Ratu Gengsi

1184 Kata
Brielle dan Leonathan sama-sama tidak percaya jika Naomi dengan mudahnya memberikan lampu hijau. Pasalnya Leonathan sendiri pernah menerima tamparan keras kala wanita itu tahu bahwa dirinyalah dalang di balik perpindahan Brielle ke luar Bali. Brielle pun terkejut ketika Naomi tampak biasa saja dan terkesan mempercayakan dirinya pada Leonathan. "Naomi!" seru Brielle sembari berbalik dan mengayunkan kaki untuk menyusul sahabat dekatnya itu. Namun pria di sebelahnya tak memperbolehkan, ia menarik tangan Brielle begitu Brielle berada di depannya. "Aku berangkat kerja sekarang," bisik Leonathan pas di samping telinga kanan wanita ini. Leonathan juga memberikan kecupan di pipi dan dahi. "Semangat kerja, Honey." Menambahkan ciuman di puncak hidung Brielle sebelum benar-benar undur diri dari toko bunga. "Hah! Aku manusia! Bukan madu!" teriak Brielle yang merasa malu lantaran dicium di depan mata teman kerjanya. Leonathan yang masih kedengaran hanya terkekeh, sebelum benar-benar memasuki kendaraan roda empat berwarna hitam favoritnya. "Biasanya selalu bersemangat kerja, mengapa hari ini aku sangat malas?" batinnya sesudah duduk dan memegang setir mobil, melempar pandang ke toko bunga Mille. Mau tidak mau dia harus berangkat meski perasaan ingin sekali tinggal di sini saja bersama sang pujaan hati. Hati kecilnya ingin menemani dan menghabiskan menit demi menit bersama wanitanya selama setengah hari. "Pasti menyenangkan," terlebih lagi kini Leonathan membayangkan wajah malu-malu Brielle ketika ia menciumnya di depan umum. *** Siang harinya dia dan Brielle melaksanakan tugasnya sebagai orang tua. Apalagi kalau bukan menjemput jagoan kecil mereka. Seperti pagi tadi, keduanya kembali satu mobil. Dikatakan pria romantis, sebenarnya tidak juga. Tetapi itulah anggapan ibu-ibu pada sosok Leonathan yang baru saja membukakan pintu untuk Brielle dan menggandengnya erat. Bahkan pria itu tidak ragu untuk melayangkan kecupan di puncak kepala Brielle saat wanita itu kepentok atap mobil karena tidak menunduk. "Aku tahu kau gugup padaku, tapi setidaknya kau hati-hati saat turun, Honey." Membuang muka ke kiri, Brielle menyahut, "Aku sama sekali yg tidak gugup ... jangan terlalu percaya diri." Sambil berjalan cepat ia melepaskan tangan Leonathan yang menggandeng kuat dengan mengunci sela-sela jari mereka. "Lepaskan aku, aku tidak suka menjadi pusat perhatian mereka!" tambanya berbisik namun penuh penekanan karena Leonathan tak segera membebaskan. "Bilang saja kau malu." Menyerah, Brielle memilih diam karena posisi mereka sudah dekat dengan perkumpulan para ibu yang menunggu kedatangan anak mereka. Selain ucapan Leonathan tidak meleset, ia juga harus memasang wajah biasa saja dan ramah pada ibu-ibu yang menyapanya dan lambat lain mulai membuka obrolan pada Leonathan. Ketertarikan para wali murid itu nyatanya mampu meresahkan Brielle. Wanita yang sejak lima menit dicueki pun memendam kesal yang entah kenapa hadir begitu saja dalam dirinya. Apalagi sekarang ini ayah dari Elnathan tengah dicolek oleh salah satu ibu-ibu yang umurnya sudah matang namun berpenampilan muda dan terlihat sosialita. Brielle mendadak ingin mengurung Leonathan saja! Bisa-bisanya lelaki itu malah diam tak berkutik dan terkesan pasrah saat pipi serta dagunya disentuh sembarangan. "Saya boleh minta foto?" tanya wanita lain yang dandannya lebih mencolok dan memakai pakaian cukup menggoda di bagian dadanya. "Kalau bisa, gantian, Mas! Saya juga mau foto." Ibu lain yang sedari tadi ikut mengobrol itu tak ingin ketinggalan. "Boleh 'kan Mbak Putri?" tanyanya pada Brielle yang ternyata masih menghargai keberadaan wanita di sisi kiri Leonathan itu. Brielle hanya menunjukkan senyum di bibirnya seramah mungkin sebelum menyentak tangan Leonathan. "Saya masuk dulu, mau tanya-tanya tentang pembayaran sekolahnya Elnathan, permisi..." pamit Brielle setelah terlepas dan menunduk singkat, izinnya itupun diiyakan ibu-ibu dengan senang hati. Hingga sudah beberapa langkah barulah kekesalannya meledak, "Baru saja semalam aku kasih kesempatan! Siang ini sudah dilanggar! Dasar buaya albino!" Brielle menoleh ke belakang sebentar untuk memastikan apakah Leonathan menyusulnya atau tidak. "Memang ingin mencari masalah padaku, ya! Awas saja nanti malam!" teriaknya di dalam hati saat Leonathan masih meladeni ibu-ibu yang meminta foto dengannya. Sementara Leonathan sesekali memerhatikan langkah Brielle walau dirinya juga terpaksa merespons antusias para ibu yang ingin meminta berfoto. Tepat setelah sosok Brielle tak terlihat, ia pun turut pamit masuk ke sekolahan. "Saya tahu wanita saya sedang cemburu," ujarnya dengan memasang senyum terbaik. "Memang memiliki gengsi tinggi," batinnya sebelum meneruskan, "Sekali lagi saya permisi." Kemudian melewati para penggemarnya demi menjinakkan wanitanya. Baginya Brielle sangat lucu jika memilih menghindari kecemburuan. "Daripada bertahan dan pura-pura mengalihkan pandangan, ternyata kau lebih pilih lari, Honey..." ungkap Leonathan kala dirinya sudah berdiri di belakang Brielle yang duduk di sebuah bangku, salah satu kursi yang tersedia di koridor sekolahan ini. Brielle hanya menengok sesaat lalu kembali melirik kelas sang anak yang belum kelar. "Kau sibuk, dan aku bukan pengganggu." "Bilang saja padaku jika kau terganggu oleh ibu-ibu yang menggodaku tadi." Leonathan mengatakannya sembari mendekati Brielle dan ingin duduk di sebelah wanita itu, tetapi Brielle lebih dulu berdiri dan menghindar. "Kesempatan dariku cuma ada satu, jadi gunakan baik-baik kalau enggak mau satu itu hangus!" pekik Brielle lalu mendorong bahu Leonathan kala sepasang tangan kekar lelaki ingin meraih tubuhnya. Tepat setelah adegan penolakan itu, terdengar pengumuman bahwa pengajaran anak PAUD telah usai dan para orang tua diperbolehkan masuk ke kelas anak. "Camkan baik-baik, lalu sematkan itu ke otak dan hatimu, paham?!" Sebelum menghampiri kelas Elnathan, Brielle menekankan satu kalimat yang membuat Leonathan mengerutkan keningnya, "Dasar buaya albino!" Sebelum menginjakkan kaki di rumah megah Leonathan, ketiganya mampir dahulu untuk membawa barang Brielle serta punya Elnathan yang sebetulnya bisa disiapkan Leonathan dengan membeli di pusat perbelanjaan. Tentu saja ditolak paksa oleh Brielle karena wanita itu tak mau Leonathan menunjukkan kekayaannya. Alhasil, Leonathan harus ikut mengemasi semua barang milik anak dan kekasih hatinya. Semenjak masuk ke kamar Brielle, kedua insan yang belum akur sungguhan itu tak kunjung berbincang lagi usai menjemput putra mereka. Brielle yang membisu, sedangkan Leonathan berusaha membuka obrolan, seperti yang pria itu lakukan sekarang di depan koper. "Kau ingin makan malam di mana, Honey? Di rumahku atau ingin pergi keluar?" tanyanya yang tak mendapatkan secuil respons. "Kau bisa mendengarku, Elle?" Elnathan yang sibuk membongkar baju-bajunya sampai menengok ke arah sang mama. "Mama, dipanggil Papa," ujar bocah itu memberitahu. Pura-pura tuli, Brielle sengaja tak menjawab dan membiarkan dua orang di sekitarnya saling melempar tatapan. Brielle terus saja mengambil pakaian miliknya, sibuk sendiri dengan kegiatannya. Sementara anak dan ayah di belakangnya sama-sama menatap punggung wanita itu. "Mama kenapa...?" tanya si kecil Elnathan yang penasaran dan meletakkan dua kaosnya di lantai begitu saja sebelum berjalan ke arah Brielle. "Kau masih marah karena ibu-ibu meminta foto?" "Tidak!" Menyunggingkan senyumnya, Leonathan melangkah pelan ke Elnathan dan menggendongnya tiba-tiba. Hingga membuat anak tampan itu memekik terkejut dan kesenangan. "Mulutmu bilang tidak, tetapi hatimu berkata lain, Elle." Melingkarkan lengan kekarnya di pinggul Brielle dan berhasil membuat wanita ini menggerakkan kepala perlahan padanya. "Kau bilang bahwa aku buaya albino, kau sendiri?" jedanya sambil memajukan wajahnya agar bisa melihat dengan jelas betapa menggiurkannya bibir ranum Brielle. "Ratu gengsi," bisik Leonathan sebelum mendaratkan satu kecupan di bibir sang kekasih. Elnathan yang digendong justru sibuk sendiri, memainkan rambut Leonathan. Setelah mengecup Brielle, ia juga mencium anaknya hingga bocah itu kegelian dan minta diturunkan. "Ayok, Papa! El mau main ke lumah Papa!" ajaknya yang sudah ditahan sejak pulang sekolah. Leonathan mengangguk dan meminta Elnathan, "Izin tante Naomi setelah itu El tunggu Papa sama di ruang televisi." Yang diajak kerjasama pun setuju dan berlari keluar. "Aku tidak," ucapan Brielle terpotong karena Leonathan menyambar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN