Bukan Sekedar Ancaman

1159 Kata
"Aku masih gak nyangka asisten Pak Rey hubungi aku kemarin, beliau bilang kalau Pak Rey berniat berinvestasi di pabrik aku." Suara Dimas yang penuh kegembiraan justru seperti hujaman di d**a Zena. Tubuhnya masih bergetar ketakutan bahkan meski Rey sudah tak ada di sana. Namun sebisa mungkin Zena terus menyembunyikan perasaan takutnya karena tak ingin Rey merasa menang atau membuat Dimas khawatir. "M—as aku rasa Pak Rey bukan orang baik," ucap Zena dengan meremas kedua tangannya. Dahi Dimas mengernyit. "Maksud kamu?" "Di—a kelihatannya, jahat. Lihat gak tatapan matanya tadi." Bukannya takut Dimas justru terkekeh. "Bukan urusan kita dia baik atau enggak. Yang penting Pak Rey mau berinvestasi pabrik aku bisa makin berkembang. Lagian, orang kayak mereka memang seperti itu. Asal kita gak buat gara- gara mereka gak akan ngusik kita. Yang penting sekarang kalau pabrik aku maju kita bisa nikah dengan cepat." Dimas menggenggam tangan Zena. Namun Zena dengan cepat melepasnya. "A—ku cuma khawatir." "Wajar kamu khawatir. Tapi tenang aja, aku yakin semuanya bakalan baik- baik aja." Zena tak bisa lagi berkata-kata. Dia belum siap jika harus mengungkapkan jika Rey mantan kekasihnya di masa lalu. Jadi Zena memilih bangkit dari duduknya. "Aku mau ke ke toilet." Dimas mengangguk, dan Zena segera pergi. Zena menghela nafasnya, lalu mengambil air untuk membasuh wajahnya. Melihat wajahnya pucat dibalik make up yang sudah terhapus, Zena kembali menghela nafas dan membuka tasnya untuk kembali mengoleskan make up agar wajah pucatnya tak kentara. Baru akan mengoleskan bedak di pipinya Zena mendengar beberapa suara memasuki toilet di susul dengan kemunculan beberapa wanita berpenampilan hedon. "Kamu lihat pas kita masuk banyak pria berbaju hitam yang berjaga?" "Ya, mereka banyak. Badannya yang besar dan kekar buat aku takut." Salah satu wanita bergidik. Zena merasakan tubuhnya kembali menegang meski dia tak tahu apa yang mereka bicarakan sebab dia tak memperhatikan sekitar saat masuk. Dia hanya fokus mencari Dimas tadi. Jika yang mereka katakan benar maka orang-orang itu mungkin sedang menjaga Rey, bukan? Zena memelankan gerakannya pertanda dia menunggu ucapan wanita itu selanjutnya hingga tangannya yang mulai mengoleskan lipstik di bibirnya bergetar. "Kamu tahu aku dengar ada Pak Reynaldi tadi.“ "Reynaldi orang terkaya itu?" Zena mengerjapkan matanya lalu mengakhiri sesi berdandannya dan memasukan alat make upnya ke dalam tas. Baru akan pergi Zena kembali mendengar suara para wanita itu hingga tubuhnya yang berdiri di ambang pintu refleks berhenti. "Kamu mau tahu gak, suamiku bilang selain dia itu pengusaha sukses. Pak Rey gak bisa tersentuh hukum." "Sungguh?“ "Bahkan aku dengar dia sudah pernah membunuh orang." "Untuk ukuran orang berkuasa mereka pasti menggunakan uang untuk menyuap hukum." Degh! Jantung Zena terasa berhenti sesat membuat tubuhnya lemas bukan main, hingga dia harus berpegangan pada pintu agar tetap berdiri. "Hei, kamu gak papa?" Zena mengembalikan kesadarannya saat mendengar dua wanita itu bicara padanya. "Enggak." Zena menggeleng lalu segera pergi. Saat menutup pintu toilet Zena masih mendengar ucapan demi ucapan dari para wanita di dalam sana, yang meskipun sosok Rey terdengar mengerikan mereka masih berdecak kagum hanya dengan ketampanannya. Jika apa yang mereka katakan benar, bukankah semua ancaman Rey tak bisa dianggap remeh? .... Zena kembali ke dalam restoran untuk menemui Dimas yang masih menunggunya. Dia juga harus segera ke toko. Untuk pertama kalinya dia datang lebih siang dari biasanya. Beruntung karyawannya baru saja bertambah. Jadi Zena tak perlu takut pekerjaannya terbengkalai. Zena mengernyit saat tak melihat Dimas di tempatnya, hingga seorang pelayan menghampirinya. "Maaf, ibu yang duduk sama Mas yang disini tadi, kan?" Zena mengangguk. "Dia di luar sana, kondisinya tidak baik." Jantung Zena rasanya akan terjatuh saat mendengar ucapan pelayan tersebut. "Apa yang terjadi?" Zena menatap tak sabar bahkan menyentuh pundak si pelayan. "Kami gak tahu, kayaknya Masnya lagi ngerokok di luar, tiba-tiba seseorang datang dan mengahajarnya. Kami sudah memanggil ambulans..." Zena tak lagi mendengar ucapan si pelayan, dan bergegas berlari saat mendengar suara ambulans benar-benar datang. "Mas!" Zena melihat Dimas benar-benar babak belur, bahkan matanya hitam dengan bibir robek. "Apa yang terjadi?" "Ze—" Dimas berucap lirih, tangannya terangkat handak menyentuh Zena. "Mas—" Air mata Zena menetes, tangannya hendak meraih tangan Dimas. Namun tangan Dimas kembali terjatuh di lantai cor pelatara restoran. Petugas ambulans segera membawa Dimas, yang hampir tak sadarkan diri diikuti Zena yang segera ikut masuk. Namun sebelum benar-benar masuk Zena mendengar suara di sekelilingnya. "Kayaknya tangannya patah." "Iya, aku lihat tangannya di injak sama pria yang badannya besar." Zena melanjutkan niatnya untuk memasuki mobil ambulans. Zena menatap khawatir pada Dimas yang terus meringis memegangi tangannya bibirnya robek dengan mata menghitam bekas pukulan. "Siapa mereka sebenarnya, Mas?" Namun tak ada jawaban dari Dimas yang membuat Zena semakin khawatir. Tiba di rumah sakit Zena ikut mendorong brankar yang membawa Dimas untuk segera melakukan perawatan dengan luka- lukanya. Hingga Pintu ruangan tertutup dengan Zena yang tertinggal dengan segala kekhawatirannya. Tepat saat ini ponsel Zena di dalam tas berdering hingga Zena segera merogoh benda tersebut lalu menatap layarnya dan menunjukkan nomor yang tidak di kenal. Bukan tidak di kenal juga, hanya saja Zena tak memasukan nomor tersebut dalam kontaknya. Zena menekan ponselnya untuk mengakhiri panggilan tanpa menerimanya dengan decakan kesal. Namun seperti halnya Rey yang gila, dia tidak menyerah sama sekali dan terus menghubunginya. Hingga Zena memutuskan mematikan ponselnya agar Rey tak lagi mengganggunya. .... Zena menatap Dimas yang tersenyum meringis ke arahnya. Dokter baru saja menyelesakan perawatan Dimas dan memastikan kondisi Dimas sudah tertangani dan baik- baik saja meski nyatanya luka- luka itu masih nampak nyata. Tangan Dimas di gips, sebab tulangnya yang patah sementara mata dan pipinya nampak bengkak karena robekan pun di ujung bibirnya. "Hai, kamu pasti khawatir, kan?" desisnya menahan nyeri di ujung bibirnya. Suaranya bahkan nyaris tak jelas. "Sebenarnya siapa mereka Mas? Kok bisa tiba-tiba ngroyok kamu?" Dimas menggeleng. Dia sendiri tak tahu. Tiba-tiba saja dia dihajar saat dia akan merokok diluar sambil menunggu Zena selesai di toilet. "Masa gak ada salah, main hajar aja?" Dimas nampak ingin bicara, namun kesulitan. "Kita mesti buat laporan ke polisi, biar pelakunya di tangkap." Dan Dimas hanya mengangguk pertanda setuju dengan usul Zena. "Kamu ... gak ke toko?" Zena menepuk dahinya. "Aku lupa kasih tahu Moli." Gara-gara teror telepon dari Rey Zena mematikan ponselnya sampai membuatnya lupa jika dia belum memberitahu Moli. Karyawannya itu pasti khawatir dia masih belum datang ke toko. "Aku telepon dulu, Mas." Zena keluar dari ruang rawat Dimas untuk segera menghubungi Moli. Dan benar saja saat ponselnya di nyalakan ada beberapa panggilan tak terjawab dari Moli. Namun tatapan Zena justru tertuju pada panggilan dan beberapa pesan dari Rey. Tubuhnya menegang dengan ekspresi terkejut luar biasa. Perasaan takut menerpanya saat melihat pesan- pesan terebut. Dengan tangannya yang bergetar Zena membuka pesan tersebut. Kamu berani mematikan panggilanku, Sayang? Bahkan meski begitu aku tahu kamu ada dimana sekarang. Perlukah aku kesana? Kamu benar-benar membuat aku cemburu. Sederet pesan yang membuat Zena tertegun apalagi pesan yang terakhir benar-benar membuat mata Zena membulat dengan tubuh yang terasa lemas. Apakah seharusnya aku potong kedua tangannya. Tentu saja agar dia tidak berani lagi menyentuhmu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN