Kamu dimana?
Rey, kamu baik- baik saja?
Zena kembali menghapus pesan yang baru saja dia ketik, lalu menyusun kata lagi, menghapus lagi, mengetik lagi.
Begitu yang dia lakukan sejak 15 menit lalu. Menatap ponselnya dengan gelisah, berharap ponsel tersebut bisa meredakan kegelisahannya.
Sudah tiga hari sejak dia menyerahkan dirinya pada Rey, dan pria itu menghilang bak di telan bumi.
Tak ada kabar dari Rey, dan kemana pria itu pergi.
Zena memang tak pernah mendapat pesan dari Rey untuk sekedar menanyakan kabar. Pria itu hanya menemuinya untuk mengantar dan menjemputnya.
Zena kembali menghapus pesannya lalu menunduk lesu. Dalam hati di penuhi ketakutan.
Benar memang, dia tak pernah melihat wanita di sisi Rey bertahan lama. Tapi Zena tak mengira jika nasibnya akan sama seperti mereka. Zena bahkan sudah menyerahkan dirinya pada Rey.
Menyerahkan kegadisannya.
Kalau sampai Rey meninggalkannya maka dia akan hancur.
Zena meremas ponselnya, dia sudah duduk di atas toilet selama setengah jam. Dia terus menatap ponselnya. Terus menimbang untuk mengirimi pesan atau tidak pada Rey.
Hingga akhirnya Zena memutuskan bangkit. Beberapa saat lagi kelasnya akan di mulai, jadi dia harus segera kembali.
Zena baru berdiri saat merasakan kakinya terasa kesemutan. Menahan dirinya di tembok Zena mencoba berdiri tegak. Saat tangannya bergerak membuka pintu suara beberapa orang memasuki toilet ramai terdengar.
"Udah kubilang, Si kampung itu juga gak akan bertahan lama. Lihat aja sekarang dia udah gak sama Rey lagi." Sebuah suara terdengar.
Tubuh Zena tertegun dengan tangan yang masih menekan tembok. Mendengar nama Rey di sebut Zena yakin si kampung yang mereka maksud adalah dirinya.
"Lagian sejak awal aja gak yakin Rey mau sama cewek cupu kayak gitu." gadis kedua bicara.
"Aku yakin dia juga cuma jadi mainan Rey. Buktinya setelah seminggu Rey gak sama dia lagi." gadis ketiga dengan suara berbeda ikut membuat pikiran Zena berkeliaran.
Mereka terkekeh. "Sekelas Revina aja Rey tinggalin, kan? Apalagi cuma si cupu." Revina adalah kekasih Rey sebelum Zena. Gadis cantik yang merupakan putri kampus.
"Kalian ngomongin aku?" Suara pintu bilik terbuka, dan pelakunya Revina.
"R— re kita gak bermaksud kok. Kita cuma lagi ngomongin si cupu itu."
"Jelas dia gak bisa di bandingkan sama aku." kekeh Revina.
Zena semakin menegang. Dengan kaki yang gemetar Zena memberanikan diri untuk keluar dari dalam bilik.
Saat melihatnya keluar para gadis itu terdiam beberapa saat mungkin karena terkejut. Namun tak lama Zena melihat meraka kembali berwajah biasa saja seolah tak terjadi apa- apa dan seolah yang mereka katakan tidak pernah menyakiti siapapun.
Revina mengedikkan kepalanya ke arah tiga gadis lainnya membuat para gadis itu mengangguk seolah mengerti apa yang dia maksud.
Zena berusaha tak peduli. Seperti biasa dia hanya menunduk lalu melewati mereka. Namun baru akan mencapai pintu tubuhnya tertarik dengan kepala yang mendongak ke atas.
"Berani banget kamu lewati kita gitu aja. Mentang- mentang udah deket sama Rey kamu jadi belagu?!"
"Ka— kalian mau apa?" Zena merasakan kulit kepalanya tertarik karena jambakan salah satu dari mereka.
"Mau kita, buat kamu kapok."
"Apa salahku, kenapa kalian ngusik aku?" Mata Zena berkaca- kaca. Rasa sakit di kulit kepalanya membuat Zena ingin menangis.
"Kita gak akan ngusik kamu kalau kamu gak belagu duluan!"
"Lagian gemes banget aku lihat muka cupunya." satu gadis lain menoyor kepalanya hingga tertoleh ke samping.
"Apa salahku?"
"Salahmu, cari perhatian sama Rey."
Kenapa salahnya, dia bahkan tidak mendekati pria itu. Tapi Rey lah yang mendekatinya.
"Tapi bagus akhirnya dia sadar. Kamu sudah di buang." Semua orang tertawa, namun Zena hanya mampu mengepalkan tangannya erat.
Rey tidak mungkin membuangnya setelah dia menyerahkan kegadisannya, kan? Kalau benar, maka pria itu berhasil menghancurkannya. Zena bahkan menyerahkan tubuhnya demi bisa terus bersama Rey. Tapi tiga hari ini Rey justru entah kemana.
Setelah ini pria itu tak mungkin membuangnya, kan?
Zena menggeleng. "Gak mungkin."
"Apa yang gak mungkin?"
"Gak mungkin Rey buang aku!" para gadis itu awalnya terdiam akhirnya tertawa.
"Mimpi, kamu! terus kemana Rey sekarang, hah! Dia udah gak peduli lagi karena itu dia gak anter jemput lagi."
"Tapi udah sepantasnya kamu bersyukur, kan. Bagaimanapun kamu pernah merasakan bareng dia."
"Karena itu kami ngerasa cewek cupu kayak kamu, gak pantes! Udah miskin belagu lagi."
Zena merasakan tubuhnya terdorong hingga kepalanya terbentur lalu ketiga gadis itu pergi begitu saja.
Zena merasakan kepalanya berdenyut nyeri, saat melihat sebuah kaki jenjang yang cantik Zena mendongak.
Revina...
Gadis itu tersenyum menyeringai dengan wajah pongah. Lalu menunduk menatap Zena.
"Kamu itu gak sepadan sama Rey. Bahkan meski Rey benar-benar menginginkan kamu, Orang-orang di sekitar Rey gak akan setuju." Revina tertawa. "Lagi pula Rey hanya menjadikan kamu mainannya. Saranku jangan berharap terlalu tinggi. Kamu dan Rey bukan untuk bersama."
Zena menelan ludahnya kasar. "Rey bilang aku kekasihnya." Zena berucap dengan ketakutan. Separuh hatinya ingin bertahan meski dia tahu kenyataan itu tidaklah mungkin.
"Lalu, sebutan kami sebelumnya, apa?"
Zena tertegun, wajahnya sudah basah dengan air mata. Revina mendengus lalu berbalik hendak pergi, namun Zena kembali bersuara. "Ti—dak, aku bahkan sudah menyerahkan tubuhku." Zena mempertahankan setitik keyakinannya jika dia Rey tidak mungkin meninggalkannya.
Dia sudah memberikan kehormatannya yang harusnya dia pertahankan untuk suaminya.
Revina mengernyit sesaat lalu terkekeh. Revina menolehkan kepala tanpa berbalik. "Kamu pikir selama ini yang kami lakukan apa? Hanya bergandengan tangan? Ayolah Zena kita sudah dewasa, bukan pacaran ala abege."
Tubuh Zena semakin meluruh dengan harapan yang sudah benar-benar hancur.
"Aku kasih tahu kamu kalau kamu mau menemukan Rey." Zena mendongak. "Kamu bisa tanyakan langsung padanya. Setiap Jumat Rey akan ada di club Star One." Setelah mengatakan itu Revina benar-benar pergi meninggalkan Zena yang merasa tersayat- sayat hatinya.
.....
Zena menatap club di depannya, tempat yang tak pernah dia datangi selama 21 tahun hidupnya.
Zena tak tahu kenapa dia mendengarkan Revina. Tapi gadis itu benar, dia harus menanyakan secara langsung. Meski nyatanya hatinya mungkin akan hancur.
Tapi setidaknya akan ada kejelasan dalam hubungan mereka.
Zena mengedarkan pandangannya ke seluruh club. Suara dentuman musik yang keras membuatnya tak nyaman, namun Zena berusaha melawan dan terus mencari keberadaan Rey. Hingga dia melihat punggung Rey menaiki tangga menuju lantai dua.
Zena mengikuti Rey menaiki tangga dan menyusuri lorong yang entah akan membawanya kemana. Suara musik dari lantai satu mulai samar. Zena melihat pintu berjejer, yang sepertinya ruangan VIP. Entah ruangan mana yang dimasuki Rey, namun Zena berhenti di setiap pintu untuk memastikan mendengar suara Rey. Hingga Zena berhenti di depan sebuah pintu yang sedikit terbuka.
Di dalam sana dia melihat Rey duduk bersama teman-teman di sofa bulat dengan masing-masing diampit dua gadis, termasuk Rey yang duduk tenang dengan sebatang rokok di belahan bibirnya.
Zena tertegun dengan tubuh membeku. Saat benar-benar mendengar suara dari dalam perasaan Zena benar-benar hancur dan yang Revina katakan benar. Dia memang hanya mainan Rey.