Ancaman Rey

1091 Kata
Zena mendudukan dirinya dengan menghela nafas berat. Rambutnya yang acak- acakan dengan mata yang menghitam. Apa yang terjadi semalam menjungkir balikan hidupnya. Dia yang biasa tenang mulai merasa terusik. Semalaman Rey memutar vidio menjijikan mereka sambil mengatakan di detik berapa dan di menit berapa gaya berubah lengkap dengan berapa kali dia mendesahkan namanya. Di sana nampak wajah Zena yang sudah kacau namun pasrah menerima hujaman Rey yang tak terasa kejam sekaligus menggoda. Tanpa rasa malu Rey bahkan mengatakan berapa kali semburan cairan cinta yang keluar dari tubuhnya. Pria gila itu benar-benar iblis yang menjelma manusia. Dia mengancamnya jika tidak segera putus dengan Dimas akan menyebarkan vidio itu. Zena memejamkan matanya dengan amarah yang terus terasa sesak di dadanya. Belum puaskan Rey menghancurkannya empat tahun lalu? Kenapa pria itu kembali hanya untuk menghancurkannya? Apa salahnya hingga dia harus menanggung ini? Pintu terbuka menampakan Rey yang masih setengah telanjang. Di tangannya terdapat nampan berisi makanan berupa sandwich juga segelas s**u. "Sayang, waktunya makan." Pria itu bersikap manis seperti malaikat yang di berkati Tuhan. Nyatanya pria itu setan yang membawa neraka untuknya. Zena memalingkan wajahnya, dan memilih turun dari ranjangnya untuk pergi ke kamar mandi. Namun baru menurunkan kakinya tangannya di cekal oleh Rey. "Tidak baik menunda sarapan, Sayang." Pria itu berkata seolah tak terjadi apa- apa antara mereka. "Kamu pikir aku sudi makan dari tangan kamu." Rey mengangguk masih dengan wajah tenang lalu melepas tangan Zena. "Sebaiknya kamu segera pergi dari rumahku!" Zena mendengus dan melanjutkan langkahnya untuk pergi. "CV. Serindu Utama—" Ucapan Rey menghentikan langkah Zena. Mendengar nama perusahaan Dimas di sebut Zena menoleh cepat. "Itu perusahaan garmen kecil yang hanya memiliki tidak lebih dari 80 karyawan." Zena menegang. "Kamu tahu kenapa perusahaan kecil itu gak pernah berkembang?" "Apa maksud kamu?" Campuran rasa marah dan ketakutan begitu menghujamnya. Apa yang akan Rey lakukan pada perusahaan Dimas? "Karena pemimpinnya gak becus dalam bekerja." Tangan Zena mengepal erat dengan buku- buku yang memutih. "Jangan bicara sembarangan kamu!" "Aku bicara fakta. Buktinya sampai sekarang perusahaan itu gak pernah maju, dengan hutang ke bank yang semakin membengkak." "Jangan pernah menjelekan Mas Dimas. Seenggaknya dia merintis usaha ini sendiri. Tidak seperti kamu yang hanya menikmati jerih payah orang tua. Orang kaya seperti kamu gak akan bisa mengerti perjuangan kami!" Rey terkekeh, lalu berjalan mendekat dengan langkah tenang. "Mesra sekali, ya, Mas?" Zena memalingkan wajahnya. Namun Rey tetap tenang seolah apa yang Zena katakan tak mengganggunya sama sekali. "Gimana menurut kamu kalau perusahaan kecil itu tiba-tiba bangkrut?" Mata Zena membeliak kaget dengan rasa khawatir luar biasa. "Jangan macem- macem kamu, Rey!" "Lagian perusahaan itu gak pernah maju." "Berhenti bicara omong kosong! Jangan ganggu Mas Dimas!" peringat Zena dengan tegas. "Gimana lagi, kamu gak mau bekerjasama." "Aku gak ngerti apa mau kamu, kenapa kamu ganggu aku? Apa belum cukup kamu jadikan aku bahan taruhan kamu sama teman- teman kamu itu, sekarang kamu ganggu orang disekitarku?" Rey masih berdiri dengan tenang, tangannya terulur merapikan rambut Zena lalu mengangkat ujungnya untuk dia hirup aromanya. Zena semakin kehilangan kata- kata, Rey benar-benar gila. Tidak waras! Apa pria itu tak merasa bersalah karena mempermainkannya? Zena menepis tangan Rey, "Jangan sembarangan menyentuhku! Lebih baik kamu pergi dari rumahku, dan bawa orang-orang kamu itu!" Zena menunjuk jendela dimana orang-orang Rey berjaga di luar semalaman. Pantas saja saat Zena berteriak tak ada satupun yang datang bahkan untuk sekedar bertanya tentang keributan di rumahnya. Sebab orang-orang Rey menghentikan mereka sebelum mencapai rumahnya. Zena bergegas memasuki kamar mandi. Dia akan berangkat ke toko kue untuk bekerja. "Setelah aku pulang aku harap kamu gak ada disini!" teriaknya dari dalam kamar mandi setelah dia mengunci pintu dari dalam. Saat keluar dari kamar mandi Zena tak melihat Rey lagi. Merasa suasana hening Zena menghela nafasnya lega. Dia harus segera berangkat, namun dia juga harus segera memperingatkan Dimas, sebab ancaman Rey tak bisa dia anggap main- main. Jadi saat keluar dari rumah, Zena juga mengirim pesan pada Dimas jika mereka harus bertemu. Zena harus mengatakan semuanya, dan memperingatkannya jika Perusahaannya dalam bahaya. Mas, ayo ketemu sebelum aku ke toko. Yang tak Rey tahu adalah Zena tak peduli jika Dimas tahu tentang vidio itu, karena sebelum menjalin hubungan dengan Dimas Zena sudah mengatakan jika dia bukan orang baik bahkan memiliki masa lalu yang nakal. Dan Dimas berkata jika dia tak peduli dengan masa lalu itu, dan kuakuh ingin menjalin hubungan dengannya. Itulah yang membuat Zena luluh. Dimas menerimanya apa adanya. Hanya saja Dimas tak tahu jika kenakalannya terekam dalam sebuah vidio menjijikan. Entah bagaimana reaksi Dimas saat tahu. Tapi yang jelas dia tak ingin terjebak dengan Rey hanya karena ancaman itu. Takut. Zena sangat takut. Jika pria itu benar-benar menyebarkan vidio tersebut karena bagaimana pun namanya akan tercemar juga cap buruk dari vidio tersebut jika tersebar di masyarakat luas. Boleh, kebetulan aku ada janji di restoran dekat toko. Kamu kesini aja. Dimas membalas saat Zena mencegat taksi, Zena tak peduli dengan mobil mewah yang terparkir di depan rumahnya dan memilih melewatinya begitu saja. Tiba di restoran Zena mengedarkan pandangannya untuk mencari Dimas, hingga dia menemukan pria itu tengah duduk di kursi sudut dengan seorang pria yang hanya nampak punggungnya saja. Melihat Dimas sedang fokus bicara sepertinya orang yang memiliki janji dengannya adalah orang penting. Jadi Zena bermaksud menunggu di kursi lain hingga pria itu selesai. Akan tidak sopan jika dia mengganggu, bukan? Namun baru akan menarik kursi, Dimas justru menyadari kehadirannya. "Sayang, sini!" Pria itu melambaikan tangannya dengan tersenyum hingga terpaksa Zena melangkah mendekat. "Nah, ini pacar saya, Pak." Tinggal satu langkah lagi Zena mendekat tapi Dimas sudah memperkenalkannya pada rekannya. "Mas aku gak ganggu, kan? Aku tunggu kamu disana aja," ucap Zena masih belum menoleh pada orang di depan Dimas. "Gak papa, lagian Pak Rey bilang dia juga mau ketemu kamu." Mendengar nama Rey disebut membuat Zena menegang dan dengan cepat menoleh ke arah pria di depan Dimas. "Hallo, Bu Zena." Tubuh Zena tertegun kaku dengan jantung berdebar kencang. Saking kencangnya Zena bahkan merasa lemas luar biasa. "Sayang, Ini Pak Rey. Beliau akan berinvestasi di perusahaanku. Kamu tahu aku gak nyangka orang sekelas Pak Rey mau membantu perusahaan kecil seperti milikku." Dimas berkata dengah senyum merekah di wajahnya tak menyadari Zena yang terkejut dan menatap Rey dengan wajah pucat. "Apa kabar Bu Zena." Sekali lagi Rey bersuara, dan mengulurkan tangannya namun Zena masih tak menyambut sama sekali. Melihat Zena hanya diam, Dimas berinisiatif menyentuh tangan Zena yang seketika berjengit kaget. "Zena, Pak Rey nunggu kamu." Tatapan Zena tertuju pada Dimas yang masih menggenggam tangannya, lalu mendongak menatap Rey yang menarik sudut bibirnya, namun tatapannya menusuk dan tajam ke arah tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN