Desahan Terputus
Tika terengah-engah, tubuhnya tak mampu bergerak di bawah pengaruh tangan sahabatnya, Riko. Riko, yang selama ini diam-diam memendam rasa pada Tika, tak lagi bisa menahan diri. Keheningan kampus setelah jam kuliah berakhir menjadi saksi bisu tindakan Riko yang tak terduga.
"Tika... maafkan aku..." gumam Riko sambil menyentuh bahunya, sementara Tika mencoba menjauh, namun tubuhnya seolah tak mampu merespons.
Riko mengendalikan dirinya dengan susah payah, menyadari batas yang tak seharusnya dilanggar. Meski Tika merasa terguncang, tak ada yang bisa ia lakukan selain membiarkan semuanya terjadi, di antara rasa takut dan bingung yang membelenggu.
Riko membawa Tika ke sudut sunyi di laboratorium kampus. Ia tahu apa yang ia lakukan salah, tetapi hasrat yang dipendamnya selama ini membutakan pikirannya. Tika hanya bisa menangis diam-diam, merasa tercabik di antara rasa bersalah dan keheranan pada dirinya sendiri. Meski Riko belum sampai mengambil kehormatan Tika, namun ia merasa dirinya sudah ternoda.
"Aku... aku ingin pulang," kata Tika pelan, hampir berbisik.
Riko berhenti, menarik diri dengan kesadaran yang baru saja menyeruak di benaknya. Ia menatap Tika dengan pandangan yang penuh penyesalan, tetapi Tika segera membereskan dirinya, berusaha menghilangkan jejak dari apa yang baru saja terjadi.
Setelah membersihkan diri, Tika berjalan cepat menuju halte bus. Namun, Riko yang merasa bersalah menghentikan mobilnya di depan halte, menawarkan tumpangan.
"Naiklah, biar aku antar," suaranya tenang namun tegas.
Tika, yang lelah baik secara fisik maupun emosi, akhirnya menurut. Sepanjang perjalanan pulang, keduanya tenggelam dalam kebisuan yang berat. Sesampainya di rumah, Tika segera masuk tanpa pamit, meninggalkan Riko dengan penyesalannya yang dalam.
Saat tiba di rumah, ibunya yang sedang sibuk menjahit menanyakan kenapa ia terlambat pulang. Tika mengelak, mengatakan ada kelas tambahan. Pikirannya masih kacau, meresapi apa yang baru saja terjadi.
Malam harinya, Tika pergi bekerja sebagai pelayan di bar. Pekerjaan ini dilakukannya untuk membantu ekonomi keluarga, meski sering kali ia merasa risih dengan suasana di sana. Saat ia melayani tamu, pandangannya tertuju pada seorang pria yang duduk di sudut bar. Pria itu berpakaian rapi, wajahnya dingin, tatapannya tajam.
"Ini pesanan Anda, Tuan," ujar Tika sambil meletakkan minuman di meja. Namun, pria itu menatapnya lama, seperti menelusuri setiap gerakan Tika.
"Temani aku malam ini," ucap pria itu tanpa basa-basi.
Tika tersentak, "Maaf, saya hanya pelayan di sini."
"Aku akan membayar lebih. Temani aku," desaknya, kali ini sambil menggenggam pergelangan Tika.
Tika berusaha menolak dengan sopan, tetapi pria itu menariknya, membuatnya jatuh ke pangkuannya. Hatinya berdebar-debar, ingatan tentang apa yang terjadi siang tadi kembali membanjiri pikirannya.
Pria itu menatapnya dalam-dalam, seakan menunggu reaksi. Namun, Tika hanya terdiam. Akhirnya, pria itu mendekatkan wajahnya, menyentuh lembut bibir Tika, dan melumatnya dengan penuh ketenangan. Tika masih terpaku, tak tahu harus berbuat apa. Hanya rasa getir di dadanya yang menyelimuti setiap inci kesadarannya.
Setelah beberapa saat, pria itu melepaskan Tika, membiarkannya mengatur nafas. Namun, tatapan tajam pria itu masih menuntut, "Temani aku malam ini," bisiknya lembut di telinga Tika, membuat bulu kuduknya berdiri.
Tika merasa terjebak, namun ia tahu, ia harus mengambil keputusan.
Tika terdiam sesaat, matanya masih terpaku pada pria itu, pria yang belum pernah ia temui sebelumnya tetapi begitu kuat auranya. Tatapan pria itu seperti menelanjangi setiap lapisan hatinya, membuat Tika merasa tak berdaya. Hatinya bergejolak, campuran antara rasa takut, bingung, dan sedikit penasaran. Namun, dia segera menguatkan diri.
"Aku benar-benar tidak bisa, Tuan," jawab Tika dengan suara yang sedikit bergetar, berusaha tegar meskipun dadanya masih bergemuruh. "Saya hanya bekerja sebagai pelayan di sini, tidak lebih."
Pria itu menatapnya dengan alis sedikit terangkat, seperti tidak terbiasa mendengar penolakan. Sebuah senyum kecil tersungging di sudut bibirnya, senyum yang tak bisa ditafsirkan oleh Tika apakah itu tanda penghargaan atau justru tantangan.
"Kau tahu, aku bisa membuat malam ini sangat menguntungkan bagimu," ujarnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut namun tetap penuh otoritas.
Tika merasa semakin terdesak. Dia tahu, pekerjaan di bar ini sering kali membuka pintu bagi wanita-wanita muda untuk melakukan hal-hal yang lebih daripada sekadar menyajikan minuman. Dan itu bukan rahasia di tempat ini. Banyak teman kerjanya yang menerima tawaran seperti ini dan pulang dengan kantong lebih tebal, tapi Tika selalu menolaknya.
Namun, kali ini berbeda. Pria di depannya bukan sembarang tamu. Dingin, berkarisma, dan... misterius. Hatinya berteriak, menuntut agar ia segera melepaskan diri dari situasi ini, tapi tubuhnya seolah menolak untuk bergerak. Belum pernah ada pria yang membuatnya merasa seperti ini, seakan dirinya tak memiliki kendali penuh atas tubuh dan pikirannya.
Pria itu kemudian berdiri, masih memegang pergelangan tangan Tika dengan lembut tapi tegas. Tanpa perlawanan yang berarti, Tika terpaksa mengikuti langkahnya keluar dari keramaian bar. Udara malam yang dingin menyapu wajahnya ketika mereka tiba di luar, sedikit memberikan kejernihan pada pikirannya. Namun, Tika masih merasa seperti berada dalam kabut ketidakpastian.
Mereka berhenti di depan sebuah mobil hitam mewah yang terparkir di sudut bar. Pria itu membuka pintu penumpang tanpa berkata apa-apa, seolah-olah sudah dipastikan bahwa Tika akan ikut dengannya. Sejenak, Tika ragu, matanya menatap kosong ke dalam mobil yang terlihat begitu nyaman tapi juga seperti jebakan.
"Ayo," kata pria itu dengan suara tenang namun memerintah. "Aku hanya ingin berbicara denganmu lebih lanjut. Tidak perlu takut."
Tika tahu dia seharusnya menolak, tetapi tubuhnya, mungkin karena lelah atau keputusasaan, bergerak dengan sendirinya. Dia masuk ke dalam mobil itu, dan pintu di sebelahnya pun tertutup dengan bunyi pelan yang terdengar seperti menutup semua kemungkinan untuk melarikan diri.
---
Di dalam mobil, suasana begitu sunyi. Pria itu tidak langsung mengajaknya bicara. Ia hanya menatap lurus ke depan, tangannya dengan tenang mengemudi di jalanan yang sepi. Tika, yang awalnya waspada, perlahan merasa sedikit lebih nyaman meski perasaan canggung masih menguasainya.
"Aku Aska," kata pria itu akhirnya, memecah keheningan yang berat.
Tika menoleh sejenak, menatap profil Aska dari samping. Wajahnya terlihat tegas dan maskulin, dengan rahang kuat yang menunjukkan kekerasan hati. Namun, ada sesuatu di balik dinginnya tatapan itu, sesuatu yang membuat Tika ingin mengetahui lebih banyak.
"Aku Tika," jawabnya singkat, suaranya hampir tak terdengar.
Aska mengangguk sedikit, tapi tetap fokus pada jalan. "Aku tahu siapa dirimu, Tika."
Jawaban itu membuat Tika sedikit tersentak. Apa maksudnya? Bagaimana mungkin pria ini tahu siapa dirinya? Jantungnya mulai berdetak lebih kencang lagi.
"Kau bekerja keras untuk keluargamu. Pelayan bar di malam hari, mahasiswa di siang hari. Itu tidak mudah," lanjut Aska dengan nada datar, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca.
Tika merasakan kecurigaan tumbuh dalam hatinya. "Bagaimana... bagaimana kau tahu semua itu?" tanyanya dengan suara gemetar, tiba-tiba merasa dirinya lebih kecil di hadapan pria itu.
Aska tidak langsung menjawab. Dia membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara, seperti menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu. Setelah beberapa menit keheningan yang menegangkan, dia akhirnya berbicara lagi, suaranya lebih dalam kali ini.
"Aku sudah lama memperhatikanmu, Tika."
Kata-kata itu menghantam Tika seperti angin dingin di malam hari. Apa yang dimaksudnya? Apakah pria ini seorang penguntit? Pikiran-pikiran liar mulai memenuhi benaknya. Dia memalingkan wajah, melihat ke luar jendela sambil merasakan perutnya bergejolak.
"Aku tidak bermaksud menakutimu," kata Aska, tiba-tiba terdengar lebih lembut. "Tapi ada alasan kenapa aku memperhatikanmu."
Tika diam, menunggu Aska melanjutkan. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan. Suasana menjadi semakin tegang dengan setiap detik yang berlalu.
Aska akhirnya menepikan mobil di tempat yang lebih sepi, di pinggiran kota. Dia mematikan mesin dan menoleh ke arah Tika, tatapannya kini lebih dalam, seolah-olah dia sedang mencari sesuatu di mata Tika.
"Kau mungkin belum tahu ini, Tika. Tapi hidupmu akan berubah. Dan aku akan berada di sana saat itu terjadi."
Tika merasakan napasnya tersendat. Perasaan aneh mulai menyelimuti hatinya. "Apa... apa maksudmu?"
"Tika, kau harus bersiap. Ada banyak hal yang belum kau ketahui. Dan saat kau tahu, semuanya akan berubah."
Tika merasa takut, bingung, dan terhimpit oleh semua informasi yang dilemparkan kepadanya. Namun sebelum dia bisa menanyakan lebih lanjut, ponsel Aska berdering. Wajah Aska langsung berubah serius saat melihat layar ponselnya.
"Maaf, aku harus pergi," ucapnya cepat sambil menyalakan mesin mobil." Tapi kita akan bertemu lagi, dan saat itu, kau akan mengerti."
Tika ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Aska sudah menancap gas. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Tika sendirian di sudut jalan yang sunyi. Tika berdiri, terpaku, dengan ribuan pertanyaan yang belum terjawab menggantung di benaknya.
Siapa sebenarnya Aska? Apa yang ia ketahui tentang dirinya?
Jadilah istri kontrakku!