Pesan Pengganggu

948 Kata
Hari ini Farhan sedikit sibuk dengan pekerjaannya, terlalu banyak customer yang melakukan pengaduan karena beberapa gangguan jaringan telepon dan internet yang di alami mereka. Perusahaan Farhan bergerak di bidang telekomunikasi, sebagai penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi. Pria itu menyenderkan badannya di kursi dan memijit kening yang terasa sedikit berat. Ia jadi teringat kepada istrinya yang meminta izin untuk pergi tadi siang. Ia harap jika Aisyah sudah pulang kerumah karena hari sudah mulai sore dan waktu sudah menunjukan jam pulang. Farhan mengecek ponsel berlayar 5 inc itu. Ia sedikit terkejut dengan beberapa panggilan dari nomor yang tak di kenalinya, serta beberapa pesan dari nomor yang sama. °Assalamualaikum kak Farhan °Lagi sibuk ya? °P ° ko gak dibales °kalo udah gak sibuk bales pesan aku, ya! Pria itu cukup terkejut dengan isi pesan yang demikian sangat tidak wajar. Seingatnya, ia tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada siapapun yang tidak ada kaitan dengan pekerjaan. Namun Farhan memilih untuk tidak mempedulikan pesan tersebut. Dirinya lebih memilih untuk mengabari Aisyah, bahwa sebentar lagi dia akan pulang. √ assalamualaikum, mau mengingatkan jika kekasihmu ini akan segera pulang (emot seyum) ° Waalaikumsallam. Aku sudah di rumah, Mas. √ Alhamdulillah. Farhan mengangkat sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang begitu menawan. Bagaimana tidak, dia sangat mengagumi sosok istrinya itu. Seorang wanita berwajah cantik dan berhati lembut. Aisyah wanita yang luar biasa menemani perjalanan hidupnya, walau Aisyah tahu Farhan anak orang berada tapi Aisyah tidak malu di ajak tinggal di rumah sederhana yang statusnya hanya rumah kontrakan. Aisyah mau menerima penghasilan Farhan yang terbagi antara biaya sehari-hari, biaya kontrakan, dan biaya sekolahnya. Tak jarang orang tua Farhan menawarkan tambahan uang bulanan, akan tetapi Farhan menolak karena ia merasa perjuangannya tidaklah seorang diri, melainkan ada Aisyah yang menguatkan dan memberinya semangat. "Aku jadi merindukan istriku," tutur Farhan sembari memandangi foto yang menghiasi layar ponselnya itu. Dia segera beranjak dan membereskan meja kerjanya untuk segera bergegas pulang karena jam kantor telah usai. °°° Farhan dan Aisyah makan malam bersama dengan menu yang cukup sederhana. Masakan Aisyah adalah masakan terbaik baginya, karena dengan ini ia bisa melepas rindu pada masakan Ibunya di rumah. Getar dari ponsel milik Farhan memecah keheningan di meja makan. Pria itu tidak segera membuka ponselnya, sebab ia tidak ingin terlihat sibuk saat sedang makan. Sementara Aisyah memandang ponsel itu dari tempat duduknya dengan perasaan sedikit gelisah mengingat kejadian tadi siang di cafe. Setelah acara makan usai Farhan mengelap mulutnya dengan tisu dan mengambil ponselnya untuk melihat isi pesan yang sedari tadi terasa menganggu. ° Assalamualaikum. "Hemmm, lagi-lagi nomor yang tadi." Farhan sedikit menggerutu. "Ehemmm." Aisyah berdehem. Ia terkejut takala mendengar pernyataan suaminya. Dia merasa jika saat ini suaminya dalam keadaan tidak nyaman dengan isi ponsel yang di tatapnya. Sebenarnya Aisyah ingin sekali bertanya siapa yang sudah mengirimnya pesan, namun Aisyah takut sekali jika privasi Farhan terganggu. 'Mungkin aku tunggu saja sampai dia bicara sendiri', ungkapnya dalam hati. Sesekali Aisyah mengarahkan pandangannya ke arah Farhan dengan rasa penasaran yang menyeruak ketika suaminya terlihat membalas pesan. Sangat terlihat jelas kegelisahan Aisyah yang tertangkap oleh sudut mata Farhan. Farhan hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. "Ada apa, Aisyah?" Pertanyaan Farhan membuat Aisyah terperanjat dan menoleh ke arahnya. "Hemm... anu, Mas-" "Ada yang mengirimku pesan, dan aku tidak tahu ini nomor siapa. Ini cukup menggangguku, Aisyah. Isinya terlalu agresif. Aku tidak suka!" Uhukuhuk Aisyah terbatuk-batuk setelah mendengar pernyataan suaminya. Dengan sigap, Farhan yang sedang duduk segera beranjak untuk menghampiri Aisyah dan memberinya segelas air putih. Farhan membelai pucuk kepala Aisyah yang terbalut jilbab berwarna merah muda itu dengan begitu lembut. Aisyah sudah tidak tahan lagi menutupi kejadian tadi siang, ia meraih tangan Farhan dan menatap matanya lekat. "Aku minta maaf. Jangan marah, ya!" jelas Aisyah. Wajahnya memerah menahan sedih, hampir saja air matanya keluar karena takut suami yang ia cintai marah. Farhan mengerenyitkan keningnya. Tentu saja ia sedikit bingung dengan permintaan maaf dari Aisyah. "Tadi di Cafe ada Amelia, dia meminta nomormu, Mas." Tangan Aisyah tak berhenti memutar ujung jilbannya, membuat sang suami makin merasa aneh dengan sikap wanita beriris cokelat itu. Mata Farhan membulat seketika. Ia belum membuka suaranya untuk berkomentar karena istrinya masih memberikan penjelasan. "Aku sudah bilang ko, jika aku harus meminta izin dulu tapi Amelia tetap memaksaku." Hening. Kedua insan itu masih bergeming dengan pikiran masing-masing. Aisyah menoleh ke arah suaminya, merasa penasaran dengan respons yang akan dikeluarkan oleh Farhan. "Maafkan aku, Mas. maafkan!" Aisyah sedikit merengek sembari menyimpan tangan suaminya di keningnya, dan itu membuat Farhan yang semula kesal, menjadi terkekeh geli. Dia melepaskan tangannya dan kembali mengusap lembut kepala Aisyah dengan penuh kasih sayang. Farhan menerunkan badannya sedikit berjongkok di hadapan Aisyah yang masih duduk di kursi. Dia memandang wajah Aisyah yang terlihat merah karena merasa malu dan bersalah. "Tidak apa-apa, Aisyah. jangan merasa tidak enak seperti itu," ucap Farhan yang memegang tangan Aisyah dengan erat. "Tapi tadi kamu merasa terganggu, kan?" tanya Aisyah seraya menatap wajah tampat yang tengah tersenyum padanya. "Iya, awalnya," ucap Farhan dingin. "Sekarang?" "Masih." Farhan tertawa lepas karena melihat Aisyah yang semakin salah tingkah. Dia kembali menatap wajah Aisyah dengan sangat serius. "Ada yang ingin aku katakan, Aisyah." Farhan mencuba mencairkan suasana. Ditatapnya lagi pipi yang kemerah-merahan itu. 'Cantik,' cetusnya dalam hati. "Apa?" "Terima kasih." "Untuk?" tanya Aisyah bingung. Farhan semakin mengeratkan genggamannya, seolah tak ingin kehilangan wanita yang beberapa tahun ini menjadi istrinya. "Semuanya. Kamu sudah menemaniku sampai sejauh ini. Menerima semua kekurangan dan keterbatasanku dalam menjadi seorang imam. Terima kasih, Aisyah. Aku mencintaimu!" ucap Farhan dengan nada yang sangat lembut.  Tidak terasa sudut mata Aisyah mengeluarkan buliran haru. Sementara, Farhan memeluk tubuh Aisyah dengan sangat erat seolah tidak ingin kehilangan wanita yang ia cintai itu. Begitupula dengan Aisyah, ia tak pernah ingin kehilangan pelukan hangat yang sedang ia rasakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN