Brielle tidak bisa menahan tawa kencangnya lagi, hingga Leonathan yang mendengar betapa kerasnya volume suara sang wanita lantas mendekap tubuhnya dan membungkam dengan mulutnya sendiri. Leonathan mendaratkan bibirnya di sumber suara keras yang mampu membangunkan anak mereka. Sementara Brielle sudah mendelik, kelopak matanya terbuka lebar, terlalu lebar sampai bola matanya tampak ingin keluar. Paling parah, dirinya tidak bisa mendorong Leonathan, kedua kakinya lemas secara tiba-tiba.
Leonathan tak ingin lagi menyia-nyiakan setiap detik yang terlewat. Ia mulai menggerakkan mulutnya, dan menjelajah bibir manis Brielle. Meresapi setiap rasa di dalam hatinya, sepasang netra biru itu sudah bersembunyi sejak tadi. Memperdalam ciumannya, Leonathan semakin menarik tubuh Brielle yang sudah di dalam dekapan, untuk semakin lekat lagi dan menempel dengannya. Pria itu teramat merindukan Brielle, kali inilah perasaannya bisa tersalurkan. Perasaan kesal, marah, dan sakit hati ia luapkan dengan memperdalam ciuman, memagut, menyesap rasa agar luka hatinya terobati. Jantungnya semakin berpacu dengan begitu cepat, hingga bagian lain dirinya seakan merasa kurang dan seperti meminta lebih.
Meremas pinggang wanita pujaan hatinya, Leonathan semakin menuntut. Ciumannya kian detik kian panas. Hanya memberikan senyuman singkat dan membuat Brielle mencuri oksigen sedikit saja, kembali digunakan untuk menyerap semua energi dan suasana hening sekaligus menenangkan di sekitarnya. Leonathan begitu menikmati permainan bibirnya sendiri.
Meski tidak bisa berbohong bahwa perasaannya cukup senang, Brielle masih belum siap membuka hatinya untuk Leonathan. Kini, meski ia membalas pagutan Leonathan, hati dan otaknya tetap berperang. Sebisa mungkin ia meminta otaknya untuk terus menyadarkannya bahwa Leonathan adalah pria berengsek yang pernah ia temui dan kenali. Walau di dalam hati, berbanding terbalik dengan pikiran-pikiran yang melayang di otaknya.
Cukup lama mereka saling menautkan benda kenyal manis yang selalu mampu membangkitkan nafsu jika sudah beradu. Leonathan yang memilih menyudahi, sedikit menarik badannya agar tidak menempel pada Brielle. Ia setia mengamati mata dan wajah cantik wanita bagai bidadari ini dengan tersenyum samar, sangat tipis sampai kedua mata Brielle tidak bisa menangkapnya. Brielle berdeham ketika wajah Leonathan begitu dekat dengannya. Ya, karena tubuh mereka yang sedikit memiliki celah.
“Aku tidak akan membiarkanmu jatuh cinta dengan pria lain, Elle. Tidak akan pernah,” tekannya meski hanya sebuah bisikan dengan pandangan terpaku pada bola mata wanita yang puncak hidungnya bersentuhan dengan hidung mancungnya. “Tidak akan kubiarkan orang lain mencuri perasaan yang mutlak dimilikki olehku, Elle.” Brielle menggeleng, berusaha menepis ucapan Leonathan yang begitu mengada-ada. “Kau pasti memiliki perasaan itu.”
“Perasaan yang sejujurnya padamu?!” Brielle tertawa dan tidak melawan atau berusaha melepas diri dari Leonathan, ia menerima dan meladeni perlakuan pria yang menatapnya lekat-lekat ini. “Aku sangat membencimu, sangat-sanga—“
“Sedikit pun, jangan berusaha menyangkalnya.” Leonathan menangkup salah satu pipi Brielle dan menurunkan matanya perlahan hingga berhenti di benda kenyal nan merah muda yang terasa manis itu sebelum kembali lagi menatap matanya. “Berhenti menutupi perasaanmu, Elle.”
“Ya, aku membencimu. Aku sangat membenci semua yang ada di dalam dirimu!” sembur Brielle yang mulai meninggikan nada suaranya, begitu pun tingkat kencangnya pekikan itu. Leonathan sontak saja mengangkat tubuh Brielle. Memanggul wanita itu seperti karung beras di lengan kanan. Tubuhnya yang kekar semakin terlihat gagah, bahkan di saat Brielle bergerak lincah. “Turunkan aku, Berengsek! Berani-beraninya menggendongku seenaknya! LEONATHAN!”
“Aku tidak ingin waktu tidur anak kita terganggu, Elle.”
“Turunkan aku!” pintanya sembari memukul dan tak jarang mencankar punggung kencang nan gagah Leonathan yang tidak tertutupi oleh apapun itu. “KAU MAU MEMBAWAKU KE MANA?!” teriaknya lagi histeris karena mereka sudah menjauh dari kamar yang ditempati Elnathan untuk tidur. “KURANG AJAR SEKALI, KAU! AKU BENAR-BENAR MEMBENCIMU!”
Leonathan masih menggendongnya sampai akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Hanya ada ranjang mungil beserta satu bantal, sebuah guling, dan selimut terlipat rapi di atas ranjang itu, terletak di sudut ruangan. Di sudut ruangan yang lain Brielle bisa melihat ada sebuah lemari dan rak buku. Ia diturunkan Leonathan di atas kasur, lelaki itu menurunkannya dengan sangat hati-hati lalu berlutut tepat di depan Brielle yang duduk anteng sambil menatapnya penuh dengan kekesalan, kebingungan, dan kemarahan sampai ingin sekali menjambak poni panjang Leonathan yang berantakan.
“Kau ingin aku menyadarkanmu lagi melalui ciuman seperti tadi?” Untuk kesekian kalinya Brielle melotot. “Masih merasa kurang?” tanya Leonathan lagi sambil melingkarkan kedua tangan di pinggang wanita itu.
“SIALAN!”
“Teriaklah sepuasmu, aku tidak akan membiarkanmu keluar sebelum mengatakan isi hatimu padaku.”
“Kau kejam! Jangan berani menyentuhku lagi! Dasar pria berengsek kurang ajar!” geram Brielle yang mulai menggunakan perasaannya, dan tidak kuat untuk mencegah kedua matanya tetap kering. Bahkan napasnya mulai tersendat karena rasa sakit menusuk hatinya secara mendadak. “Aku tidak sudi melihat pria buaya sepertimu! Aku benar-benar muak padamu! Aku sangat membencimu dan sampai kapan pun aku tidak akan membuka hati untukmu! Aku tidak akan membalas perasaanmu! Seharusnya memang tidak ada kesempatan dua atau tiga kali untuk pria b***t sepertimu!” Air matanya pun mulai berjatuhan, turun tak terkontrol lantaran hatinya begitu sulit dipahami, sesak seperti tertindih batu besar, begitu berat. Leonathan sendiri sampai bergeming kala mendengar setiap kata yang meluncur dari mulut Brielle. “TIDAK AKAN PERNAH ADA KESEMPATAN UNTUK PRIA BERENGSEK SEPERTIMU, KAU DENGAR?!”
“Aku tidak seberengsek yang kau pikir,” lirihnya setelah terdiam beberapa detik saja, tepatnya setelah menghembuskan napas berat. Dua tangannya terulur untuk menghapus air mata wanita di hadapannya itu, namun ditolak mentah-mentah.
“Sudah aku bilang, jangan menyentuhku! Aku tidak suka!” sembur Brielle yang masih menangis dengan dadanya yang begitu sesak, napasnya pun sulit diatur. “Kalau kau bilang dirimu tidak seberengsek yang aku pikir, lalu menurutmu harus berengsek yang seperti apa?” Brielle benar-benar sakit mendengar penuturan Leonathan yang terdengar tengah membela diri, ia semakin membenci sifat yang seperti itu.
“Aku tidak pernah tidur dengan siapa pun, kecuali dirimu. Aku berani bersumpah, hanya dirimu. Harus berapa kali aku mengatakan bahwa kaulah wanita satu-satunya, Elle?” Sungguh, Leonathan tidak menduga kalau yang di pikiran wanita itu hanyalah perbuatan b***t, yang kebetulan tak pernah dia lakukan. “Selama bertemu puluhan wanita, merekalah yang memperlihatkan tubuh polos mereka padaku.”
Brielle yang jijik, buru-buru menutup telinganya dengan dua tangan, karena tak kuat mendengar sekaligus membayangkan penjelas Leonathan selanjutnya. “Cukup! Jangan diteruskan lagi! Itu sangat menjijikkan!”
“Aku tidak pernah menidurinya. Aku memang melihat tubuhnya, tidak dengan menyentuh karena aku tidak tertarik.”
“Haruskah aku bangga karena akulah yang pertama untukmu?! Aku juga harus bangga karena hamil hasil kesalahanmu? Apa aku juga harus bangga karena malam itu bertemu pria tampan sepertimu?! Aku harus bangga pada takdirku?!” Brielle memukul dadanya sendiri berkali-kali dan Leonathan menatapnya dengan sendu. “JAWAB!”
“Maafkan aku.”
“AKU INGIN KAU PERGI DARI HIDUPKU! LUPAKAN AKU DAN ELNATHAN, KAMI BISA HIDUP TANPAMU!” jeritnya sembari memukuli tubuh Leonathan yang berusaha menarik dan membawanya ke dalam pelukan pria itu.
“Tentu tidak. Tidak bisa, kalian milikku.”