"Apa? Kau masih mengelak dan menutupi sifat gengsimu sendiri?" Ditariknya pinggang Brielle dan menundukkan kepalanya sendiri dengan tangan kanan mengangkat dagu wanita ini. "Mengapa perempuan harus menjadi rumit seperti dirimu ini, Elle? Jika cemburu dengan mereka, kau bilang saja. Aku akan menghindar untukmu." Memberikan senyum manisnya, Leonathan mengelus puncak kepala Brielle dan sesudahnya melayangkan ciuman di kening wanita itu cukup lama.
"Oke, kalau begitu ... aku mau kau berhenti menjemput El, biar aku saja yang menjemput, bagaimana?"
"Ternyata sebegitu cemburunya dirimu?" Brielle mendengus dan memalingkan muka, juga berusaha menyingkirkan lengan kekar Leonathan dari pinggang rampingnya. "Baiklah jika itu yang membuatmu senang, dan tidak cemburu lagi, aku terima." Kemudian membawa tubuh Brielle ke dalam lengan kekarnya lagi dengan tangan lain menarik sebuah koper.
Jari-jari Brielle yang menganggur juga disibukkan dengan mengangkut koper lain yang masih berbaring di lantai. "Aku bawa yang itu," menunjuk pada koper yang semula dipakai Leonathan untuk mengemasi barang Elnathan dan diangguki pria yang menggiring tubuh langsingnya ini.
***
"Jalan ini bukan jalan ke rumahmu 'kan? Ini jalan yang beda, ya?" Leonathan menganggukkan kepalanya. "Sekarang kita akan ke rumahmu 'kan? Jangan menipuku! Kau mau membawa kita ke mana?"
Brielle masih celingukan memeriksa jalan yang dilalui mobil tumpangannya ini. Leonathan dengan santai mengiyakan sambil fokus menyetir. "Jadi ini bukan jalan yang sama, terus rumahmu yang mana? Kau punya banyak rumah, heh?"
"Tenangkan dirimu, sebentar lagi juga sampai, Honey..." jawab Leonathan enteng. "Istirahat saja, tidur seperti Elnathan," sembari mengusap-usap puncak kepala Brielle dan anaknya bergantian sebelum mengamati jalan raya lagi.
"Jangan bilang kalau kau mau pamer kekayaan!"
"Tidak," bantah sang pria. "Lagipula sejak kapan aku hobi memamerkan penghasilan dan barang-barang milikku, Elle?"
Brielle pun mengalah, ia memendam rasa penasarannya sendirian. Bukankah ini ciri-ciri bahwa Leonathan tidaklah orang biasa atau sederhana. Karena semakin ke sini, wilayah yang mereka lalui hanyalah rumah-rumah elite dengan minimal dua lantai. Meski dua lantai, balkon mereka begitu luas, berkelas, dan terlihat mewah karena dibatasi pagar ukiran. Meski pernah tinggal di rumah yang besar, Brielle tetap terkejut jika dirinya tinggal di rumah semacam itu karena bertahun-tahun sudah Brielle lewati dengan hidup serba sederhana.
"Jangan berpikir keras, kau akan tahu setelah kita sampai nanti, Elle."
"Apa ada kejutan untukku?"
Leonathan tersenyum lebar dan menyahut, "Ternyata calon istriku sangat percaya diri dan sok tahu." Dielusnya salah satu pipi Brielle yang dekat dengan tangan kirinya.
"Aku cuma menebak," elak Brielle sebelum menutup mulut dan matanya rapat-rapat. "Kalau tebakanku benar 'kan aku bisa bangga," imbuhnya sebelum benar-benar mendekap sang putra yang tertidur nyenyak. Sadar ada yang salah dari ucapan Leonathan, ia kembali mengerjapkan mata dan meralat, "Eh! Siapa yang mau jadi calon istrimu? Percaya diri sekali Anda! Lihat 'kan kau sendiri lebih percaya diri." Kemudian sungguhan ikut memejamkan mata bersama sang anak laki-lakinya.
Leonathan yang memerhatikan sekilas pun tertawa singkat. "Lain kali aku harus memberimu pelajaran karena terlalu gengsi, Elle." Apa susahnya mengaku kalau dia mencintai Leonathan? Memang wanita serumit itu dan sebagai laki-laki, Leonathan harus siap menanggung risiko menjadi kekasih seorang Brielle sang ratu gengsi.
Masih dengan mata terpejam rapat, Brielle merasa tubuhnya tengah diraba-raba. Semakin lama pergerakan itu menariknya untuk terus melanjutkan tidur meski sentuhannya kian terasa jelas dan bagian di dalam dirinya seolah mendamba, meminta lebih. Mengikuti arus jari-jari nakal di tubuh polosnya dan kian terasa, Brielle mendesau.
Kaki Brielle saling mengikat karena sentuhan yang semula ada di sekitar perut turun ke pahanya pelan-pelan seakan sengaja ingin membuat sang pemilik frustrasi dan meminta lebih. Begitu lihai, namun Brielle belum bisa membuka matanya karena ternyata sebuah kain terikat di kepalanya, menutupi sepasang netra Brielle yang sedang terpejam.
"Ini aku, relaks saja, Honey..." bisik sang pelaku sembari meraba bagian sensitif Brielle bagian atas dan bawah secara bersamaan sampai membuat wanita ini meraih apa saja di sekitarnya.
"A-apa yang kau ... laku-kan?!" seru Brielle dengan kepala mendongak dan tubuh yang sudah bergerak ke kanan-kiri. Pergelangan tangannya pun terkunci, diikat dengan sepotong kain juga yang membuat Brielle kian gugup dan di sisi lain tubuhnya meminta lebih. "Ini ulahmu, Leonathan?!" pekiknya lagi di saat sesuatu mulai masuk ke bagian dalam dirinya yang begitu sakral dan privasi bagi Brielle.
"Rasakan saja kenikmatan dariku, Elle," ucap Leonathan berat nan tajam dan mampu membuat tubuh Brielle menggeliat. "Anggap ini hadiah karena kau menerimaku..." lanjut Leonathan berbisik tepat di telinga Brielle dan menambah satu jari lagi hingga sang wanita memekik memanggil namanya seraya kepanasan.
Keringat membanjiri kening dan pelipis Brielle karena dalang di balik penggoda badannya memberikan banyak kenikmatan yang membuatnya terbuai. "Bisa lebih cepat? A-ku mau sam-pai," pintanya memohon.
Leonathan memiringkan bibirnya seraya mengamati tubuh Brielle yang tanpa busana itu sebelum mengabulkan permohonan sang wanita. Bibirnya menyerbu tempat yang menggiurkan untuk dihisap, bagian benda kembar yang bisa dimainkan sekaligus dirasakan. Wanita itupun kembali melenguh kala senjata sang pria menggantikan jari.
"Bukankah lebih puas?"
"Sangat..." lirih Brielle yang hanya bisa pasrah menerima semua perlakuan Leonathan pada tubuhnya.
Bibirnya terasa seperti tengah dikecup, namun Brielle enggan membalas. Hingga ciuman yang begitu memaksa, diiringi oleh belaian lembut di pipi. Sontak saja kesadarannya terkumpul kala mendengar pertanyaan dari Leonathan. "Kau mimpi apa sampai susah bangun, Honey...?" terdengar sangat halus dan sepasang netra cokelat tua itu melebar.
Melihat Brielle yang melongo dan mengamati tubuhnya sendiri dari atas sampai bawah, Leonathan tertawa-tawa. "A-apa aku ketiduran di mobil?" tanya Brielle setelah sadar bahwa dirinya sudah di dalam kamar bernuansa alam.
"Ya, sekarang mandilah. Aku ingin olahraga sebentar," balas Leonathan yang tak lupa memberikan kecupan penutup di kening Brielle yang sedikit basah. Kemudian berlalu dari kamar itu dengan senyum dan gelengan kepala kecil.
"Astaga! Fantasiku liar sekali! Bisa-bisanya aku mimpi separah itu!" Membekap wajah menggunakan guling yang ia sambar sembarangan. "MENGERIKAAAN...!"
Leonathan yang berada di luar kamar hanya bisa menahan tawa kencangnya sembari bersandar pada dinding. Sekuat tenaga dia berusaha untuk tidak menyemburkan tawa, cukup kaget karena wanitanya mimpi hal yang katanya sangat dijauhi. Merasa sudah tidak ada teriakan lagi, barulah Leonathan lanjut mengayunkan kaki.
Kini setelah hampir tiba ke ruang olahraga ia bisa puas tertawa, lalu berkata sambil menunjukkan senyum manis yang dimilikinya pada cicak di dinding, katanya, "Bisa-bisanya otak bersih milikmu itu tercemar juga, Elle. Aku kira isinya selalu bersih, putih, dan murni seperti air terjun dan kapas."
Masih mendongak, ia membayangkan betapa lucu dan menggemaskannya ekspresi Brielle ketika tertidur. Dari awal menggendong Brielle untuk membawanya keluar mobil, dia sudah menyadari keanehan pada wanita itu. Terlebih lagi saat Brielle tampak resah dan berkeringat. "Ternyata itu alasannya ... mimpi liarmu?"
Leonathan berjalan ke treadmill yang berada di depan jendela dengan senyum masih mengembang. Mulailah ia lari di tempat dan menyalakan lagu dari ponsel yang tadinya tersimpan di saku celana training hitam. Ia bertelanjang d**a, seperti kebiasaannya.
Saat ingin mengganti lagu yang terputar, tiba-tiba sebuah pesan dari Alice masuk dan segera ditiliknya pesan tersebut. Baru saja membaca satu kalimat 'Abigail menanyakanmu terus' suara teriakan Brielle mengejutkannya. Dimasukkannya ponsel itu lagi ke kantong celana dan buru-buru menonaktifkan mesin lari sebelum memeriksa wanitanya.
"ELLE! APA YANG TERJADI?!" panggil Leonathan begitu ia berdiri di depan pintu kamar mandi yang masih tertutup dan terkunci itu.
"Ada cicak jatuh di kakiku, Nathan! Aku jatuh sampai terpeleset, aduuh...!" sahutnya meringis kesakitan yang membuat kekhawatiran Leonathan memuncak.
"Buka pintunya," perintah Leonathan yang kesulitan membuka dari luar.
"Tu-tunggu ... aku susah bangun! Aduuuh...!" Karena geram dan tak tega mendengar wanitanya kesakitan, Leonathan pun terus berusaha mendobrak pintu di hadapannya sekuat mungkin. Tak peduli lagi kalau rusak parah, yang terpenting Brielle baik-baik saja.
"Menjauhlah," Leonathan diam sejenak untuk mengumpulkan tenaganya. "Akan kudobrak pintunya, pastikan posisimu tidak di belakang pintu, Elle."