"M—au apa kamu kesini?" Zena mundur satu langkah ke belakang. Jiwa waspadanya bangkit saat melihat Rey terus melangkah ke arahnya.
"Kamu cari mobil jelek itu?" tanya Rey dengan wajah dinginnya.
"Dari mana kamu tahu?" Dia bahkan belum bicara pada siapapun kecuali pak Doni untuk bertanya.
"Kamu mau tahu mobil kamu dimana?" Zena diam menatap serius.
"Apa yang kamu lakuin sama mobilku?"
"Kubuang."
"Apa!" Ucapan santai Rey berbanding terbalik dengan rasa terkejut Zena.
Zena mengepalkan tangannya, jelas tak ada raut bercanda dari Rey yang membuatnya harus merasa hal sekonyol itu, sebab Rey memang tak pernah bercanda dengan tindakannya.
Tapi dengan entengnya pria itu bilang mobilnya dibuang.
"Mobil jelek seperti itu hanya merepotkan."
"Kamu gila! Itu mobilku dan kamu gak punya hak untuk membuangnya!" teriak Zena kesal.
"Kenapa enggak? Lagi pula aku sudah membawa gantinya." Rey menoleh ke samping bertepatan dengan sebuah mobil besar terparkir di depan rumahnya lalu sebuah mobil di turunkan. Mobil yang bukan sembarang mobil. Bukan suv tua yang layak buang bahkan cat di beberapa bagian sudah mengelupas, melainkan mobil mewah yang pastinya sangat mahal.
"Kamu gila, Rey! Kembalikan mobilku sekarang juga!" Zena bicara penuh penekanan membuat Rey menautkan alisnya. Orang bodoh mana yang menolak mobil mewah dan memilih mobil tua yang jelek.
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak aku akan melaporkanmu!"
Rey terkekeh. Bukannya takut Rey justru mendekat memangkas jarak dan mengeluarkan sapu tangan di sakunya.
"Mau apa kamu?" Zena mundur saat Rey mengulurkan tangannya, namun Rey tak menyerah dan meraih kepala Zena lalu mengusapkan sapu tangan di tangannya pada pipi Zena.
"Apa yang kamu lakukan, lepas!" Rey tak peduli dan terus mengusap sapu tangannya hingga Zena merasa perih saking kasarnya. "Rey lepas, sakit!" Zena bahkan tak bisa bergerak saat tangan Rey terus menekannya kuat.
Rey mencondongkan tubuhnya, bibirnya nyaris menempel di telinganya. "Aku bilang aku gak suka milikku di sentuh orang lain," desisnya membuat Zena merinding. Zena ingat saat Rey mengusap dahinya hanya karena Dimas menciumnya disana. Lalu kali ini, pagi tadi Dimas haya mengusap pipinya.
Rey melakukan ini hanya untuk sentuhan kecil dari Dimas?
"Kamu gila!" Lalu apa yang akan dilakukan Rey jika dia tahu Dimas bahkan memeluknya.
"Diamlah, Sayang. Atau perlu aku mandikan kamu untuk menghilangkan aroma b******n itu di tubuhmu?" Zena menegang, hingga tubuhnya tertarik untuk masuk ke dalam rumah.
Zena masih tak bisa berpikir saat Rey membuka pintu rumahnya bahkan saat dia ingat pintu itu terkunci dengan kunci yang masih ada di dalam tasnya.
Zena menatap Rey tak percaya saat pria itu mengurungnya dengan tubuh besarnya.
"Bagaimana bisa kamu masuk?"
"Apa yang aku gak bisa? Aku bahkan bisa dengan mudah memiliki kamu, kan?"
Zena menatap Rey dengan wajah semakin kesal.
"Kenapa? Dua hari gak datang kamu pikir aku bercanda?" Rey menarik kemeja Zena lalu merobeknya membuat Zena menjerit.
"b******k! Apa yang kamu lakukan!" teriaknya. Zena bahkan memeluk dirinya untuk menutupi bajunya yang robek.
"Dengar Zena, sudah cukup empat tahun ini kamu lari, kali ini aku gak akan biarkan kamu merasa sendiri." Rey mengunci tangan Zena menyatukannya dan menahannya dengan sebelah tangan.
"Tidak! Apa yang kamu lakukan, Rey! Lepas!" Zena menjerit saat Rey menyerukkan kepala di lehernya lalu menciumi seluruh tubuhnya.
Zena menangis berkontak, namun tangannya masih terkunci, saat Zena menggerakan kakinya hendak menendang Rey menahannya dengan cepat mengunci dan mengurung kakinya hingga dia tak bisa bergerak.
"Lepaskan aku, b******n! b******k, kamu Rey!" Zena menangis terisak saat Rey terus tak peduli hingga pria itu mengangkat wajahnya dan menariknya ke arah kamar mandi.
Tubuh Zena terlempar kebawah shower lalu air mulai mengalir membasahi tubuhnya.
Zena benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi bahkan saat dia tak bisa mengerakan tubuhnya Rey dengan acuh justru menyabuni tubuhnya. "Sudah kubilang aku akan menghapus baunya dari tubuhmu."
Zena terus menangis saat Rey membalik tubuhnya mengikat tangannya dengan sabuk yang dia lepas dari pinggangnya.
Tak peduli dia terus menangis Rey masih melakukan aksinya hingga air shower dimatikan dan Rey menatap tubuh telanjang Zena.
Mata pria itu memindai lalu meraih handuk untuk membalut tubuh Zena.
Zena sendiri wajahnya merah, sebab malu dan merasa di permalukan. Zena merasa tak berguna saat dia tak bisa melawan. Tubuhnya terasa mati rasa saat setelah Rey terus menggosok tubuhnya seolah tubuhnya benar-benar kotor. "Aku tak peduli dengan apa yang kalian lakukan sebelumnya, tapi mulai saat ini tubuh ini hanya milikku." Rey mengangkat tubuh Zena dan membawanya kedalam kamar.
"Jadi jangan pikir aku bercanda." Rey melepas sabuk yang mengikat tangannya yang seketika membuanya terbebas.
Plak!
Tak membuang waktu lama Zena langsung melayangkan tamparan di pipi Rey meski tamparan itu tak berpengaruh untuknya.
Rey menarik sudut bibirnya, dengan sikap tak peduli justru mengambil pakaian di lemari Zena lalu memakaikannya. Zena benar-benar seperti anak kecil yang dimandikan ibunya lalu dipakaikan baju.
"Apa maumu sebenarnya?" Zena menepis saat Rey hendak merapikan rambutnya. Namun saat ini Rey justru meraih hairdryer untuk mengeringkan rambut Zena, dan mengelus lembut hingga rambut itu kering.
"Empat tahun lalu kamu menghilang begitu saja. Aku tak bisa mencarimu karena beberapa alasan. Tapi sekarang aku menemukanmu. Tentu saja aku gak akan biarin kamu begitu aja."
"Aku bilang hubungan kita udah berakhir!" Zena berteriak frustasi. Rasa marah dan benci berpadu jadi satu.
Rey menggeleng. "Gak akan pernah berakhir." Rey menarik tubuh Zena melepas pakaian basahnya menyisakan bawahan yang sedikit basah, menampilkan otot-otot perut yang indah, lalu naik ke tempat tidur dan menjadikan lengannya sebagai bantalan Zena.
"Jangan macam- macam Rey aku bisa teriak!"
"Memang dari tadi teriakanmu berpengaruh? Simpan tenagamu untuk mendesah dibawahku nanti, Sayang!" Zena hendak bangun namun Rey kembali menahannya.
"Lihat ini!" Rey membuka ponselnya yang seketika menyala.
Hal yang tak pernah Zena kira adalah layar depan ponsel Rey yang menunjukkan wajahnya dengan pose memalukan. Wajahnya terlihat hingga d**a atas. Yang membuat Zena geram adalah itu fotonya yang tengah telanjang hanya saja tak menampakan seluruh badan, lalu matanya yang sayu juga bibir sedikit terbuka membuat dia yakin itu adalah fotonya saat mereka bercinta pertama kali.
"Ayo kita nostalgia, Sayang." Rey menyalakan ponselnya menekan folder vidio lalu vidio terputar.
Mata Zena membulat saat vidio memalukan itu terputar.
"Hentikan itu Rey!" Zena berusaha mengambil ponsel Rey, namun pria itu menjauhkannya.
"Kamu tidak berpikir kalau aku gak memiliki ini, kan?"
"Rey aku mohon." Zena kembali meraih benda pipih tersebut, namun tubuhnya yang di dekap dari belakang membuatnya kesusahan.
"Aku bilang putuskan hubungan kamu dengannya. Atau kamu akan melihat tatapannya yang sekarang penuh cinta berubah menjadi rasa jijik."
Zena mengeleng dengan menutup telinganya. Pasalnya vidio yang terus terputar itu mengeluarkan suara- suara yang menjijikan dan memalukan.