Satu Atap Seterusnya

1117 Kata
Brielle menghentikan ciuman dan membuka mata, mengarahkan pandangan ke mata biru Leonathan. "Terima kasih sudah mencariku," katanya. "Terima kasih untuk kesempatan yang kau berikan, terima kasih juga karena kau sudah melahirkan dan merawat buah hati kita," balas Leonathan tak mau kalah dan direspon Brielle dengan senyuman, membuat Leonathan ikut tersenyum singkat. "Sekarang kau tidak lagi sendirian, Elle ... aku akan menemanimu." Kemudian menempelkan mulutnya ke kening Brielle lebih lama, sekitar satu menit. Malam itu, keduanya memutuskan tidur satu ranjang bersama putra mereka. Malam dimana Leonathan merasakan tidur nyenyak sembari tersenyum. Pagi harinya ia harus buru-buru mengantar Brielle ke tempat tinggalnya bersama Naomi, mengambil keperluan Elnathan seperti s**u formula dan mainan kesukaan anaknya yang tertinggal. "Mulai hari ini aku ingin kau dan El tinggal bersamaku," ujar Leonathan setelah Brielle memakaikan celana pada bocah yang sibuk memainkan mobil-mobilan di pintu lemari yang tertutup rapat. Brielle sontak menoleh dan geleng-geleng kepala menentang, "Aku menolak permintaanmu. Kita belum menikah." Membuang napas panjangnya, ucapan Leonathan benar-benar membuat jantungnya tak siap terkejut. "Ini bukan permintaan, Elle." "Aku tidak mungkin menginap di rumah seorang pria yang bukan suamiku." "Tapi kita sudah punya anak." Leonathan yang tengah duduk di ranjang Brielle itu tetap bersikukuh mengajak anak dan sang jantung hati tinggal seatap, di rumahnya. "Aku ingin lebih dekat denganmu, Elle. Kita bisa melakukan banyak hal bersama, termasuk saling mengenal satu sama lain." "Apa kata Naomi kalau dia tahu kita tinggal serumah? Dia pasti tidak setuju." "Jangan pedulikan ucapan orang lain." Brielle mendelik sejenak, setelahnya membuka mulut, "Aku tahu isi otak pria kebanyakan, rata-rata dari mereka tidak jauh dari kegiatan ranjang." Brielle yang tengah memakaikan pakaian untuk sang anak berusaha menjaga ucapannya. "Aku tidak mau hal seperti dulu terjadi lagi ... OH! Apa kau berharap kejadian itu terulang?" Leonathan terkekeh dan itu membuat Brielle makin yakin kalau isi pikiran lelaki itu pasti ke arah sana. "Tawamu yang berbicara padaku kalau itulah tujuanmu, Tuan Leonathan. Iya 'kan?" "Papa! Papa ikut El ke sekolah?!" seru Elnathan yang mendadak menghentikan mainan mobil-mobilannya. Sementara Brielle sekarang tengah menyisir rambut bocah itu agar tampak menawan seperti ayahnya. "Ikut, Nak. Siang nanti Papa sama Mama jemput El." "Yeay!!! Thank you so much, Papa!" Dibantingnya mobil merah di tangan kanannya sembarangan ke lantai, kemudian berlari ke Leonathan, naik ke kasur dan memeluk sang papa erat-erat. "El mau pindah ke rumah Papa?" tanya Leonathan yang seketika mendapatkan pelototan dari wanita cantik yang sepasang tangannya sudah melekat di pinggang kanan dan kiri. "Kalau El mau, bilang Mama, Nak. Bujuk Mama supaya El dan Mama bisa tidur di rumah Papa seperti semalam, Jagoan Papa berani, bukan?" sambungnya sembari mengarahkan El untuk menatap Brielle. "Izin Mama, El." Leonathan sengaja tidak menjawab pertanyaan sang kekasih karena ia ingin tahu sejauh mana pikiran negatif Brielle terhadapnya itu berkeliaran. Lagipula Leonathan bertekad untuk menjaga nafsunya yang mungkin memang liar jika tidak dikontrol sejak awal. Tetapi, tetap saja ia telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyentuh Brielle di luar batas, sebelum mereka menjalankan prosesi pernikahan. "Mama tanya serius, ya, El. El enggak kasihan sama tante Mi kalau sendirian di rumah ini?" lontar wanita itu berusaha menggoyahkan keinginan anaknya sendiri. "El tega sama tante Mi, ya?" Brielle tertawa riang di dalam hati sesudah mendapati perubahan ekspresi dari Leonathan. Ia melirik mimik wajah Elnathan juga dan tampak sekali bahwa anaknya tengah menimbang-nimbang, seakan tengah berpikir keras. "Jangan menghasutnya, Elle...." Mengabaikan peringatan Leonathan, ia memandangi sang buah hati dengan sendu. "El enggak kasihan sama tante Mi, ya, Sayang...?" sembari mengusap lembut sebelah pipi anaknya. Dengan wajah sedihnya El menjawab teramat pelan dan berat hati, "Tapi El mau sama Papa, Mama ... El mau sama Papa sama Mama juga, Mama." Mendengar dan tahu bahwa Elnathan sudah sangat sedih, Brielle jadi tidak tega untuk memaksa. Wanita itu menoleh ke Leonathan, dan bisa dilihat kalau lelaki itu tersenyum miring yang samar-samar. Menghirup napas banyak-banyak dan dihembuskan setelahnya, Brielle menggandeng Elnathan. "Yang penting El sekolah dulu. Pagi ini Mama sama Papa harus kerja, El mau main sama temen El 'kan?" "Iya, Mama!" "Oke, waktunya sarapan!" "Pintar mengalihkan," ucap Leonathan yang sudah berdiri di samping Brielle. Ia langsung mengangkat tubuh Elnathan, menggendongnya dan memberikan kecupan di pipi kiri jagoan kecilnya itu. Sementara Brielle yang mendengar ucapannya, mengangkat bahu sambil tersenyum meremehkan dan keluar kamar lebih dulu. Meninggalkan Leonathan yang menggoda Elnathan dengan ciuman di ketiak, leher, dan wajah anak mereka itu sampai membuatnya merasa geli bukan main. "El mau tidur sama Papa seperti tadi malam?" bisik Leonathan pada anaknya dan diangguki dengan semangat. "Nanti malam kita bertiga tidur lagi. El percaya saja sama Papa." "Tante Mi gimana dong, Papa?" "Papa yang mengurus, El jangan khawatir." Elnathan menatapnya ragu, ia benar-benar memikirkan ucapan Brielle. Bocah tiga tahun ini tentu sangat mencemaskan Naomi. Karena itulah dia menggeleng pelan. "Ada apa, Nak? Tante Naomi baik, El santai saja. Tante Mi pasti setuju El dan mama tinggal sama Papa." Menatap lembut anaknya, ia bertanya pelan, "El percaya sama Papa?" Perlahan-lahan senyum manis balita ini terbit. "Jangan khawatir, Nak." Ia mencium puncak kepala Elnathan. "Ya, Papa." "SARAPAN SUDAH SIAP!" teriak wanita yang membuat bapak dan anak itu tertawa kecil bersama dengan kaki Leonathan berlari menuju suara sang bos. "NAOMI PASTI SEDANG KEREPOTAN! CEPAT KE SINI TUAN LEONATHAAAN...!" tambah Brielle karena dia kelamaan menunggu. *** Setelah mengantar Elnathan di sekolahnya, Brielle dipaksa Leonathan untuk menjelaskan pada Naomi bahwa mereka akan tinggal seatap mulai hari ini. Tentu saja Brielle keberatan, tapi Leonathan terus memaksa. "Atau aku saja yang mengatakan padanya?" tanya Leonathan yang menyandarkan punggungnya di kaca mobil seraya menatap Brielle serius. "Tidak! Ya sudah, aku coba cerita pelan-pelan. Kau kerja saja sana, masuk mobilmu sekarang." Leonathan menolak dengan gelengan kepala dan mulut menyahut, "Aku tunggu jawaban Naomi. Jika tidak setuju, aku yang akan menjelaskan." "AH, KAU INI! Keras kepala! Pemaksa! Untung kau papanya anakku," gerutu Brielle sambil memutar badan dan bergegas masuk ke toko bunga berpapan nama Mille. Begitu membuka pintu toko, sosok Naomi sudah menyambut mata cokelat Brielle. "Kalian akan tinggal bersama?" pertanyaan itu berkuasa untuk membuat Brielle menelan ludahnya dan jantung serasa berhenti, matanya mendelik. "Maaf sebelumnya, aku sengaja mendengar percakapan kalian yang cukup keras, Elle." Tepat saat Naomi mengunci mulutnya, pintu toko dibuka dan menampilkan sosok tinggi nan tampan yang membuat kasir di sana melongo, terpukau. "Kalian berdua sudah saling memaafkan?" "Bukan hanya itu, kami akan satu atap seterusnya. Kau tidak keberatan jika sendirian?" Pernyataan Leonathan ditanggapi Brielle dengan pukulan dan mengenai lengan kiri pria itu yang dibalas sang empunya lengan dengan memandang sekilas. Sedangkan Naomi menyunggingkan sebuah senyum tipis sambil menatap Leonathan. "Kalau Elle bersedia tinggal bersamamu, aku cuma bisa mendukung kalian. Tapi ingat ini, Nath ... aku tidak akan diam saja kalau kau menyakiti sahabatku," terangnya sekaligus memberi peringatan. Kemudian berlalu dari hadapan dua insan yang saling melempar pantauan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN