Gama memasuki kamarnya setelah menghabiskan semangkok bakso yang lezat dengan kuahnya yang begitu sedap. Perutnya sudah kenyang, sudah saatnya bagi Gama Adiyaksa untuk beranjak ke dunia mimpi. Meletakkan ponsel di sisi ranjang, Gama melirik sekilas ke arah jam dinding yang berdetak secara teratur. Jam dinding berwarna putih besar itu menunjuk pukul sepuluh malam, waktu yang pas untuk beranjak tidur. Gama tersenyum saat ingat moment dimana ia barusan makan semangkok bakso bersama Adira. Hal yang mustahil bagi Gama untuk dilakukan. Ya, selama ini ia selalu melakukan apapun sediri. Makan sendiri, jajan sendiri, pergi pun selalu sendiri. Semenjak ada Adira, secara tidak langsung Gama pun belajar untuk selalu berbagi. Ketika Gama masih asyik membayangkan wajah Adira, ponselnya berdering. Pri

