Mendengar bahwa kak Dani mengalami tabrakan aku hanya tertawa dalam hati pura-pura menggulingkan diri dan tidur sambil memeluk bayiku. "Dik, Kak Dani tabrakan," ucap kak Aidil. Suamiku yang memang settingan default perangainya adalah pria yang baik langsung panik dan mengambil jaketnya untuk menyusul sang kakak ke rumah sakit. "Ini sudah malam Apakah kakak harus pergi ke sana?" "Ya, kak Dani pasti butuh teman selain Kak Yanto," jawabnya cepat. "Kita kan tidak punya kendaraan Kakak mau pergi pakai apa?" "Aku bisa bawa motor kak Tina," jawabnya sambil bergegas. "Apakah tabrakannya parah?" tanyaku lirih. Sebenarnya aku berharap dalam hati bahwa tabrakan itu memang parah, mungkin pecah kepala atau patah kaki agar dia bisa merasakan betapa sakitnya menyakiti orang lain. "Belum tahu, kej

