Tak ada yang tahu Ubed pergi dengan terpaksa. Bahkan dalam langkahnya wajah Liana memenuhi pandangan. Putaran ingatan dari sejak ia mengenalnya, taaruf, menikah, lalu melewati hari-hari bak candu yang membawanya melayang ke langit ke tujuh. Namun, semua rasa manis itu sekarang berubah jadi pahit racun yang akan membunuhnya. Senyum Liana yang tergambar di kepala seperti pisau yang merobek-robek akal. Ia tak mampu lagi berpikir selain menurutkan kemarahan. Bahkan untuk mendengar bagaimana kejadian itu berlangsung pun Ubed tak mampu. Selama ini cintanya untuk Liana sudah tertancap kuat-kuat. Maka ketika tercabut, rasa sakitnya tak terperi. Sama halnya wanita yang hanya bisa duduk pasrah di atas ranjang pesakitannya. Seseorang telah pergi menunjukkan punggungnya pada Liana. Ia berjalan den

