Kejadian yang sama terulang, menjelang siang Leonathan mengajak Brielle untuk menjemput putra mereka. Dengan tersenyum manis pria yang memakai kemeja merah itu membukakan pintu untuk sang wanita. “Silakan ... Honey,” ucapnya tak ketinggalan. Mengabaikan penuturan lelaki gagah dan murah senyum di hadapannya, Brielle melemparkan tatapan ke arah lain dan masuk tanpa bersuara. Duduk manis dan memakai sabuk pengaman, ia tinggal menunggu mobil hitam ini membawanya bersama Leonathan ke sekolah anak mereka berdua.
“Mengapa kau hanya diam? Radang tenggorokan atau sariawan?” tanya pria yang sudah melajukan kendaraannya dan melirik sekilas pada perempuan di samping kiri yang menoleh beberapa detik saja padanya. “Ada apa dengan tatapan kesalmu itu? Apa dugaanku salah?” tambahnya yang membuat Brielle semakin malas meladeni.
“Bisa berhenti bertanya?! Pertanyaanmu itu membuatku ingin turun dari mobil sekarang juga!” Bibirnya menembakkan u*****n kesal dan melotot lebar-lebar pada Leonathan yang sama sekali tidak takut. “Mengarang saja terus!” Mencoba bernapas normal, ia membuang muka dan menatap depan. “Kau pikir pertanyaanmu itu lucu?!” semburnya lagi dengan tangan dilipat di depan badan lalu sandaran.
“Jika bukan karena penyakit mulut dan tenggorokan, lalu apa? Aku bosan diabaikan olehmu, Elle. Bicaralah, setidaknya beberapa kata.”
“Kaulah alasanku bungkam.” Brielle mengatakannya dengan sungguh-sungguh dan itu membuat Leonathan menekuk bibirnya ke atas dan membuat senyum tipis itu beberapa detik, sebelum sepasang mata Brielle menangkapnya. Wanita itu memang menoleh, namun hanya untuk menekankan, “berhenti bertingkah seperti pasanganku saat bertemu orang tua murid lainnya. Menurutmu aku suka disentuh? Hah! Sama sekali tidak!”
“Salahkan tubuhmu yang mungil. Badan kecil dan muka manismu itu yang membuatku tak tahan ingin memelukmu.” Pria ini mengatakan tanpa melihat ke lawan bicara, sementara yang menerima jawabannya sudah tak bisa tenang lagi. Terlihat dari cara dia memandang ke arah Leonathan tanpa berkedip. Masih fokus pada jalan raya yang tampak agak sepi, Leonathan menjawab lagi, “ada pria yang tahan untuk tidak merangkul orang yang ia rindukan setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu? Jika ada, pria itu sudah bodoh dan gila.” Mendadak menatap Brielle, menyugar rambutnya dan berdeham singkat. “Munafik jika kau pura-pura tidak rindu, menahan diri dengan jaga jarak denganku tetapi, hatimu ingin sekali melihatku ada di sisimu, Elle.”
“Apalagi ini?! Kau mengira aku apa?! Merindukanmu? Tidak! Tidak pernah!” sangkalnya yang mulai meluap-luap. “Jangan pernah mengada-ada dan berkhayal setinggi itu,” imbuhnya dengan tertawa-tawa. “Hidupku sungguh tenang selama memilih pergi sejak malam itu. Turunkan lagi kadar percaya dirimu, itu sangat tidak baik.” Brielle geleng-geleng kepala karena miris.
“Lalu mengapa kau harus malu-malu saat aku mendekap pinggangmu?” Mobil Leonathan menepi dan berhenti. “Mengapa pipimu harus berganti warna menjadi merah muda ketika aku memanggilmu dengan panggilan sayang?” Melepas seatbelt, Leonathan segera mengikis jarak di antara keduanya. Tubuhnya condong ke menyamping dan satu tangannya sudah berada di atas puncak kepala Brielle. “Jika aku dekat seperti ini, apakah jantungmu berdegup begitu kencang seperti jantungku?” sambil meraih dagu Brielle dan membuat kepala wanita itu mendongak.
Sontak Brielle terpaku pada sorot mata biru jernih di hadapannya, dengan bibir kaku dan lidah kelu ia berusaha membasahi kerongkongan yang tiba-tiba kering. Hanya gerakan kepala sebanyak dua kali ke kanan dan kiri yang Brielle berikan sebagai respons. Dikunci seperti ini oleh Leonathan, rasanya ia mati kutu. Tubuhnya lemas, tak berdaya kalau disuruh mendorong pria yang begitu dekat dengannya ini.
“Kau bahkan tidak berkutik, Elle.” Tangan Leonathan terulur ke pelipis kanan Brielle, tepat setelah ia melihat luka kecil seperti goresan dan darah kering. “Ceroboh sekali,” komentarnya lalu mengecup secepat kilat pipi kanan wanita yang sedari tadi sulit bernapas. “Mengapa kau biarkan darahnya mengering sendiri?” Belum sempat dijawab, Brielle dikejutkan oleh tangan yang tiba-tiba mendarat di perutnya, melingkupi tubuhnya. Bukan cuma itu, tanpa disangka-sangka oleh sang pemilik luka, Leonathan mendaratkan bibirnya di sana. Leonathan mengecup, melekatkan bibirnya di luka Brielle cukup lama.
Hati yang semula berdebar-debar, kini kian menggila di dalam sana. Jantungnya seperti berjoget-joget, jarang sekali Brielle merasakan ini. Bahkan, dulu ketika dia berpacaran dengan kekasih pertamanya ia tak pernah separah ini. Apa mungkin ia benar-benar jatuh pada pesona Leonathan yang terkenal dengan mata keranjangnya? “TIDAK MUNGKIN!” semburnya yang seketika mampu membuat Leonathan terkejut dan menarik bibir dari luka kering Brielle.
“Ada apa? Kau membayangkan sesuatu?”
“Tidak! Tapi aku harus menjemput anakku!”
“Anak kita,” ralat Leonathan yang tak lagi melingkarkan tangannya di perut Brielle dan memilih bangun lalu turun dari kendaraan beroda genap, lebih dari dua itu. Ia juga membuka pintu untuk Brielle seperti yang sudah-sudah. “Kau sampai tidak sadar jika kita sudah di sini?” tanya Leonathan ketika melihat raut wajah terkejut wanita berambut panjang itu.
“Bisakah kau diam sebentar? Aku meragukan, kau ini asli pria.”
“Ternyata kau berani berkomentar seperti itu meskipun aku sudah membuktikannya dengan membuatmu melahirkan darah dagingku, Elle?” Leonathan tertawa. “Apa kau ingin mencobanya lagi? Dengan senang hati akan kulakukan,” lanjutnya bersungguh-sungguh dan merapatkan diri ke Brielle. “Tentukan tanggalnya dan aku siap menikahimu ... Honey,” bisiknya sesudah merangkul Brielle. Tanpa malu dan ragu, Leonathan juga merekatkan bibirnya ke pipi kiri Brielle sebelum mencium sekilas kening.
Brielle yang sedari tadi diperlakukan manis oleh Leonathan hanya bisa membuang muka ke arah lain tanpa membantah sedikit pun semua ucapan papa Elnathan. Ia lebih memilih diam di pelukan Leonathan sambil tersenyum ke wali murid yang menyapanya juga Leonathan.
Leonathan sendiri lebih memilih diam dan fokus melihat ekspresi Brielle yang terlihat gugup di matanya. Ia semakin memekik senang di dalam hati kala tatapan Brielle tampak seperti bingung, salah tingkahnya kentara dan Leonathan begitu menyukainya. “Rencana Papa semakin berkembang, El,” bisiknya di dalam hati ketika bocah yang memakai kemeja kotak-kotak merah itu berlari ke arahnya dan Brielle.
Setelah menjemput anak mereka, Leonathan tak langsung mengirim Brielle dan Elnathan ke toko bunga, melainkan mengajak mereka ke kafe Mixture yang terkenal ramai di jam-jam istirahat seperti sekarang. Leonathan memesankan menu sekaligus membuat kopi untuknya dan Brielle dengan dua tangannya, sembari menatap Brielle serta Elnathan yang berada di pangkuan wanita itu dari kejauhan. “Aku tidak sabar ingin seatap dengan kalian,” gumamnya sembari membawa cangkir yang sudah berisi dan keluar dari meja bar.
“Papa, El boleh main ke lumah (rumah) Papa?” tanya bocah itu begitu kedatangan Leonathan membuatnya tersenyum lebar.
Leonathan lantas mengangguk-angguk. “Boleh, jika El ingin tidur di rumah Papa juga boleh. El dan Mama boleh ke rumah Papa.” Menelisik Brielle, nyatanya wanita itu cuma menatapnya tajam seperti biasa. “Milik Papa sudah menjadi punya El dan Mama," jawabnya lagi dan diteruskan di batin, "dari dulu.”
“Asyiiik...! Yes! El mau ke sana, Papa!”