Kesempatan

1097 Kata
“Aku membencimu! Aku sangat kecewa! Kau sadar perbuatanmu itu menyakitiku?!” Membawa sepasang tangannya ke tubuh Brielle, Leonathan melekatkan pelukan di sana dengan posisi lutut berada di atas lantai. Memberikan pelukan erat untuk wanita yang sudah dibanjiri tangisan itu dan memohon, “Maaf. Maafkan aku.” Dielusnya punggung Brielle dengan memejamkan mata sembari menarik napas dalam-dalam. Dihirupnya aroma wangi dari leher Brielle dan menahan air yang akan keluar dari sudut mata. Leonathan tidak tahu kalau keberengsekannya menghasilkan anak dalam semalam, dan ternyata sudah sejauh ini dia memberikan luka pada wanita yang berhasil membuatnya merasakan cinta lagi. “Faktanya, aku masih membencimu. Meskipun maaf terucap, susah untuk melupakan kejahatanmu.” “Aku tidak pernah berhenti mencarimu, Elle. Saat tahu kau pergi aku ingin bertanggung jawab, tetapi mengapa kau memilih kabur dariku? Bagimu, ini semua kesalahanku?” Brielle tidak menjawab, ia hanya mendongak karena tak ingin melihat wajah Leonathan. Mengecilkan volume, Leonathan berbisik, “Jujurlah, apa yang membuatmu takut?” Ibu Elnathan itu tetap diam tak bergerak dan masih sesenggukan. “Atau karena kau tidak memiliki perasaan padaku? Tidak ada cinta untukku? Kumohon jujurlah, Elle.” “Kau kira aku bisa jatuh cinta pada pria asing sepertimu dalam semalam?!” “Jadi benar itu alasanmu?” Leonathan mendongak, ia menarik satu tangannya dan membingkai wajah Brielle sembari menatapnya dalam. Dengan penuh kesungguhan dan tekad yang sangat bulat ia meneruskan, “Jika begitu, aku akan membuatmu mencintaiku.” “Aku tidak akan mencintai siapa pun, tanpa terkecuali dirimu,” tekan Brielle yang berusaha melepaskan diri dari pelukan Leonathan. “Jika kau berpikir aku akan menyerah, kau salah, Elle.” Leonathan kembali berdiri dan membungkuk sembilan puluh derajat untuk mendaratkan ciuman di kening Brielle. Lebih dari sepuluh detik lamanya ciuman sayang itu berlangsung, terputus karena sang wanita bergerak mundur. “Dirimu dan Elnathan alasanku untuk hidup sampai detik ini. Jika kalian tidak menerimaku, untuk apa aku ada di hadapanmu sekarang? Bukankah lebih baik aku mati?” sambungnya seraya tersenyum kecil. Mengusap pipi kiri Brielle, ia kemudian mengayunkan kaki dan pergi dari hadapan pujaan hati karena perasaannya sangat terpukul setelah menerima ungkapan-ungkapan Brielle. “Ka-kau pilih ma-mati?” tanya Brielle setelah Leonathan benar-benar angkat kaki. Entah mengapa perasaannya takut. Takut kalau ada sesuatu yang sangat buruk menimpa Leonathan. “Atau dia benar-benar mengalami masa-masa sulit setelah aku pergi dari Bali?” hembusnya dengan perasaan tak enak. Pria yang cuma memakai celana piyama panjang biru tua polos itu lari ke taman kecil yang ada di sebelah ruang olahraga. Taman indoor itu menyediakan dua buah bean bed atau sofa santai berwarna hijau yang sama dengan rumput sintetis sebagai alasnya, Leonathan duduk sembari melipat tangan di depan dadanya. Merenungkan semua ucapan Brielle, pria itu menatap lurus di mana tembok putih berhiaskan pot kecil gantung sebagai objeknya. Leonathan menajamkan indra pendengaran begitu mendengar suara seperti langkah kaki dari kejauhan. Tak lama ayunan kaki itu terdengar makin kencang, dan ketika ia menoleh ke kiri, sosok Brielle terlihat dengan napas putus-putus. Wanita itu terengah-engah sembari menatap ke arahnya. “Kau butuh sesuatu?” tanya Leonathan pelan, dan berdiri. Brielle dengan wajah lelahnya justru ikut bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” Leonathan memajukan diri dan mengikis jarak di antara mereka. “Tidak bisakah kau memberiku kesempatan?” Brielle yang hampir mengeluarkan jawaban kembali harus menutup mulut karena Leonathan. “Satu kesempatan saja ...” harapnya, sangat memohon sampai tanpa disadari tangannya menggapai sepasang tangan Brielle dan mengelusnya. “Jika memungkinkan, aku ingin menikahimu.” Brielle yang dapat menangkap mata biru Leonathan berkabut, tak bisa menahan air matanya sendiri. Tanpa Leonathan duga wanita yang sudah memberikan tatapan lembutnya ini menyatukan bibir mereka. Brielle yang lebih dulu menyambar bibirnya dan mengalungkan tangan ke leher sang pria. Sedikit sulit karena Brielle harus berjinjit untuk merasakan betapa lembutnya sapuan mulut dan lidah Leonathan. Merasa mendapat lampu hijau, Leonathan kian menarik tubuh Brielle dalam dekapannya. Jarinya perlahan mengelus-elus punggung wanita yang ia yakini sudah memberikan kesempatan. Leonathan tak bisa berbohong bahwa hatinya sekarang seakan dipenuhi bintang-bintang. Merasa terang sudah hidup di dalam dirinya sekejap saja. Karena larut dengan suasana hati dan gairahnya menggelora, Leonathan menjatuhkan diri ke salah satu bean bag dan membiarkan Brielle menindihnya. Melanjutkan ciuman itu setelah saling pandang sesaat dan menebar senyuman kecil. Bibir Leonathan yang aktif bergerak itu pun menyusuri leher Brielle dan mengecup di sana, memberikan tanda meski tidak terlalu jelas. Ia yakin, Brielle akan malu jika mengetahui dirinya berhasil memberikan warna di sana. Untuk sekarang ia harus bersabar demi menghargai kesempatan yang diberikan wanita ini. Brielle tiba-tiba menarik diri ketika tangan Leonathan sudah meraba pahanya. Leonathan yang terkejut lantas mengerutkan dahinya. “Aku mau hubungan yang sehat dan normal,” celetuknya yang membuat pria itu memberi lengkungan di wajahnya yang tampan serta mengangguk paham. “Aku tidak kamu kalau kita melebihi batas. Kesalahan besar itu menjadi pelajaran untukku, Tuan Leonathan ... emh, Papa El.” “Aku mengerti.” “Apa? Kenapa tersenyum seperti itu?” tanya Brielle padahal dirinya sendiri tengah menahan malu karena memegang d**a bidang Leonathan dan baru sadar kalau bibirnya begitu ganas. Leonathan yang tidak bisa menutupi kebahagiaan di dalam hatinya kembali mengunci pinggang Brielle dengan lengannya kuat-kuat, membiarkan wanita ini menduduki perut berpola nan kencang yang tak tertutupi baju. Senyumnya kian mengembang kala melihat guratan di pipi Brielle. “Ciuman tadi ... apa itu artinya kau memberiku kesempatan, Honey...?” “I-iya. Aku memberikanmu kesempatan, jadi jangan sia-siakan pemberianku itu! Kalau berani menyia-nyiakan kesempatan, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu melihatku dan El lagi!” Leonathan dengan tegas mengangguk. “Jangan menganggukkan kepalamu saja!” “Iya, Mama El ... aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kau berikan,” tandas Leonathan sembari mendorong punggung Brielle dengan sengaja agar wajah mereka saling berdekatan. “Lihat mataku jika kita berdekatan seperti ini ... supaya aku tahu betapa indahnya matamu dan seberapa besar cintamu untukku.” “Siapa yang bilang aku mencintaimu?” “Matamu tidak bisa berbohong, Elle.” Mereka saling menatap dan hidung mereka bahkan bersentuhan. “Jadi perintahkan bibirmu untuk berhenti mengatakan yang sebaliknya.” Kini Leonathan yang lebih dulu memburu benda kenyal yang manis nan menggoda, apalagi kalau bukan bibir Brielle. Menghisap, menyesapnya dalam-dalam. Leonathan merasakan sensasi menggetarkan di dalam hatinya dan begitu meluap, ketika Brielle membalasnya sembari menyapukan jari ke d**a bidangnya. Dua manusia itu lagi-lagi menyatukan perasaan dan debaran jantung mereka yang sama-sama memiliki tempo tak biasa. Hanya ciuman yang berbalut perasaan menggebu, akal Leonathan dan Brielle masih bekerja. Malam ini keduanya sungguh merasakan rasa baru, yang sebenarnya tidak terlalu asing. Bintang yang bertebaran di hati mereka pun bersinar sangat terang, menghapus mendung yang sebelumnya lama bertahan di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN