Cantik

1023 Kata
Pagi menyapa membuat matahari bersinar. Hari yang cerah secerah hati Zena hari ini. Mengingat kemarin dia diantar pulang Rey hingga ke depan rumahnya. Pria itu bahkan berkata akan menjemputnya juga pagi ini membuat Zena semakin merasa di awang- awang. Zena melihat jam di dinding, dia ada kelas pagi hari ini. Lagi pula mengingat Rey akan menjemputnya Zena menjadi lebih bersemangat. Setelah membersihkan dirinya Zena membuka lemarinya memilah pakaian yang cocok untuknya. Namun saat melihat sedikit pakaian yang sudah sering dia pakai Zena hanya bisa menghela nafasnya kasar. "Aku harus beli baju baru." Zena meraih pakaian asal lalu mengenakannya. Setelah selesai dengan pakaian kini Zena duduk di depan cermin. Tak ada perawatan kulit bahkan alat make up yang dia miliki, hanya bedak dan lipgloss. Lagi- lagi dia menghela nafasnya. Hari ini dia gajian di toko kue tempatnya bekerja. Dia akan membeli beberapa alat make up agar dia bisa berdandan, juga pakaian baru. Tidak mungkin dia bersanding di sebelah Rey dengan penampilan lusuhnya, kan? Rey benar- benar menjemputnya dan saat memasuki kampus, Rey menarik pinggangnya dan berjalan beriringan. Zena menunduk melihat tangan Rey di pinggangnya, bibirnya terkulum, dengan hati berbunga-bunga. Siapa sangka dia ada di posisi itu. Menjadi wanita pendamping Rey. "Tegakkan kepalamu, Babe." Zena menoleh saat merasakan nafas Rey di telinganya, pria itu berbisik. "A—ku cuma gak percaya diri." cicit Zena dengan kembali menunduk. Tangan Rey menyingkirkan rambut Zena yang menutupi sebelah wajahnya, menyampirkannya di belakang telinga hingga menampilkan pipi tirusnya. "Kamu cantik," bisiknya lagi membuat Zena semakin merinding. Bibir Zena tertarik melengkungkan senyuman. Begini rupanya rasanya di puji. Rasanya seperti ada banyak kupu- kupu beterbangan di perutnya, menggelitik mengalirkan rasa bahagia. Satu minggu Zena berdiri di samping Rey. Menemani pria itu di setiap kesempatan. Zena bahkan membeli pakaian baru dan membeli beberapa alat make up demi membuat dirinya serasi dengan Rey. Zena hampir menghabiskan seluruh tabungannya demi hal itu. Membeli dress anggun bahkan belajar mengoleskan make up di wajahnya. Setiap hari Rey mengantar dan menjemputnya. Pria itu bahkan mengantarnya ke tempat kerja. Seperti hari ini, Rey kembali menjemputnya setelah dia selesai bekerja. "Mau mampir ke apartemenku?" katanya saat mulai melajukan mobilnya. "Bolehkah?" "Kalau kamu mau?" Zena tersenyum dengan wajah bersemu. "Aku kira kamu gak suka ada yang masuk ke ruang pribadi kamu." Karena itu Zena sebisa mungkin tak terlalu ikut campur dalam kehidupan Rey. Meski dia bisa di bilang kekasihnya. Zena hanya ada saat Rey mendekat, lalu pergi saat pria itu menjauh. "Kamu kekasihku, kan?" Zena tersenyum wajahnya semakin bersemu. Saat merasakan tangannya di genggam lalu Rey mengecupnya. Zena sungguh tak bisa mengendalikan dirinya. Jantungnya sudah bertalu berantakan. Rey membuka pintu hingga menampilkan apartemen mewahnya. Zena tertegun, belum sempat mengagumi seluruh apartemen Rey, Zena semakin terhenyak saat merasakan pelukan di tubuhnya. "Kamu pakai make up hari ini?" bisik Rey membuat wajah Zena bersemu. "Aku belum pengalaman, jadi gak tahu bagus atau enggak." Rey membalik tubuhnya, membuka kacamata tebalnya. "Kamu sudah cantik, gak perlu merubah apapun." Zena menatap tepat di mata Rey. Mata yang tak berubah dan seperti sebelumnya. Tetap datar dan minim ekspresi. Tapi entah kenapa itu seperti cukup untuk Zena. Cukup untuk membuatnya hanyut dalam perasaannya. Dia tersenyum, hingga di detik berikutnya dia merasakan bibir Rey menyapanya. Zena tertegun, namun beberapa saat kemudian dia memejankan mata dan mulai membalas meski dengan gerakan kaku. Lumatan kecil yang semakin lama terasa semakin menuntut. Zena merasakan tangannya di tarik dan Rey lingkarkan di lehernya, sementara pria itu menarik pinggangnya membuat tubuh mereka semakin merapat tanpa melepas gerakan bibirnya, yang Zena rasa semakin tak terkendali. Tangan Rey di pinggangnya terus menahannya, lalu merambat ke atas demi meraih benda kenyal di dadanya. "Rey—" Zena mencoba menahan pria itu dengan mendorong dadanya sedikit menjauh membuat ciuman mereka terlepas. "Kenapa?" Wajah Rey nampak kesal, seolah kesenangannya baru dia hentikan. "A—ku..." Zena menelan ludahnya kasar, tangannya masih bertengger di dadanya. "Kamu gak mau?" "A—ku belum pernah melakukan ... itu." Untuk sesaat Zena melihat Rey tertegun, namun bias itu berubah secepat kilat kembali seperti biasa. Tangan Rey di pinggangnya terlepas. Zena bisa merasakan kekosongan yang tercipta. Tubuhnya menegang. Saat punggung Rey berbalik mata Zena berkaca- kaca. Apa Rey akan mengakhiri hubungan mereka hanya karena dia menolaknya? Zena menggeleng pelan, dia tak rela hubungan ini berakhir begitu saja. Zena menahan tangan Rey. "Kalau kamu gak mau aku gak akan maksa," ucap Rey masih tak berbalik. Zena mendekat dan memeluk punggung Rey. "Aku cuma takut." Rey berbalik lalu mengusap pipi Zena. Wajahnya kembali mendekat dan kembali menciumnya. Meski hatinya di penuhi rasa takut, namun dia memberanikan diri melakukan dan mengikuti alur yang Rey janjikan. Tubuhnya melayang saat Rey menggendongnya tanpa melepas ciuman mereka. Perasaan Zena semakin melayang dengan tubuh yang semakin terasa panas. Antara nafsu yang mulai tinggi dan logika yang mulai lemah Zena merasakan tubuhnya di rebahkan pelan di atas ranjang empuk dan besar. "Rey, aku takut." Zena menatap tubuh kekar di atasnya. "Aku akan pelan. Kalau sakit kamu bisa gigit aku, atau cakar aku." Tangan Rey melepas jaketnya menyisakan kaos putih yang masih menyembunyikan otot dadanya. Zena menelan ludahnya kasar saat tangan Rey bergerak melepas kaosnya ke atas menampilkan tubuh atas Rey yang mempesona. Tubuh menjelang matang yang kekar. Pergelangannya di tarik, lalu Rey letakan di dadanya. "Kamu suka?" Rey menyeringai membuat Zena memalingkan wajahnya yang bersemu. "Lihat aku!" Rey menarik dagunya hingga wajah mereka kembali berhadapan. "Jangan pikirkan hal lain. Cukup pikirkan aku!" Seolah terhipnotis Zena mengangguk dan membiarkan Rey kembali meraih bibirnya. Kali ini gerakannya semakin gila. Zena bisa merasakan gerakannya sedikit kasar saat menarik kancing kemejanya hingga terlepas sepenuhnya. "Indah sekali," ucapnya saat melihat tubuh Zena yang hampir telanjang. Matanya berkilat penuh nafsu. "Jangan lihat seperti i—tu." Zena menarik kemejanya merapat. Namun lagi- lagi tangan Rey menahannya. "Jangan halangi, aku suka." Rey menyentuh perutnya membuat tubuh Zena menegang. "Kalau mau aku berhenti katakan sekarang." Tangan Rey merambat ke atas dan berhenti di gundukan dadanya. "Karena kalau sudah mulai aku mungkin gak bisa berhenti." Tangan Rey meremas menggoda, membuat desahan memalukan keluar dari bibirnya. "Aku anggap kamu setuju." Dan Zena hanya mampu memejamkan mata dengan kedua tangan yang meremas punggung Rey. Kuku- kukunya menancap menahan sakit yang tak terkira.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN