****
Malam yang gelap dengan ditaburi ribuan bintang itu terlihat begitu indah. Di dalam mobil BMW putih milik Gama Adiyaksa, Adira Zahra mencoba merenung sekali lagi akan nasib buruk yang akhir-akhir menjerat hidupnya. Hidup tanpa orang tua sudah jelas membuat siapa saja bakal hidup merana. Bagi Adira, ia tidak pernah menyalahkan ibunya yang seorang p*****r. Beliau menjadi seperti itu karena ayahnya selingkuh bertahun-tahun lamanya. Bahkan Adira sampai sekarang begitu membenci pria yang pernah mengukir jiwa raganya menjadi seorang anak gadis berusia 18 tahun.
Kini, malam yang gelap dengan diterangi ribuan bahkan jutaan bintang itu seakan menjadi saksi persyaratan gila yang Gama lontarkan ke arahnya. Adira tak mengerti kenapa hidupnya harus jatuh pada lubang yang sama, walaupun bukan lubang yang sama persis. Dulu sewaktu pertama kali melihat ibunya membawa pria pulang ke rumah, Adira bisa menangis semalaman. Gadis itu merasa menyesal memiliki ibu—yang bahkan tidak bisa menghargai dirinya sendiri dan merendahkan martabatnya hanya demi selembar uang. Lambat laun ketika usianya mulai beranjak remaja, ia mulai memahami kesulitan-kesulitan yang dialami orang dewasa. Kebutuhan akan uang membuat siapa saja menghalalkan segala cara. Mereka butuh hidup dan akhirnya menjual aset diri meskipun perlakuan yang mereka terima tidak sebanding dengan harga yang diberikan kepadanya.
"Adira, aku tidak punya waktu untuk menunggu jawabanmu semalaman di sini. Jujur, aku memiliki tunangan yang cantik dan dia sangat mapan. Hanya saja kami dijodohkan karena kau tahulah, kerajaan bisnis terkadang terlalu kejam pada nasib seseorang. Jika kau keberatan, aku tidak akan mendesakmu. Kau hanya perlu mengembalikan uang itu secepat mungkin dan—"
"Ya, aku setuju." Adira menyela membuat Gama terbengong sedikit lebih lama. Jawaban yang Adira lontarkan sungguh membuat Gama terkejut. Entah apa yang ada dalam penilaian Gama sekarang. Mungkinkah gadis itu kurang sayang? Ataukah dia matre dan ingin harta saja sehingga tawarannya dilahap begitu saja?
Meski Gama bertanya-tanya dalam hati mengenai alasan gadis itu menyetujui persyaratan gilanya, ia tidak berani untuk menanyakannya langsung. Saat ini jelas-jelas Gama membutuhkan sosok Adira di sampingnya. Untuk apa? Yang jelas Gama akan menggunakan Adira sebagai orang ketiga dalam pertunangannya dengan Melati Smith agar pertunangan tersebut batal.
Ya, Gama Adiyaksa—pria mapan yang memiliki perusahaan batu bara tersukses di Indonesia dengan pendapatan mencapai ratusan trilliun rupiah. Kerajaan bisnisnya diturunkan secara turun temurun. Karena kekayaannya yang berlimpah ruah, banyak rekan kerja yang menyodorkan putri mereka untuk dipersunting Gama. Sayangnya, Gama bukanlah pria yang gila perempuan. Ia bertunangan dengan Melati karena keluarganya memiliki hutang budi pada keluarga Melati. Sungguh tidak adil! Keluarga Adiyaksa selalu memiliki tradisi menjodohkan anak mereka pada orang-orang yang memiliki pengaruh besar pada dunia.
Menghela napas, Gama tersadar dari lamunan yang ia ciptakan. Pria bergaya rambut Short and Spiky itu terlihat memakai kembali seat belt dan mulai menyalakan mesin mobil. "Lantas malam ini kau akan tinggal dimana?"
Pertanyaan Gama membuat Adira menggigit bibir, ia tertunduk sejenak lalu meremas lututnya dengan penuh resah. Gama menoleh ke arah Adira ketika ia sadar Adira sama sekali tak menjawab pertanyaannya. Gerak-gerik tubuh Adira membuat Gama mengerti. Gadis itu tidak memiliki tempat tujuan setelah tantenya berusaha menjualnya pada pria babi beberapa waktu lalu.
"Baiklah, aku akan memberikanmu tempat tinggal. Mari pergi ke kawasan dekat pantai, di sana aku memiliki villa yang jarang sekali aku kunjungi. Mungkin kamu bisa tinggal di sana hingga aku membelikanmu sebuah apartemen yang layak." Gama berkata sambil sesekali menoleh ke arah Adira. Pria itu mulai menjalankan mobil, membawa tubuh Adira ke kawasan pantai yang baru saja ia ceritakan.
Adira kembali menggigit bibir, merasa sungkan pada pria yang bahkan sekali berjumpa namun sudah seroyal itu padanya. "Paman, apa kau tidak merasa rugi dalam menampungku? Seandainya saja kau mencarikanku sebuah tempat kos yang layak, aku sudah cukup berterima kasih atas bantuanmu kali ini. Aku tidak perlu villa atau apartemen, sebuah kos kecil sudah cukup bagiku."
Gama menautkan alis, ia merasa kurang suka dengan usulan Adira. Wajah pria itu masih fokus pada jalanan ramai di depan. "Kamu minta kos? Kamu kira aku akan meluluskannya?"
"Paman, hutangku akan semakin banyak jika kau menawarkan fasilitas mahal kepadaku. Lalu kapan aku bisa bahagia jika sisa umurku kugunakan untuk terus membayar hutang padamu." Adira mendadak kesal karena kebaikan Gama yang begitu berlebihan.
Gama menyeringai. "Kalau begitu bekerjalah dengan giat. Jangan lupa untuk belajar membahagiakanku. Siapa tahu ketika aku bahagia, hutangmu bisa berkurang tanpa harus kau membayarnya. Ingat, sekarang ini statusmu adalah kekasih gelapku. Maka hiduplah dengan sedikit berkelas dengan fasilitas yang aku berikan padamu. Jangan genit pada pria lain atau kulipatgandakan hutangmu menjadi 600 juta."
Adira melongo, ia menatap tak percaya pada pria rupawan yang kini tengah mengemudi dengan begitu tenangnya. Melirik sekilas pada Adira, Gama menyeringai—menampakkan barisan gigi yang rapi lagi putih bersih. Adira mendengkus, ia membuang pandangan ke luar jendela mobil. "Sepertinya aku telah salah langkah. Ya Tuhan!"
****
Kawasan pantai yang dimaksud Gama lumayan jauh dari ibu kota. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit. Namun rasa capek yang diderita keduanya segera terbayarkan dengan alunan debur ombak yang sesekali menyela kesunyian malam.
Gama berjalan memasuki villa yang dimaksud. Di dalam hunian yang besar dan kokoh itu, hanya ada dua pembantu yang bekerja di sana. Bi Darsi, pembantu yang selalu membantu menyediakan makanan, mencuci baju, dan sesekali merawat ruangan yang besar dan tak berpenghuni tersebut. Sedangkan Pak Jul, dia juru taman sekaligus sopir pribadi kalau-kalau Gama membutuhkan sesuatu tapi malas untuk mengendarai mobil.
"Tuan," sapa Pak Jul dan Bi Darsih sopan saat tuannya memasuki halaman villa. Gama mengangguk, ia menghentikan langkahnya dan mulai memberitahu tugas mereka saat ini.
"Bi Darsih, tolong bantu teman saya ini ya. Perhatikan pola makannya dan juga perhatikan kesehatannya. Kasihan sekali dia, dia dibuang begitu saja oleh keluarganya. Sedangkan kamu, Pak Jul, jika dia butuh apa-apa tolong bantu dia. Kasihan sekali, dia tidak punya tempat tinggal hari ini." Gama lalu melanjutkan langkahnya ke dalam villa setelah dua orang pembantunya tersebut membungkukkan badan tanda hormat.
Wajah Adira cemberut, ia tidak menyangka jika pria ini menjual kemalangannya pada orang lain hanya demi mendapatkan tumpangan tempat tidur. Namun demikian Adira hanya bisa membungkam mulutnya dan komat-kamit tak jelas karena perasaan kesalnya.
Langkah Adira terhenti ketika pria itu memasuki kamar luas dengan satu ranjang tidur ukuran king size. Di samping ranjang itu terdapat bufet dimana lampu tidur, beberapa bacaan buku, dan juga aksesoris lainnya berada.
"Duduklah. Aku akan merawat lukamu itu," saran Gama pada Adira. Pria tampan itu lalu keluar dari kamar, menuju ke dapur dan mengambil air hangat.
Adira menurut, ia duduk di salah satu sofa sudut yang terletak di sudut ruangan berhadapan dengan perpustakaan kecil dan jendela besar terbuat dari kaca. Pandangan Adira yang menelusuri ruangan besar lagi mewah itu terputus saat Gama membawa sebaskom air hangat lengkap dengan kain bersih untuk membersihkan sisa darah kering yang mengucur dari hidung dan sudut bibir Adira.
"Kau tak perlu repot-repot, Paman. Aku bisa membersihkannya sendiri," ucap Adira seraya meraih kain bersih itu dari dalam baskom. Sayangnya Gama lantas merampas kain itu dari tangan Adira Zahra.
"Kau sedang sakit, aku yang akan membersihkan luka-lukamu ini." Gama bersikeras, ia lalu duduk di samping Adira lantas memulai membersihkan sisa darah kering yang menempel di hidung dan sudut bibir Adira.
"Paman, benarkah kau akan membantuku mencari pekerjaan?" Adira mencoba mencairkan suasana kaku yang tercipta di ruangan tersebut. Sayup-sayup debur ombak menghias suasana malam yang mencekam tersebut.
"Ya, aku akan mencarikan kerja untukmu. Jangan khawatir, meskipun kau kekasih gelapku, aku tidak akan memanjakanmu seperti kekasih gelap lainnya." Gama berkata ketus, pria itu masih setia menyeka darah di sudut bibir tipis milik Adira.
Adira terdiam, seharusnya memang seperti itulah hubungan dia dengan Gama. Kendati Gama menganggapnya sebagai kekasih gelap, Adira tidak boleh bergantung padanya lama-lama atau bahkan berharap hubungan mereka membaik kedepannya. Ingat, hubungan ini terjadi karena ia berhutang begitu banyak dan Gama tidak mau rugi dan ditinggal kabur oleh Adira.
Dering ponsel Adira memecahkan kesunyian malam itu. Adira bergegas merogoh saku celananya dan melihat Arman lagi-lagi meneleponnya. "Armana ,ada apa?"
"Tinggal dimana kau sekarang? Aku datang ke rumahmu dan kata tantemu kau pergi bersama pria lain. Benarkah?" Arman menelisik, suaranya terdengar sangat mencurigai. Adira melirik sekilas pada Gama yang menunggunya usai mengangkat telepon.
"Kau datang ke rumahku, ya? Sementara waktu aku akan menginap di rumah temanku jadi—" Adira terkesiap saat ponselnya mendadak dirampas oleh Gama. "Adira tengah bersamaku, kenapa kau gemar sekali mengganggu kesenangan orang? Aku ini kekasih Adira, jangan ganggu dia dengan menebar pesona tersebut."
Telepon lantas dimatikan, Gama membuang ponsel itu ke pangkuan Adira dengan wajah kesal. "Kau sekarang kekasihku, batasi akses berbincangmu pada orang yang tak dikenal. Aku benci wanita genit, kau tahu?!"
"Tapi Arman bukanlah orang asing, dia begitu baik dan—"
"Berhenti memuji dan menyebut nama pria lain di rumahku! Aku yang berkuasa di sini jadi kau harus menurut padaku tentang apa yang kuperintahkan padamu." Gama menekankan nada bicaranya hingga terdengar seperti peringatan. Pria itu meletakkan baskom di atas lemari kecil di samping sofa sudut.
Adira terdiam hingga akhirnya Gama menarik dagunya dan menatap bola matanya yang polos. "Kau milikku sekarang, apa kau mengerti? Walau hanya kekasih gelap, aku harap kau tidak pernah mengecewakanku atau bermain di belakangku. Adira, aku yakin kau cukup mengerti akan apa arti dari posesif. Aku—aku tidak akan melepaskanmu untuk orang lain sebelum kau berhasil mengembalikan uangku dengan utuh. Titik tanpa koma, apa kau mengerti?"
****
Jangan lupa tap lovenya ditunggu ya. Terima kasih banyak.