita. Sekuat mungkin menenangkan diri kala tangannya melewati paha, kemudian betis Brielle.
"Kau benar-benar bikin aku emosi!" amuk Brielle begitu celananya yang basah lolos, dan Leonathan sudah menggenggam celana dalam merah menyala.
"Mengapa begitu? Aku melakukan satu kesalahan?"
"AH, SUDAHLAH! LUPAKAN!" sembur Brielle yang mukanya sudah merah padam, serasi dengan warna pakaian dalamnya.
"Bilang saja jika aku menyenggol pergelangan kakimu." Leonathan yang panik pun memakaikan kain segitiga merah itu dengan sangat telaten. "Apakah masih sakit, Elle?"
"Masih sakit, tapi bukan itu yang membuatku emosi! Lupakan saja," balas Brielle yang sudah mengatupkan mata begitu tangan Leonathan sudah melewati kaki bawahnya dan kini berjalan naik. "Lebih cepat lagi! Aku sudah kedinginan!" alasannya ini ditanggapi Leonathan dengan anggukan. Setelah semua rampung, barulah keduanya sama-sama membuang napas panjang, dan terengah-engah.
"Apakah menurutmu aku lolos melawan godaan?" Brielle hanya mengangguk sambil menunjuk koper, karena dia belum berpakaian lengkap. "Ya, aku ambilkan pakaianmu. Tunggu sebentar." Sesudah itu Leonathan menaruh satu tangan di atas kepala Brielle dan mengusapnya. Kemudian mencium sekilas. "Lain kali kau lebih waspada. Aku benci jika melihatmu meringis kesakitan." Tersenyum manis dan dibalas sang wanita dengan sebuah senyum kecil.
Leonathan pun berjalan ke koper lagi dan mencari satu gaun rumahan milik Brielle yang panjangnya di atas lutut. Tepat sesudah lelaki itu membuka lipatannya, ia mengangkatnya. "Ini tidak masalah?" tanyanya yang disetujui sang empu dan kembali menghampiri Brielle. "Setelah memakainya, aku akan memanggilkan dokter. Tidak masalah jika makan di rumah, bukan?" sambil memasukkan lubang kerah ke kepala Brielle yang sedikit menengadah.
"Pastilah, enggak mungkin aku keluar dengan keadaan begini."
"Apa benturan di lantai tadi sangat keras?"
"Ya, nyeri sekali, sakit. Mungkin aku belum bisa mengurus El."
"Biar aku yang mengurusnya, kau tidak perlu cemas." Setelah melihat pakaian Brielle terpasang dengan rapi dan baik, Leonathan tak tahan untuk menyambar bibir menggiurkan di depan mata. Cukup singkat karena dia tahu Brielle belum siap. "Aku carikan dokter dan makanan sekarang, berbaringlah," bisik Leonathan lembut dan mendamaikan.
"Terima kasih, Papa El."
Hatinya menghangat mendengar itu, sebagai tambahan ia mencium kilat pipi dan bibir Brielle. "Tidak masalah, Honey." Ia lantas mencari pakaian di depan lemari hitamnya. Memilah-milah hingga menemukan kaos lengan pendek dan celana hitam selutut. Kepalanya menoleh sebentar ke arah Brielle yang sudah bersandar pada kepala ranjang.
"Em, kalau bisa jangan lama-lama. Aku bosan di kamar sendirian."
Leonathan yang hampir masuk ke kamar mandi itu menoleh. "Bilang saja jika kau takut merindukanku."
"Percaya diri sekali!" balas wanita itu tertawa kecil dan mendapat gelengan kepala dari sang kekasih, sebelum pria itu masuk dan berganti pakaian.
***
"Tidak ada masalah yang serius, cukup obatnya diminum. Kalau tidak mau minum obat, bisa mengompresnya menggunakan es sekitar lima belas sampai dua puluh menit setiap dua jam sekali," papar sekaligus pesan sang dokter berumur itu sembari berdiri mengambil kotak P3K milik Leonathan yang sudah disiapkan di atas nakas. "Kalau pasang perban jangan terlalu ketat karena bisa menghambat sirkulasi darah. Tidak baik juga untuk kondisi Ibu." Brielle yang sedikit meringis itupun berterimakasih setelah pekerjaan sang dokter rampung.
"Kesembuhannya bisa berapa hari lagi, Dok?"
"Kemungkinan baiknya untuk keseleo ringan seperti ini cuma butuh waktu beberapa hari saja, biasanya nyeri akan hilang setelah tiga hari." Leonathan mengerti dan menepuk pundak Brielle agar lebih semangat. "Saya pamit, Pak, Bu," ucap sang dokter yang menjabat tangan Leonathan dan Brielle bergantian. Leonathan ikut keluar kamar setelah menyambar bibir merona Brielle sekilas, kemudian menyamai langkah kaki sang dokter.
Hanya keluar sebentar, masuk ke kamar mereka berdua dengan dua gelas cokelat s**u di masing-masing tangannya. Leonathan tersenyum ketika Brielle menatapnya heran. "Sejak kapan kau membuatnya?" tanya wanita itu yang diyakini Leonathan kalau Brielle menyukai perhatian kecil semacam ini. Apalagi wanitanya tengah kurang sehat.
"Sebelum doktermu datang. Minumlah selagi hangat, Elle." Pria itu menyuruh dengan meletakkan gelasnya di nakas sebelah kiri ranjang. Sementara gelas di tangan kanan ia berikan untuk wanita yang menatap penuh kekaguman. "Aku tahu, perlahan kau menyadari bahwa akulah pria idamanmu selama ini, benar begitu?" tanyanya seraya naik ke ranjang dan berakhir memeluk pinggang Brielle.
"Terima kasih untuk minumannya."
"Selalu mengalihkan kalau tebakanku benar?" Mengangkat bahunya, Brielle lebih menyibukkan tenggorokannya, dibasahi oleh minuman manis nan hangat dalam gelas di tangan Leonathan. Ya, karena pria itu tak mau Brielle kerepotan. Sembari Brielle minum, Leonathan sibuk mengelus pinggang dan menjalar ke punggung bawah kekasih hatinya. "Pijatan Papa El dijamin membuatmu tidur lelap," katanya kemudian. "Ingin aku melakukan ini sampai kau tertidur?"
"Gratis atau berbayar?"
"Bayar. Menggunakan bibirmu." Leonathan tertawa kencang begitu Brielle menyipitkan mata dan menarik hidung mancungnya. "Daripada mencubit hidungku dan menariknya, bukankah lebih romantis kalau kau mengecupnya?"
"Jadi, semua perhatianmu itu ada bayarannya?!" cibir Brielle dengan mulut yang sudah maju beberapa sentimeter. "Dasar buaya pelit!"
Leonathan mengulum senyum. Dipeluknya Brielle erat-erat dan mengendus leher wanita itu. Begitu sudah puas menciumi wangi kopi dari tubuh sang kekasih, Leonathan lanjut memijat bawah punggung serta bagian leher dengan lembut dan penuh perasaan. "Tidak mungkin aku meminta bayaran padamu, Elle. Tetapi, jika sebuah hadiah yang kau maksud ... tentu, aku menginginkannya."
"Oke, kalau kau masih mau minta hadiah. Kita buat perjanjian saja yang sama-sama menguntungkan." Leonathan lantas menatapnya lekat. "Bagaimana? Kau setuju?"