Kebohongan Pertama

1166 Kata
Pintu kamar mandi akhirnya berhasil didobrak, dan detik itu juga Leonathan mengernyit bingung. "Mengapa kau masih memakai baju yang sama?" tanyanya sembari meraih tangan kanan dan melingkarkan tangan lainnya di pinggang Brielle. "Apa kau belum mandi?" tanya Leonathan menambahkan. "Ya, a-aku belum man-di." Leonathan yang tadinya ingin membawa Brielle pun mengurungkan niatnya. Ia berpikir sejenak, dan beralih melihat wajah sang wanita. Pria itu menyipitkan mata dan tertawa pelan sebelum kembali mengajukan pertanyaan, "Apa kecerobohanmu kali ini ada sangkut-pautnya dengan mimpi liarmu?" "Kau ... kau tahu mimpiku?!" seru Brielle yang langsung mendorong kekasihnya. "Lupakan saja, aku tidak keberatan kalau kau memimpikan hal yang membuatmu terangsang. Asalkan akulah pasanganmu." Brielle lebih enggan menanggapi dan menunduk malu. Mengetahui bahwa wanitanya tersipu, Leonathan mencairkannya dengan pertanyaan konyol yang tentunya dibenci Brielle. "Kau ingin mandi sendiri atau aku mandikan?" Belum sempat mendapat dorongan lagi, Leonathan segera membopongnya. "Tunggu, buang pikiran negatifnya, Elle." Brielle memegang leher lelaki bermata biru itu seraya mendongak dan menunjukkan ekspresi kesal. "Mulutmu yang selalu lupa disaring, jangan menyalahkan pikiranku!" "Sempat bilang jika kakimu sakit, apa tak menjadi masalah kau mandi sendiri? Kau sanggup, Elle?" Kini otak Brielle yang berputar dan ia membenarkan perkataan Leonathan. Tapi mana bisa dia membiarkan pria itu memandikannya? Meskipun latar belakangnya sudah jelas, kedua kakinya terbentur lantai sehingga sulit berdiri dengan tegak. "Kau bisa memakai pakaian dalam jika takut aku berperilaku tidak sopan," saran lelaki berlengan kencang itu serius tanpa memiliki unsur jorok dalam otaknya. Pria tampan ini tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk menggoda Brielle. "Kau boleh menamparku atau memukulku kalau tanganku nakal, Elle." "Tidak, bukan itu yang akan aku lakukan, Nathan." "Lalu?" Dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya, Brielle menjawab enteng tapi tidak bercanda, "Aku akan mengusirmu dari rumahmu sendiri." Leonathan lantas terbahak mendengarnya dan tetap menutup pintu, menendangnya dengan satu kaki meski sudah tahu pintu itu tidak bisa dikunci lagi. "Oke, lakukan semaumu. Aku terima perlakuan apapun dari kekasih manisku ini. Sekarang waktunya kau mandi agar kita bisa segera makan malam, Honey..." bisiknya dengan satu tangan membuka kancing terusan Brielle, sementara tangan kirinya membaringkan tubuh langsing tersebut di atas bak mandi. Suasana tegang begitu kentara menyelimuti dua insan yang berada di dalam ruangan serba putih nan wangi ini. Terlebih lagi Leonathan yang sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak berlaku menyimpang. Meski godaan di depan mata, tangannya setia menggosok punggung Brielle dengan baik. "Kulitmu ... halus." "Hem," balas Brielle sembari menggosokkan tangannya di tubuh bagian dengan satu tangan karena tangan kanannya sedikit nyeri jika digerakkan. "Aku suka warna kulit gelap seperti milikmu saat pertama melihatmu dulu. Jujur, ini alasan keduaku menyukaimu." Dikecupnya punggung mulus yang baru saja dibilas itu sebanyak tiga kali. "Ooh," singkat sang wanita karena bingung ingin berkomentar apalagi, tapi yang jelas dia tak bisa menyembunyikan senyum kecilnya. "Sudah selesai, sekarang kakimu." Brielle mengangguk dan membilas tubuh depan seperti perut dadanya pelan-pelan. "Aku juga menyukai kakimu yang tidak terlalu panjang. Tingginya orang Indo membuatku tertarik setelah menerima tolakan cinta, Elle." "Benar itu? Seorang Leonathan pernah ditolak sebelumnya?" "Ya, selain ditolak dirimu aku pernah ditolak sahabatku sendiri. Tetapi diriku yang lama sudah pergi." Leonathan berkata dengan sepasang tangannya yang hati-hati membersihkan kaki Brielle menggunakan sabun cair miliknya yang biasa ia pakai. "Jika sampai detik ini kau menolakku, aku lebih baik pergi dari dunia ini." "Berarti kalau aku tidak pernah menerimamu sampai kapanpun kau juga akan melakukan hal bodoh itu?" "Ya, kau benar Honey," sahut Leonathan seraya membilas kaki Brielle yang sudah wangi dan bersih. "Ngomong-ngomong, kau sangat seksi. Brielle mendelik dan wajahnya mulai panas. "Jangan berani-beraninya berkomentar yang mengarah ke mana-mana!" resah Brielle memberikan peringatan, karena di dalam sana detak jantung tak bisa dikondisikan. "Aku hanya memuji tubuhmu, apa salahnya?" "Selesaikan tugasmu, Nathan! Aku sudah enggak sabar mau cepat-cepat keluar dari sini!" merengek karena teramat kesal oleh mulut Leonathan. "Memang seharusnya aku mandi sendiri saja walaupun selesai satu jam!" "Tinggal mengguyur tubuh cantikmu ini di bawah shower, Honey. Bersabarlah sedikit lagi," sambung Leonathan yang tergiur untuk menggoda. Setelah itu, ia benar-benar menerima jotosan di perutnya saat ingin mengangkat tubuh Brielle. "Aku cuma bercanda." "HAHA! LUCUNYA!" "Karena lucu, bolehkah aku minta hadiah?" Brielle mengangkat kedua alisnya meski merasa pria ini akan meminta yang tidak-tidak. "Itu, satu ciuman saja, boleh?" sambil melirik dua belah bibir Brielle. "Ini! Balaslah ciumanku!" pekik Brielle seraya membekap mulut Leonathan dengan satu tangan. Bukannya marah atau membalas perbuatan pujaan hatinya, Leonathan justru tertawa-tawa sambil membawa tubuh berkulit sedikit gelap kecokelatan itu ke gendongannya. Mengantarkan dan berdiri di bawah pancuran air, mulutnya masih dibekap kuat, dan mau tidak mau Leonathan harus ikut membasahi tubuhnya yang terbuka pada bagian atas saja. "Andalanmu selalu mencium, enggak bosan?!" sembari menarik tangan dari bibir seksi Leonathan karena telapak tangannya yang diciumi. "Selain olahraga, menciummu juga hobiku, Honey...." "Berarti memukulmu adalah hobiku," balas Brielle yang mampu menggali tawa Leonathan lebih dalam. Keduanya pun menghabiskan waktu lima menit untuk berdiri di bawah pancuran air. Brielle menatap Leonathan dengan mulut terkunci rapat, sedang lelakinya memandang sembari menarik sudut-sudut bibir. "Aku siap menerima banyak pukulan, asalkan kau siaga menerima ratusan ciumanku setiap hari ... deal?" Sontak saja Brielle menutup wajah pria keturunan Amerika yang masih menopang tubuhnya ini lalu teriak, "SATU HAL YANG PALING BISA MEMBUAT JANTUNGKU SENAM, YA, KEBIASAAN ORANG BARAT SEPERTIMU!" Di balik tangan Brielle, pemanis aura Leonathan terbingkai hingga tampak jelas guratan di dekat matanya, sumringah. "Jangan senyum! Mentang-mentang kau manis kalau senyum!" kemudian melepaskan. "Jadi bagaimana? masih bisa dapat ciuman?" pertanyaan itu hanya candaan sebelum Leonathan memutar badan dan membuka pintu kamar kecil yang masih memberikan sedikit celah. "Kau duduk di kasur saja, aku yang akan menyiapkan dan memakaikan pakaianmu," ujar Leonathan setelah ia berjalan ke arah ranjang. "Aku mau matamu ditutup saat melepas dan memasang pakaian dalamku." "Sebegitunya?" tanya pria sang pria yang sudah menuju koper. "Kalau enggak mau, ya, sudah. Aku bisa memanggil Naomi ke sini dan membantuku berpakaian." "Oke, aku terima. Tunggu di kasur, aku cari dasi dulu." Brielle mengangguk patuh. Sementara Leonathan membuka salah satu pintu lemari pakaian berwarna hitam, mencari dasi yang sangat jarang dipakai. Begitu dapat, ia menggenggamnya dan balik ke koper Brielle yang masih tertutup rapat dan anteng di dekat nakas. "Kau ingin memakai yang warna apa? Em, merah sepertinya bagus." "Berhentilah menggodaku! Ambil saja yang ada di tumpukan paling atas. Kalau sudah, tutup matamu!" Leonathan pun berdiri setelah menenteng sepasang baju dan pakaian dalam warna sesuai keinginannya, yang membuat Brielle harus ekstra sabar. Tetapi, di saat ingin menghampiri Brielle, suara panggilan masuk terdengar. Baik dirinya maupun sang kekasih pun menoleh ke ponsel yang terkapar di lantai depan kamar mandi. "Angkat dulu, siapa tahu penting." Leonathan setuju, begitu membungkuk dan meraihnya ia bisa melihat nama Alice. Dengan mudahnya dia menolak panggilan dan berjalan cepat ke arah Brielle. "Kenapa enggak dijawab?" "Cuma rekan kerja di Bali. Aku bisa menghubunginya setelah membantu kekasihku berpakaian. Aku tidak ingin kau kedinginan," sahutnya yang terdengar manis namun sedikit menahan emosi, menurut Brielle. "Kalau begitu tutup matamu sekarang!" sentak Brielle seketika sampai memundurkan jari-jari Leonathan yang sudah terulur ke punggung untuk melepas sebuah kaitan kencang di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN