Siangnya setelah mendengarkan pengakuan Bang Iger.
Gue pergi menjemput Ria.
Mau makan siang dulu bareng Ria.
Baru ke rumah.
Buat persiapan acara syukuran kecil.
Acara syukuran besar nanti.
Kalau Sanjay udah divonis.
Om Rajay mah terserah.
Kasus utama kami kan Sanjay.
Apalagi Wakil Rektor 2 kagak urusan lagi.
Om Rajay dan Wakil Rektor 2 mah cuman bonus dari kasus Sanjay.
Jam 1 lewat gue sampai di rumah.
Tentu bersama Ria.
Karena hanya acara kecil.
Tentu tidak perlu banyak persiapan.
Tapi gue liat ruang tamu rame.
Ada 3 pasang orang tua.
Menemani anak gadis mereka.
Waduh jangan jangan mereka mencari Bang Iger.
Gue dan Ria masuk ke rumah.
Seperti biasa Ria mengucap salam.
Assalamualaikum.
Gue masih penasaran.
Bertanya dengan tatapan mata ke arah Nana.
Nana mengkode agar gue ke belakang.
Gue dan Ria pun pergi ke kebun belakang.
Nana menyusul.
Di sana dia menjelaskan bahwa.
Ketiga gadis tadi adalah korban pelecehan Sanjay juga.
Sama seperti Ririn.
Yang parah 1 korban udah diperk*s*.
Yang 2 masih aman.
Tapi tidak melawan.
Mereka takut.
Jadi tidak pernah melaporkan.
Mereka ke sini untuk meminta saran.
Dan mungkin juga bantuan.
Babe tentu saja bersedia membantu.
Babe sudah menghubungi 2 pengacara selain pengacara yang mendampingi Ririn.
1 korban sudah punya pengacara sendiri.
Ok lah gue sudah paham.
Yang penting bukan Bang Iger aja yang dicari.
Gue pun keluar bermaksud mencari tau hasil perundingan.
Kalau bisa gue juga mau bantu sebisa gue.
Ya apalah daya gue mahasiswa baru mau lulus.
Tapi gue usahakan sebisa gue.
Yang penting niat dulu.
Akhirnya mereka memutuskan untuk melapor juga.
Disertai bukti yang mereka miliki.
Sulit memang dari mereka bertiga.
Hanya satu yang buktinya kuat.
Tapi kita menguatkan agar tidak menyerah.
Babe bahkan bersedia membantu juga secara finansial.
Bukan hanya mencari bukti aja.
Ataupun hanya sekedar memberikan pengacara.
Babe bersedia all out untuk membantu.
Memang Babe superhero nih.
Setelah tamu pergi acara syukuran kecil mulai dipersiapkan.
Ria tampak sumringah membantu.
Ketika ada waktu istirahat.
Gue samperi doi gue ini.
Tiba tiba aja gue mau ketemu bokap nyokapnya.
Ria tidak keberatan tapi kan beda kota.
2 jam perjalanan dari kota kami kalau lancar.
Akhirnya kami sepakat berangkat selasa pagi.
Kan tidak ada kuliah selasa sampe minggu.
Kuliah cuman senin doang.
Paling 2 pertemuan lagi.
Mending selasa ini berangkatnnya.
Soalnya kalau minggu yang akan datang lagi.
Mepet sama waktu ujian.
Tentu Ria tambah senang.
Bakal kenalin gue sebagai calonnya.
Kepada Bokap Nyokapnya.
Apalagi gue serasa melayang.
Habis acara syukuran kecil.
Ria nginap di kamar Ririn.
Wew akrab nih keduanya.
Cuman gue liat Nana agak kesel.
Sepertinya cemburu.
Biasanya kan Ririn sama dia.
Hari senin kami kuliah seperti biasa.
Pada siangnya ada insiden.
Gembul lagi makan bareng kami.
Disamperin sama adik kampus kami.
Cowok berdua orang.
Terus marah marah tuh cowok.
Sedang teman nya hanya melihat.
Dari yang gue dengar.
Dia ancam Gembul agar menjauhi seorang cewek.
Gembul tertawa.
Gembul bilang tuh cewek yang dekati Gembul.
Terus menyatakan suka.
Gembul pun suka.
Jadian dong kan wajar.
Orang saling suka.
Cowok itu ga terima.
Sekarang ngancam Gembul.
Tuh cowok ngajak duel Gembul.
Gembul terima dong.
Nih Gembul kan satu dojo sama gue.
Mana takut dia diajak duel.
Asal tangan kosong.
Satu lawan satu.
Dia terima tanpa takut.
Jadi mereka ke lapangan.
Para mahasiswa sudah berkumpul.
Pada kepo mau tau.
Sekalian nonton duel.
Gembul ambil kuda kuda.
Tuh cowok jadi ragu.
Tapi akhirnya nyerang juga.
Gembul melindungi titik vital.
Wajah dan kem*l**n.
Pukulan tuh cowok masuk ke perut Gembul.
Bukan sekali tapi berkali kali.
Sampai tuh cowok kecapean.
Sedangkan Gembul hanya tertawa.
Lah orang perutnya tebal begitu.
Lapisan lemaknya pelindung.
Kalau cuma pukulan begitu.
Ga terasa kata Gembul.
Gembul mendekat ke lawannya yang kecapean.
Mengangkat tangan menampar lengan tuh lawan.
Lawan terdorong jauh akibat tamparan.
Langsung meringis kesakitan.
Kemudian menggosok lengannya.
Lah jelas sakit ditampar anak gajah.
Untung bukan wajah.
Kalau wajah pingsan tuh.
Masih juga bilang untung.
Orang sudah kesakitan begitu.
Gue lihat teman tuh cowok ngeluarin pisau.
Pisau dari balek baju.
Gue langsung samperin dan pukul tuh tangannya.
Satu pukulan gue layangkan ke hidung.
Piasunya jatuh.
Gue tendang pisau menjauh.
Bobi mengejar pisau.
Hendak mengamankan pisau.
Gue suruh ambil dengan tangan tertutup kantong plastik.
Agar tidak ada sidik jari Bobi.
Bakal hanya ada sidik jari si pemilik.
Bobi mengikuti perintah gue.
Pisau diamankan.
Gembul hanya melihat cowok yang dia tampar tadi.
Berjalan mendekat ke cowok yang masih mengaduh kesakitan.
Mau lanjut? tanya Gembul.
Sambil mengangkat tangan hendak menampar lagi.
Cowok itu ketakutan sekarang.
Cewek yang diperebutkan datang.
Dia langsung meluk Gembul.
Jangan oppa.
Nanti oppa diskors.
kata tuh cewek menenangkan Gembul.
Gembul berhenti.
Tapi para dosen datang.
Alhasil kami dibawa ke ruang dosen.
Karena ada kelas.
Kami berjanji balek lagi ke ruang dosen setelah kelas.
Dosen mengijinkan.
Mengingat track record kami.
Kami kan mahasiswa baek baek.
Habis kelas kami ruang dosen lagi.
Gue dibebaskan dari perkara.
Karena gue hanya mengamankan orang yang membawa sajam.
Dosen melaporkan pembawa pisau ke polisi.
Karena itu sudah melanggar hukum.
Bukti pisau telah diserahkan Bobi kepada Dosen.
Bukti lain rekaman CCTV.
Gembul hanya dihukum membersihkan halaman kampus.
Selama 1 minggu.
Tentu cowok yang ngajak duel juga dihukum.
Bedanya selaku yang bikin ulah.
Dia kena hukum 2 minggu.
Pulang dari kampus setelah insiden.
Gue ke kos Ria.
Dia hendak menyiapkan pakaian untuk pulang ke rumahnya.
Malam ini dia bakal nginap di rumah gue.
Besok pagi setelah sarapan langsung berangkat.
Jadi ga perlu bolak balik jemput dia ke kos dulu.
Jangan Suudzon dia tidur di kamar gue ya.
Dia tidur bersama Ririn.
Malamnya gue ngelobi Bang Ion.
Mau pinjam Pajero Sportnya.
Ga mungkin dong gue bawa Kijang Krista lama ke rumah Ria.
Mana jalannya jauh.
Kalau mogok atau rusak gimana.
Awalnya Babe nawarin mobilnya.
Kan ada 3 gue tinggal milih.
Tumben gue jadi anak emas.
Tapi gue tolak.
Mobil Babe kelewat mewah semua.
Bayangin Bentley, Ferrari dan Jaguar.
Bah mana boros BBM semua itu.
Minum pertamax bagai minum air tuh mobil.
Ogah dah.
Bisa bangkrut gue sebelum sampe rumah Ria.
Lagian terlalu mencolok mata.
Mau pake Pajero Sport Bang Iger jelas tidak mungkin.
Akhirnya hanya mobil Bang Ion.
Apalagi Bang Ion kan ngerti mesin.
Kalau mobil gue di tangannya aman deh.
Akhirnya Bang Ion ngasih mobilnya.
Dia mau bawa Rubycon Nyak aja.
Lah dia kan kesayangan Nyak.
Pasti dapet.
Ga aman bawa mobil gue kata Bang Ion.
Dia kan lagi tugas akhir kuliah.
Gawat kalau telat masuk kuliah gara gara mobil gue.
Benar atau betul sih?
Selasa pagi gue dan Ria pun berangkat setelah sarapan.
Terlebih dahulu meminta izin dan doa restu Babe dan Nyak.
Juga Bang Iger dan bini bininya.
Juga Bang Ion.
Duo cempreng tuh mah biarin aja.
Wew macam mau pergi lamaran aja.
Kami pun berangkat.
2 jam lebih perjalanan.
Kami sampai kota asal Ria.
Akhirnya setelah beberapa menit.
Kami sampai rumah Ria.
Orang tua Ria sudah siap menyambut Ria.
Soalnya Ria sudah memberitahu mereka bakal pulang.
Kedua orang tua Ria ditemani seorang pria dan seorang wanita berdiri di teras rumah.
Keluarga Ria langsung berpelukan.
Eh gue jadi kambing congek dong.
Sementara doang sih.
Gue segera mengucap salam.
Assalamulaikum.
Walaikumsalam
Mereka membalas.
Ria pun memperkenalkan gue kepada keluarganya.
Ria : Ini kekasih hati Ria.
Gue : Nama saya Cat Ron Prawira. Yah Bun Bang Kak.
Ayah : Apa CaRon Prawira? Aku kira cewek.
Sementara yang lain senyum menahan tawa.
Gue kesal sih.
Tapi mesti disabarin.
Gue : Catt Ronn Prawira. Yah.
Ayah : Dak usah teriak. Aku belum b***k.
Astajim.
Nih Ayah mertua sepertinya sengaja.
Mungkin mau test mental gue
Ayah : Saya Somad Mayjaya. Jangan panggil Ayah Somay ya. Gue pecat lu nanti dari menantu.
Astaganaga.
Belum jadi mantu udah dipecat kalau salah manggil.
Ibu : Saya Putri Putih. Panggil saja Bunda Puput. Ibu dari Riana.
Gue : Iya Bun.
Pria : Saya Hermawan Kurniawan Lesjaya. Panggil saja Bang Herkules. Abang kedua Riana.
Wew Abang pertamanya Samson. Abang keduanya Herkules.
Bisa jadi perkedel gue kalau macam macam.
Wanita : Saya Kusuma Wati. Boleh dipanggil Kak Wati saja. Istrinya Bang Herkules.
Gue pun dipersilahkan masuk.
Kemudian diajak ke sebuah kamar.
Ternyata kamar Bang Samson.
Gue disuruh nempatin.
Karena Bang Samson tidak di rumah.
Kan dinas di pulau seberang.
Beserta keluarganya.
Gue letakkan tas.
Terus keluar kamar.
Tentu saja buat berbincang dengan calon mertua dan calon ipar.
Ayah : Kamu tahu Ria sudah saya jodohkan dengan anak teman saya. Dia kerja di perusahaan *****. Sama dengan Herkules juga kerja di sana. Jadi apa kelebihanmu dibanding dia?
Wew to the point nih Ayah.
Lagipula itu kan perusahaan Babe
cabang kota ini.
Gue : Sebentar lagi gue lulus. Dengan nilai gue harusnya tidak susah cari kerja di kota Jakarta.
Bang H : Saya direktur utama perusahaan ***** cabang kota ini. Sedangkan anak teman ayah adalah wakil saya. Kamu kalau nyerah, Saya masukan ke perusahaan saya bekerja.
Wedeh mau nawar gue mundur kejar Ria.
Tapi sogokan kerja di perusahaan cabang Babe.
Menghina amat nih Bang Herkules.
Emang gue lihat dia rada songong.
Tapi lihat lihat dulu dong siapa yang dihina.
Gue : Gue sudah ditawarin kerja jadi staff manager di perusahaan pusat. Gue telepon HRD nya deh kalau abang ga percaya.
Gue pun keluar.
Terus telepon Babe minta bantuan.
Ga lama tuh HRD telepon gue.
Gue masuk rumah.
Kasih HP ke Bang Herkules.
Bang Herkules terima tuh telepon.
Ga lama kemudian dia hanya bilang iya Pak iya Pak.
Terus telepon berhenti.
Dia mandang gue takjub.
Secara staff manager di perusahaan pusat sama dengan direktur di perusahaan cabang.
Bang H : Baiklah aku restui kalian.
Bang Herkules ngaku kalah.
Tinggal Ayah dan Bunda saja.
Ayah : Jadi kamu sudah bakal kerja di perusahaan pusat tempat Herkules kerja?
Gue : Iya Yah.
Ayah : Baiklah saya restui juga kalian.
Bunda : Bunda berikan restu kepada pilihan Ria.
Pilihan Ria kan gue.
Restu pun didapat.
Hati lega.
Tapi gue langsung ditanya kapan lamaran.
Gue bilang mau nanya Babe dan Nyak dulu.
Setelah itu kami berbincang untuk lebih saling mengenal.
Dari perbincangan nih.
Ayah kerja jadi aparatur sipil negara.
Sepertinya jabatan lumayan tinggi.
Tapi sedikit sombong.
Nah Bang Herkules nih pasti ikutan dia.
Kalau Bang Samson mah baek.
Ramah supel.
Mirip Ria sifatnya.
Ternyata ikutan sifat Bunda.
Ok lah.
Cukup sampai di sini bab ini.
Kita lanjut bab berikut.