Pria yang baru masuk ke kamar tidurnya lantas memandang wanita yang tiduran di atas ranjang bersama anak mereka. “Kau belum tidur?” Brielle menoleh sekilas tanpa menjawab, karena jelas-jelas dia masih membuka matanya lebar-lebar. Leonathan baru saja menerima telepon dari Alice yang memintanya untuk pulang ke Bali karena Abigail merindukannya. Namun, fokusnya sekarang ini benar-benar tertuju pada Elnathan yang fakta sudah berbicara bahwa bocah tampan itu adalah anak kandungnya. Meski tidak bohong, terkadang dia juga merindukan Abigail, si mungil yang begitu cantik mirip bidadari di matanya. “Kau tidak lelah?”
“Berhenti menanyakan hal itu!” Melirik ke samping kirinya di mana sang anak menggeliat. “Aku sama sekali tidak butuh perhatianmu,” ujarnya lagi dengan volume suara yang lebih kecil.
“Apakah tidak ada rasa sayang sedikit saja untukku, Elle?” tanya Leonathan tiba-tiba dengan tubuh bersandar pada tembok di samping jendela. Sepasang tangan terlipat di depan dadanya. Pria yang hanya memakai celana piama panjang biru tua polos itu berdiri, menyorot intens Brielle menggunakan netra biru muda miliknya.
“Aku tidak menyangka kalau kau masih berani bertanya tentang perasaanku.” Brielle tidak berhenti menatap dan mengusap-usap punggung serta kepala anaknya yang berbaring di sebelahnya. Meski ia ingin melihat sorot mata Leonathan, hatinya tidak berani menerima arti tersirat begitu menatapnya. “Kau tahu jawabannya.”
Leonathan menggeleng dan tersenyum meremehkan. “Aku tidak butuh jawaban palsu dari mulut manismu, Elle.” Bisa-bisanya ia mendapatkan jawaban penuh kebohongan dan berbanding terbalik. Leonathan bisa tahu semua itu bohong dan pura-pura karena hampir melewati hari bersama Brielle akhir-akhir ini. Leonathan masih bisa menangkap perasaan cinta dari mata wanita kepala batu itu. “Bukan jawaban asal, aku ingin mendengar kejujuran.”
“Aku sudah mengantuk, selamat malam Tuan Leonathan.” Brielle memilih membaringkan tubuhnya sepenuhnya ke kasur sembari memeluk sang putra yang sudah memejamkan mata sejak sepuluh menit yang lalu. Membungkus tubuhnya dengan selimut sampai leher, Brielle berusaha menutup mata kuat-kuat meski sebenarnya dia belum terlalu mengantuk. “Kalau aku boleh memohon, tidurlah di kamar lain karena seranjang sangat tidak pantas bagi mereka yang belum sah.
“Jangan beralasan.” Leonathan sungguh ingin meluncur ke kasur kalau dirinya betul-betul hilang akal sekarang. “Aku tahu jika kau belum ingin tidur, Elle...” lanjutnya memohon. “Kau ingin hubungan yang seperti apa? Tanyakan pada hatimu yang paling dalam.”
Brielle yang sudah memejamkan mata sampai membuka matanya lebar-lebar hingga ia repot-repot duduk tegak dan menyibak selimut. Tertawa kecil namun menusuk ke dalam telinga Leonathan bagai jarum jahit. “Kau ingin berbicara mengenai hati? Seseorang seperti bertanya soal isi hati padaku? Wanita yang sudah kau cap sebagai w**************n, kau tidak bercanda, Tuan Leonathan?!” Bangun dari kasur, ia berjalan cepat ke Leonathan dengan lengkungan lebar menghias wajah manisnya. “Kau mabuk?!”
“Berhenti bertiak di kamarku dan di hadapan anak kita.” Memandang wanitanya dengan tatapan tak percaya, terkejut karena Brielle seperti orang hilang kontrol. “Kau bisa membangunkannya, Elle.” Leonathan sungguh dibuat seperti naik roller coaster kalau menghadapi emosi wanita yang belum stabil, namun ia sendiri tidak tahan memiliki jarak dengan Brielle.
“Kau menasihatiku lagi,” ujar Brielle dan ia benar-benar tertawa lebar sampai tidak memedulikan tingkat volume dari suaranya sendiri. Bahkan tidak memikirkan dampaknya untuk Elnathan yang bisa saja mulai terusik tidurnya. “Kau siapa? Kau sendiri yang menyuruhku masuk ke rumahmu dan memintaku bersikap santai layaknya rumah sendiri.” Tawanya masih terdengar jelas meski tidak sekencang tadi. “Sekarang, kau tidak ingin kita berteriak karena El sudah tidur? Kau mau membuktikan bahwa kaulah orang tua terbaik untuknya?”
“Berhenti berpikir sampai ke sana.” Leonathan mengayunkan kakinya satu langkah, hingga tak ada jarak baginya dan Brielle. “Aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sesungguhnya. Bukan menyalahkanmu sebagai ibu dari anakku. Mengertilah, aku menderita selama kau pergi.”
“Kau yang seharusnya mengerti aku! Kenapa kau tega merebut masa depanku dalam sekejap? Tidak butuh satu haru penuh kau membuatku jatuh. Tapi, tidak apa ... berkat hadirnya benihmu di perutku, aku bisa menjalani hari-hari buruk yang membuatku takut bangun setiap harinya.”
“Mengapa kau memilih pergi? Mengapa malam itu kau kabur dariku?” tanya Leonathan baik-baik dan berusaha menyelami mata cokelat Brielle yang sudah berkaca-kaca. Brielle tidak membuka mulutnya sama sekali dan memilih memalingkan muka ke arah lain sampai tangan Leonathan terulur ke dagu wanita itu, namun ditepis kencang. “Apa kau takut padaku?” tanyanya berusaha lagi. Menyentuh dua pundak Brielle bersamaan, Leonathan menggenggamnya. “Aku tidak mungkin menyakitimu. Justru aku tertarik padamu malam itu, karena kau begitu memikat di mataku ... aku mampu mengajakmu mengobrol panjang lebar dan mengajakmu ke rumah.”
“Aku malu,” lirih Brielle yang sama sekali tidak terdengar di telinga Leonathan sampai lelaki itu mengerutkan keningnya. Brielle yang sudah tak ingin berbicara lagi buru-buru memutar tubuhnya walau gagal, bahunya masih ditahan Leonathan. “Aku mau tidur, ini sudah malam.”
“Apa jawabanmu? Aku tidak dengar.”
“AKU MALU! PUAS?!” sentaknya bersama air mata yang mendadak turun sendiri. “Aku malu pada diriku sendiri, Tuhan, dan janjiku! Karena itu aku pergi! Aku malu karena sudah tidak suci lagi! Tidak ada yang mau menerima perempuan sepertiku! Kau paham sekarang?! Kau puas mendengar alasan kepergianku?! Aku tidak mau melihat pandanganmu karena jijik padaku!”
Leonathan membawa Brielle ke dalam dekapannya, mengulurkan dua tangannya ke punggung. Dipeluknya Brielle erat-erat, dan mampu membuat sepasang tangan Brielle melingkar di badannya. “Aku tidak akan melakukan itu, Elle,” Leonathan berbisik sangat dalam sampai kalimat itu berhasil menancap di lubuk hati sang wanita. “Aku terpikat padamu sejak pertama kali melihatmu, tidak mungkin aku melakukan hal sebodoh itu pada wanita yang berhasil menarik hatiku. Bagaimana aku bisa merasa jijik di pagi hari jika sebelumnya aku merasa terbang bersamamu?”
“Jangan berani-beraninya menggombal!” sahut Brielle yang mulai gugup, salah tingkah karena mendengarkan penjelasan menenangkan sekaligus membahagiakan dari Leonathan. “Huh, bagaimana pun juga, aku tetap berdosa. Aku pergi karena tidak ingin pergaulan bebas, aku sangat menyesal masuk ke kelab malam.”
Leonathan menarik diri dan kembali menatap Brielle penuh selidik, berusaha menggali pesan tersirat dari kedua mata cokelat milik wanita di hadapannya ini. “Apa kau menyesal atas semua yang terjadi?” tanyanya yang membuat ibu Elnathan itu memejamkan matanya. “Jawab pertanyaanku, Elle ... apakah kau menyesal bertemu denganku?” Brielle menarik napasnya dalam-dalam dan itu membuat Leonathan semakin memberikan pandangan menusuk. “Kau tidak mencintaiku?” pertanyaannya mengalun tajam. “Jawab, Elle.”
“Aku tidak menyesal karena hamil, melahirkan, dan merawat Elnathan dengan semua tenagaku selama ini," cerocos Brielle sembari mengusap air matanya sendiri. Leonathan yang melihat itu pun ikut menyeka dengan senyum sedikit membingkai di wajahnya yang tampan, tetapi penuh kegelisahan.
“Boleh aku mengharapkan satu hal padamu?" Brielle yang semula mengerut bingung, sedetik kemudian mencoba untuk mengangguk kecil. "Aku ingin sebuah harapan kecil jika kau tidak bisa mencintaiku,” balas Leonathan yang sedikit lega mendengar penuturan singkat dari mulut wanita pemilik hatinya.
“Apa?”
“Jangan mencintai orang lain.” Sontak saja Brielle melotot. "Aku tidak akan diam jika orang lain berhasil mengisi hatimu, Elle. Aku ingin kau hanya melihatku seorang. Tidak ada pria lain, bahkan sampai kau mati sekalipun."
"Apa-apaan kau ini?!"
"Aku tidak pernah sudi melihatmu bahagia dengan pria lain selain diriku."