Dilema

898 Kata
Aisyah sudah sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya yang akan berangkat kerja. Ya, selain mahasiswa Farhan juga sudah bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi dan dia menempati posisi sebagai customer service. Bukan jabatan yang tinggi, tetapi Aisyah dan Farhan sangat bersyukur dengan apa yang di dapatkannya. Jika mereka bertanya mengapa Farhan punya mobil yang cukup bagus, karena Farhan adalah anak dari keluarga terpandang. Dia bisa saja meneruskan perusahaan orang tuanya, tetapi dia tidak ingin hidup tergantung kepada harta orang tua. Farhan merasa belum mampu menjalankan amanah yang begitu besar sebagai pemilik perusahaan. Maka dari itu Farhan sekolah dengan sungguh-sungguh agar dia bisa menjadi seseorang yang tidak hidup dalam bayang-bayang harta orang tuanya. Mobil yang cukup bagus yang kini selalu ia bawa, itu adalah kado ulang tahun Farhan dari orang tuanya sebelum ia menikah. "Assalamualaikum, Cantik," sapa Farhan kepada istrinya yang terlihat sibuk menata alat makan. "Waalaikumsallam, Suamiku." Farhan sedikit tersenyum geli melihat ekspresi istrinya yang selalu tersipu malu jika dipanggil dengan kata cantik. "Masih saja malu seperti itu." "Sudah jangan dibahas!" pungkas Aisyah. Ia menggigit bibir bawahnya menahan senyum. Aisyah sudah selesai dengan aktifitasnya. Lantas ia mengarahkan pandangannya ke arah Farhan dan menatapnya dengan saksama. "Aku mau minta izin pergi ke cafe menemui sahabatku Annisa. Bolehkan, Kak Farhan?" Aisyah balik menggoda Farhan, ia selalu mengingat kejadian di toko buku kemarin, itu membuatnya tersenyum sendiri. "Jangan seperti itu, Aisyah! boleh, tapi pulanglah tepat waktu!" sambungnya. Aisyah tertawa perlahan karena tak tega melihat raut wajah suaminya yang terlihat malu. "Insya Allah, aku pulang tepat waktu." Farhan mulai mengunyah roti yang diberikan Aisyah, ia mulai melirik jam tangannya dan ini waktunya untuk ia berangkat kerja. "Aisyah aku berangkat dulu, ya. Beri kabar jika terjadi hal apa pun!" Aisyah segera meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangannya. Setelah itu, Farhan mengarahkan kepala istrinya untuk saling berhadapan dan mengecup keningnya dengan lembut. "Assalamualaikum." "Waalaikumsallam, hati-hati!" °°° Terik matahari mulai menyengat di luar sana, kini Aisyah sudah berada di tempat yang sudah dijanjikan oleh sahabatnya. Sembari menunggu, Aisyah memainkan ponsel untuk sekedar membaca Novel di w*****d. "Aisyah!" panggil salah seorang wanita yang memasuki pintu Cafe. Aisyah mengangkat wajahnya untuk menoleh ke arah sumber suara. Lantas ia tersenyum ke arah seorang gadis yang mengenakan kaus hitam berlengan pendek dan celana jeans berwarna navi. Aisyah pikir tadi itu suara Annisa. Ternyata ia salah, itu adalah Amelia. Gadis yang ditemuinya kemarin di toko buku. "Assalamualaikum, Amelia," ucap Aisyah. "Waalaikumsalam. Maaf, aku lupa mengucapkan salam saking senangnya bertemu dengan Aisyah." "Boleh aku duduk?" tanya Amelia. Aisyah mempersilakan Amelia untuk duduk bersamanya, karena kebetulan Annisa belum datang. "Aisyah sendiri aja?" tanya Amelia yang menatap seisi ruangan seperti mencari seseorang. "Iya, aku menunggu temanku. Amel sendiri aja?" tanya Aisyah. "Iya, Aisyah. Kakak kamu mana?" tanya Amelia yang menatap Aisyah dengan antusias. "Hah?" Aisyah terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis itu. Namun, ia berusaha untuk tenang dan tersenyum seperti biasa agar tidak terlihat gelisah. Aisyah pikir ini waktu yang tepat untuk memberi tahu Amelia, bahwa yang dia sebut kakak adalah suaminya agar tidak ada lagi kesalah pahaman antara mereka. "Amelia, Farhan itu ada-" "Pasti Aisyah senang ya dapet kakak kaya Farhan. Udah ganteng, soleh, baik, pinter." Kebiasaan yang terulang. Amelia selalu memotong pembicaraan orang yang sedang ia ajak bicara, dan itu  membuat Aisyah menjadi sedikit risih. "Amel-" Belum sempat Aisyah menyelesaikan perkataannya, Amelia sudah menyodorkan ponselnya ke arah Aisyah. Entah apa maksud dari gadis ini. "Untuk apa?" "Aku mau minta nomor ponsel Farhan. Boleh, kan?" Aisyah menelan ludah, merasa tenggorokannya sangat kering. Dia merasa dilema. Bagaimana bisa ia memberikan nomor ponsel suaminya kepada gadis lain. Jika dia memberikannya, maka dia sudah mengganggu privasi suaminya sendiri. Tapi jika tidak, Amelia akan sedih karenanya. "Aku harus minta izin dulu, Mel." Aisyah menolaknya secara halus. "Pasti boleh, ini cepat masukan!" Amelia dengan cepat menaruh ponselnya di tangan Aisyah, mau tidak mau Aisyah memberikan apa yang Amelia minta. Bismillah, semoga Mas Farhan tidak marah dengan kelakuan bodoh ku ini. Ampuni aku ya Allah. Ucapnya dalam hati. Setelah mendapat apa yang dia mau, Amelia segera berpamitan untuk pulang. Sementara Aisyah tidak mengerti, sebenarnya apa tujuan Amelia datang ke cafe ini. Aisyah memandang punggung Amelia yang sudah mulai tak terlihat dari dalam. "Astagfirullah." Aisyah bergumam pelan, ia menenggelamkan kepalanya ke tangan yang di lipat di atas meja. "Assalamualaikum, Aisyah," sapa seorang wanita. "Waalaikumsalam." Aisyah mengangkat wajahnya ke arah suara. Kini sudah berdiri sosok wanita di hadapanya yang tak lain adalah Annisa, sahabatnya. Ia baru saja datang dan segera duduk berhadapan dengan Aisyah. Annisa tampak kebingungan melihat raut wajah sahabatnya itu yang di tekuk ke bawah dan tak ada gairah sama sekali, ini bukan Aisyah yang seperti biasanya. "Are you oke?" "Ya." "Lalu?" "Tadi ada gadis yang meminta no Mas Farhan, dia fans dari suamiku di kampus." Annisa terkejut, dan matanya membulat. Lalu ia tertawa geli. Ini bukan hal yang baru baginya, karena Annisa sering mendengar jika Farhan memang memiliki banyak pengagum di kampus. "Sabar!" Annisa mengusap tangan Aisyah, memberi kekuatan pada wanita di hadapannya. Mereka pun larut dalam perbincangan yang hangat.                                                °°°                            Sementara itu Amelia sangat bahagia mendapatkan nomor ponselnya Farhan. Sebenarnya Amelia tadi sedang berjalan-jalan sekitaran Cafe bersama teman-temannya, tapi ketika melihat Aisyah dari kejauhan ia berpamitan kepada temannya dan berinisiatif mengikuti Aisyah. Ternyata perbuatannya itu membuahkan hasil. Amelia memang gadis yang cukup nekat jika memiliki sebuah keinginan, tapi sejatinya dia adalah gadis yang baik hanya saja dia belum mengetahui kebenaran yang akan dia hadapi di depan sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN