Adira tak menyangka jika siang menjelang sore itu akan menjadi bencana baginya. Saat ia hendak menelpon Pak Jul, hal pertama yang membuatnya sempat terheran-heran adalah kenapa Pak Jul tidak mengangkat teleponnya. Perasaan Adira tidak enak, hanya saja ia memilih untuk diam dan pulang dengan menggunakan jasa taksi online. Sesampainya di villa pun, ia tidak menemui siapapun termasuk Pak Jul dan Bi Darsih. Kemanakah perginya semua orang?
Adira mengusap peluh, mengembuskan napasnya melalui mulut guna menetralisir rasa lelah yang kini ia rasakan. Memasuki villa, hati Adira terus bertanya-tanya, kemanakah perginya semua orang? Kenapa villa ini terlihat sangat mengerikan ketika tidak ada satu penghunipun yang tampak?!
Ketegangan yang menyerang hati kecil Adira lenyap tatkala suara dehaman menggema di ruang santai. Adira bisa bernapas lega setidaknya ada makhluk lain yang kini terlihat di rumah bak istana tersebut. Adira mendekati ruang santai, merasa penasaran dengan sosok yang berdeham seolah memberinya tanda bahwa di villa itu ada tanda kehidupan yang lain.
“Sudah pulang? Bagaimana acara mencari kerjanya? Apakah kau mendapatan sesuatu yang bagus untuk diceritakan?” Gama mencoba bertanya, ia membaca koran yang menjadi langganannya setiap pagi. Pria itu sama sekali tak menoleh, ia terus sibuk seolah kehadiran Adira sama sekali tidak penting di ruangan tersebut.
Adira berhenti diambang pintu ruang santai. Bola matanya menatap lurus ke arah Gama.
“Ya, aku mendapatkan pekerjaan yang bagus. Tapi aku harus berjuang selangkah lagi untuk benar-benar mendapatkannya. Kenapa kau tidak bekerja, Paman?"
Gama tak menjawab, masih larut dengan tulisan-tulisan kecil yang terpampang di atas kertas koran di hadapannya. Suara helaan napas mengakhiri aktifitasnya sore itu, ia menutup korannya dengan sedikit kasar dan menimbulkan suara gaduh. “Aku tidak bekerja pun, aku sudah kaya. Jangan bandingkan aku dengan dirimu.”
Adira mengangkat alisnya dengan wajah heran. Tak biasanya Gama berkata ketus seperti itu padanya. Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Ada angin apa yang membuat si paman tampan terlihat begitu kesal padanya?
“Pak Jul—“
“Oh ya, karena kau sudah bekerja maka kau harus mulai menyicil hutangmu besok. Untuk perincian cicilannya lihat saja di meja, aku malas menjelaskannya padamu. Aku akan istirahat dan jangan ganggu aku,” ucap Gama memperingatkan. Pria berjambang tipis lalu pergi meninggalkan Adira di ambang pintu. Perlakuan Gama yang aneh semakin terasa saat Gama dengan sengaja justru menabrak tubuh Adira hingga gadis itu nyaris menabrak tembok dan pintu.
Rasanya Adira ingin marah tapi teringat bahwa ia memiliki hutang pada sang pemilik rumah, Adira memilih untuk diam dan memendam kemarahannya dalam hati. Melupakan sikap Gama yang menyebalkan, Adira memilih untuk berjalan ke meja dan melihat catatan kecil yang teronggok di atas meja. Adira duduk sejenak seraya mencermati segala rincian hutang yang diberikan kepadanya. Mata gadis itu melotot saat membaca catatan itu dengan seksama. Mana bisa Gama menuliskan hutangnya menjadi 600 juta? Apakah ini jenis penipuan model terbaru? Apa salahnya hingga Gama nekat menaikkan hutangnya menjadi dua kali lipat?
Kemarahan Adira akhirnya tak tertahan juga. Gadis itu beranjak dari kursi sofa, berjalan cepat menuju ke kamar Gama dan mulai menggedor pintu dengan rasa tidak sabar. Ia harus menanyakan perihal naiknya jumlah hutang yang ia punya. Gama harus menjelaskan permainan ini padanya, jangan bilang jika Gama hanya bercanda dan sedang membohonginya. Bagi Adira 600 juta bukanlah hal yang dapat dibuat mainan ataupun candaan, ia tahu betul apa artinya hidup susah dan tak memiliki banyak uang.
“Paman, buka pintumu! Kau harus jelaskan padaku apa arti dari 600 juta di sini. Apakah kau sedang bermain permainan si rentenir Tuan Tanah? Ayo buka atau kau tidak akan mendapatkan tidur yang berkualitas,” teriak Adira Zahra seraya menggedor-gedor pintu kamar Gama dengan keras.
Di dalam kamar Gama hanya terdiam, ia sibuk memainkan permainan Snake di perangkat laptop terbarunya. Hal seperti ini sudah pasti bakal tejadi dan Gama tidak merasa kaget saat Adira terus menggedor pintu kamarnya seperti perampok yang berusaha penuh untuk merobohkan brankas uang dollarnya.
“Paman, aku yakin kau belum tidur. Jangan pura-pura tuli! Ayolah Paman, aku ingin—“ Adira terhenyak tatkala pintu terbuka dan sebuah tangan menariknya masuk ke dalam kamar. Gadis itu tak menyangka jika reaksi Gama bisa secepat itu. Pria itu menarik tangannya, mendorong tubuh mungilnya hingga membentuk tembok. Kedua pasang mata kini saling bertatapan, sebuah reaksi yang membuat keduanya cukup untuk menguasai hati masing-masing.
“Katakan padaku, kemana saja kau pergi?” tanya Gama dengan mata membidik tajam. Kini kedua tangannya mengungkung tubuh Adira hingga sang gadis tak memilik kesempatan untuk lolos dari kungkungan tangan Gama Adiyaksa. Adira terbata, ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menetralkan perasaan aneh yang kini menguasai hati dan pikirannya.
“Aku hanya mencari pekerjaan. Hanya itu,” jawab Adira dengan suara lirih. Bola matanya menatap Gama, berusaha memberi jawaban sejujur mungkin.
“Setelah itu?” Gama terus memburu, tak puas dengan jawaban singkat yang telah diberikan Adira terhadapnya. Gadis itu menelan ludah, rasanya bertatapan dengan Gama dalam posisi seperti ini justru membuatnya nyaris mati karena kehabisan napas.
“Ya, ya hanya itu. Aku pergi ke taman untuk menikmati udara. Hanya itu,” ucap Adira dengan susah payah. Gama terus menelisik, kali ini jari kekar itu mengelus pipi lembut Adira tanpa sedikitpun merubah cara ia memandang mata sang gadis.
“Terus?” Gama tak puas. Ia terus memburu Adira hingga gadis itu benar-benar berkata jujur padanya. Namun apa yang diharapkan Gama tidak seindah bayangannya, sang gadis membungkam mulut cukup lama membuat Gama terus waspada dan kian kesal pada sang gadis simpanan. “Kau tak mau jawab?”
“Aku sudah menjawabnya Paman, kau ingin aku menjawab yang seperti apa. Lagipula aku memang mencari pekerjaan dan aku—“ Suara Adira tertahan di tenggorokan saat Gama menyerang dengan sebuah ciuman di bibir kenyalnya. Gadis berkuncir tinggi itu sejenak kaget, ia memundurkan wajah hingga benturan cukup keras mengenai kepalanya. Adira lupa jika saat ini posisi dia benar-benar tidak menguntungkan. Meski sudah terbentur dinding, Gama tak membiarkan gadisnya tersebut melarikan diri dari pelampiasan rasa kesalnya. Cecapan demi cecapan berhasil membuat tubuh Adira bergetar, ia tidak sanggup menahan napas saat Gama terus memporsir bibirnya dengan begitu angkuh.
Ketika bibir sensual itu lepas dari bibirnya, Adira menarik napas dengan wajah memerah. Detak jantungnya seakan mau meledak, meskipun begitu Gama tak juga mengendorkan kungkungan tangannya. “Aku melihatmu dengan pria lain. Apa kau tahu?”
Bisikan Gama membuat Adira memberanikan diri untuk menatap pria tampan tersebut. Jadi hal ini yang membuat atmosfir seisi rumah jadi berubah seketika?
“Aku cemburu. Apa kau puas?” Gama mengimbuhi, ia menarik dagu Adira dan kembali mencecap kulit kenyal yang tersuguh di hadapannya. Adira memejamkan mata tatkala ciuman yang hangat lagi basah itu perlahan menjadi adegan gigit menggigit yang cukup menyakitkan. Adira mendesis saat kulit bibirnya tertarik oleh bibir Gama, membuatnya secara tak sadar justru mencengkeram kemeja yang dipakai oleh Gama hingga lusuh. Ciuman basah itu berlanjut saat Gama mencari ceruk leher Adira dan meninggalkan tanda merah matang di sana.
“Aku tidak ingin kau berpaling pada pria lain padahal kau masih memiliki ikatan denganku. Jangan curang atau aku akan menghukummu jauh lebih parah.” Gama mulai mengancam. Adira terlihat tertekan, ia hanya membungkam mulut sambil terus menata napasnya yang naik turun tak karuan.
Suara ponsel memecah perhatian keduanya, Gama mengendorkan kungkungan tangannya lalu menoleh ke meja dimana ponselnya tergeletak di atas sebuah majalah lama. Ia menatap Adira sejenak lalu berbalik badan menuju ke ponsel tersebut. “Karena kau menyinggung perasaanku maka hutangmu kunaikkan menjadi 600 juta. Kau tak perlu protes, itu harga yang masih manusiawi bagiku.”
Gama meraih ponselnya, membaca pesan yang terkirim di kotak masuk. Adira mengeraskan rahang, ia merasa kesal saat Gama mengatakan jika 600 juta adalah harga yang masih manusiawi baginya. Hello, apakah Gama masih waras saat ini? Mungkin bagi Gama itu manusiawi tapi bagi Adira, tidakkah itu cukup mencekik lehernya?
Adira mengikuti langkah Gama lalu merampas ponsel pria itu dengan tatapan kesal. “Kenapa kau masih kesal? Kenapa kau mengatakan 600 juta itu nilai yang masih manusiawi, kenapa? Kau lupa ya kalau kau tengah berbicara dengan orang miskin?”
Gama menarik napas, ia menatap Adira dengan tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Kau berulah lagi dengan merampas ponselku maka akan kutambahkan lagi jumlah hutangmu.”
Adira makin kesal, ia lalu menghantamkan ponsel itu ke d**a Gama. “Aku tidak ingin memiliki masalah denganmu. Ambil ponselmu!”
Gama tersenyum miring, ia menerima ponselnya dengan tatapan tenang. Namun tatapan Adira yang tajam ke arahnya memang cukup membuatnya merasa tidak enak dan sedikit merasa bersalah. “Apa lagi?”
“Kenapa kau jahat sekali, Paman? Padahal kau sudah—“
“Sudah apa?” potong Gama penasaran saat ucapan Adira hanya sanggup tertahan di tenggorokan saja. Adira menahan diri, ia meremas kedua tangannya dengan wajah mulai memerah.
“Kau sudah menciumku! Seharusnya kau memiliki hati baik untukku.” Akhirnya Adira mengatakannya dengan sekali teriakan. Gama tertegun, wajahnya kini gantian merona saat gadis itu benar-benar berkata vulgar di hadapannya. Gama buru-buru menunduk, ia menatap ponsel sebagai pengalihan ekspresi wajahnya yang saat ini sukses memerah seperti tomat.
“Bagiku hutangmu tetap 600 juta. Sudahlah, jangan ganggu aku. Nanti malam aku akan makan malam dengan keluarga dan tunanganku,” ucap Gama lalu duduk di kursi sofa. Pria itu sibuk mengotak-atik ponselnya tanpa memperdulikan keberadaan Adira yang masih berdiri di ruangan tersebut.
Adira terdiam, ia merasa marah karena Gama sama sekali tidak memperdulikannya. Ada rasa kecewa tapi Adira tidak ingin memikirkannya lebih lanjut. Gadis itu menganggukkan kepala, mencoba menerima keputusan Gama. “Baiklah kalau begitu. 600 juta, aku akan menyicilnya mulai besok.”
Adira memutuskan, ia berbalik badan lalu meninggalkan Gama di ruangannya seorang diri. Pria itu menatap ke arah pintu saat Adira benar-benar pergi dari hadapannya. Ada perasaan bersalah hingga membuatnya tertegun cukup lama, pria itu akhirnya memutuskan untuk menelepon seseorang dan meminta bantuan padanya.
“Andy, ada tugas baru untukmu. Mulai besok kau bisa mulai bekerja untuk kepentinganku."
***