"Muhammad Rifay. Hem ... nama yang bagus." Kiai Hanafi mengulum senyum. Sementara Fay tertunduk mendengar setiap petuah pria paruh baya di depannya. "Selain ingin mendapat berkah dari nama Rasulullah Muhammad, orang tua Mas pasti menginginkan Mas menjadi insan mulia," sambung sang kiai. "Jika Mas yakin apa yang akan diceritakan menjaga kemuliaan Mas sebagai seorang muslim, katakan secara detail pada saya. Namun, jika menurut Mas itu akan menghancurkan Mas dan banyak orang, maka sebaiknya Mas memilih diam." "Tapi saya sudah terlanjur bicara Yai. Jika saya diam sekarang justru semua akan kacau." Kening Kiai Hanafi mengerut. "Apa maksud Mas Fay?" "Saya sudah membukanya pada suaminya, karena perempuan yang saya perkosa baru saja melahirkan. Dan ... dan saya sangat yakin anak perempuan yang

