Bab.5—Keputusan Adira

1184 Kata
Adira terpana, ia tidak mengerti kenapa Gama berkata demikian. Jika dihitung-hitung, baru semalam mereka mengadakan perjanjian sebagai kekasih gelap tapi kenapa perubahan Gama bisa sedrastis ini. Sebagai seorang wanita, Adira tidak mengerti kenapa hanya karena ia cuci piring saja, Gama bisa semarah itu. Gadis berambut panjang itu masih tertegun, bola mata cokelatnya menghunjam manik mata indah di hadapannya nyaris tak berkedip. "Paman, aku tidak mengerti maksudmu." Gama tercekat, tangannya menggenggam seketika. Pria itu mundur beberapa langkah, membuang pandangan seraya mengembuskan napas berat. "Sudah, lupakan. Aku hanya tidak ingin melihatmu cuci piring. Itu saja." Gadis berperawakan kecil mungil itu terdiam, ia menatap piring-piring kotor itu dengan tatapan enggan. Gelagat Adira dapat dibaca Gama, membuat pria itu kembali menginstruksi. "Jangan sentuh piring itu! Mari ke ruang santai saja." Secepat kilat Gama menarik pergelangan tangan Adira, membawa sang gadis agar menjauh dari wastafel dan air sabun pencuci piring. Adira terkesiap namun ia tidak menolak saat Gama mengajaknya ke ruang santai dimana di sana terdapat sebuah televisi berukuran sangat besar, play station model terbaru, hingga home teather yang memiliki kualitas paling bagus. Gama mengempaskan bokongnya, membuka kancing jasnya karena merasa sesak akibat perut yang terasa penuh. Adira hanya terdiam, ia turut duduk di sofa warna kuning yang begitu semarak di ruangan tersebut. "Paman, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu." Adira mencoba membuka perbincangan, membuat pria itu menatap ke arahnya dengan tatapan penuh tanya. "Hmm, apa?" Gama hanya bereaksi dengan dehaman. Adira diam sejenak, ia menatap pria dewasa itu dengan pertimbangan yang ia pikir-pikir sebelumnya. "Bisakah kau meminjamiku beberapa lembar uang lagi? Aku membutuhkan uang untuk ongkos kembali ke rumah Tante Jeni. Beberapa ijazah dan pakaian masih berada di sana jadi aku—" "Kau bisa meminta tolong Pak Jul untuk mengantarmu ke rumah tantemu. Apa yang sulit?" Gama bertanya, merasa heran akan alasan yang dilontarkan sang gadis. "Aku tidak bisa merepotkan Pak Jul. Beliau sibuk mengurus tamanmu, aku lihat kediaman ini sangatlah besar. Bagi Pak Jul, rumahmu ini membutuhkan seharian penuh untuk mengurusnya. Lagi pula, aku juga perlu kontrakan kecil untuk tempat tinggal. Aku tidak bisa tinggal di sini berlama-lama." Adira mengatakan alasannya dengan mata berbinar penuh kejujuran. Gama gantian diam, ia mengamati gadis kecil itu dengan sorot matanya. Ada rasa tidak rela ketika gadis itu berkata ingin pindah dari villanya dan memilih tinggal di kontrakan kecil. "Kenapa? Apa villa ini tidak bagus untukmu? Pemandangan pantai dan pasir putih sangat bagus kala pagi hari menjelang, apa kau akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati pemandangan itu?" Adira tertunduk, ia merasa sungkan jika harus menumpang terlalu lama di rumah Gama. Terlebih ia tidak bekerja, rasanya ia seperti tidak tahu diri saja. "Semua ini sangat bagus, tapi villa terlalu besar untukku. Aku hanya butuh kontrakan kecil dan bisa berjalan kaki menuju ke tempat kerja. Sesederhana itu, Paman." "Villa ini aku beli secara rahasia. Tunanganku tidak akan mengetahui keberadaanmu jadi kau akan tetap aman berada di sini. Lagipula untuk apa kontrakan kecil? Kau ingin menghambur-hamburkan uangku?" tebak Gama dengan wajah penuh selidik. Mata Adira melebar, ia menggeleng cepat. "Tidak. Aku merasa sungkan tinggal di sini jadi aku membutuhkan kontrakan kecil untuk merawat hidupku. Aku tidak bermaksud untuk—" "Ah, atau jangan-jangan kau bersikeras mengontrak rumah agar kau bisa bebas jalan-jalan dengan—siapa itu yang telepon kamu kemarin?—Karpan?" Gama mencoba mengingat-ingat nama pria yang menghubungi Adira kemarin. "Arman," sela Adira pelan membuat tatapan Gama berubah ketus bukan main. "Bodo-lah siapa! Aku tidak mengijinkanmu mengontrak. Titik. Soal mengambil ijazah, tunggu nanti malam, aku akan mengantarmu langsung ke rumah tantemu." Gama mengambil keputusan secara sepihak. Bersamaan dengan itu ponselnya berdering cukup kencang, mengalihkan perdebatan sengit yang kini terjadi di ruang santai. Gama lantas merogoh saku celana hitamnya, menatap layar ponsel dengan sesekali melirik ke arah Adira. Pria itu mengangkat teleponnya dengan wajah sedikit kesal. "Sayang, kamu makan siang dimana? Kata sekretarismu, kau makan di—" "Aku akan segera kembali ke kantor. Jangan terlalu sering menelepon, aku tidak suka." Gama lalu mematikan ponselnya tanpa babibu lagi. Pria itu menatap Adira dengan tatapan tajam, seolah perdebatan tadi belum cukup puas untuk ia menangkan. "Walau kau hanya kekasih gelap, seujung kuku pun aku tidak akan membiarkanmu mencari alasan pergi dari sisiku bahkan berkeliaran di luar sana bersama pria lain. Ingat, kau punya hutang 300 juta padaku. Jangan pergi dari sampingku sebelum hutangmu kunyatakan lunas. Ingat, 300 juta." **** Melati Smith, gadis berambut pirang segera menutup ponselnya dengan wajah kecewa. Tidak hanya sekali ataupun dua kali, Gama selalu berlaku cuek terhadapnya. Meskipun cuek, Melati selalu berusaha bersikap tegar seolah tidak pernah terjadi apapun. Ya, Melati makhlum jika Gama sebenarnya tidak pernah memiliki perasaan apapun padanya. Menatap cincin di jari manisnya, Melati menerawang jauh pada saat pertama kali bertemu. Gadis berwajah bule itu sudah jatuh cinta pada Gama namun pria itu memiliki hati yang keras sekeras baja. Melati tidak bisa meruntuhkannya sampai sekarang. Kendati ia tahu bahwa ia tidak diinginkan oleh Gama, Melati terus bersikeras tinggal di samping Gama sebagai jodohnya. "Kak Mel, ada apa? Kenapa melamun?" tanya Tyas Adiyaksa, satu-satunya adik perempuan Gama Adiyaksa. Wanita berusia 18 tahun itu terlihat terbengong saat melihat Melati terdiam usai menelepon kakaknya, Gama. "Bisa telepon kak Gama 'kan?" Melati melempar senyum lalu mengangguk, ia menyimpan ponselnya di saku rok lalu beranjak berdiri. Butik yang ia dirikan begitu ramai, terlebih saat ini adalah bulan yang baik untuk para muda-mudi menikah. "Bagaimana Kak Gama?" tanya Tyas penasaran, gadis itu lalu duduk di kursi bundar dan menatap calon iparnya dengan seksama. Melati tersenyum tipis, ia kembali bekerja dengan mengecek ukuran beberapa pakaian pengantin yang baru setengah jadi. "Dia sibuk jadi aku tidak berani mengganggunya lebih jauh. Soal rencana makan malam bersama keluarga, lain kali akan kubicarakan lagi padanya pelan-pelan. Dia sangat sibuk, tidak enak jika mengganggunya." "Kau gadis yang sangat baik, sudah rajin, pintar juga. Aku senang bisa mendapatkan ipar cerdas sepertimu." Tyas memuji, membuat Melati kembali melempar senyum. Berbeda dengan pujian Tyas, kakak gadis itu tidak pernah melontarkan pujian terhadapnya. Walau Melati sangat ingin mendengar, ia tidak pernah mendapatkannya dari bibir Gama. Semakin banyak Melati berusaha untuk mengambil hati Gama, yang ia dapatkan cuma luka, luka, dan luka. Melati tetap sadar, secinta apapun ia pada Gama, Gama tidak pernah membalas perasaannya. "Kak Mel, bagaimana jika Gama memiliki gadis lain?" Tyas tiba-tiba bertanya, membuat Melati menghentikan aktifitasnya dalam mengukur panjang sebuah gaun. "Maksudmu?" Melati menatap Tyas penuh selidik. "Ya, aku cuma berandai saja. Gama adalah pria yang dingin, kalian tahu, kalian saat ini hanyalah dijodohkan oleh orang tua. Bagaimanapun seorang pria selalu menuruti apa yang menjadi egonya. Meskipun kakakku dingin, sebagai lelaki ada kemungkinan juga jika suatu hari nanti ia menemukan kekasih sejatinya dan—" "Tyas, hari ini aku bekerja. Mohon jangan mengganggu pekerjaanku dengan argumenmu itu. Aku percaya akan komitmen Gama, ia tidak akan pernah meninggalkanku apapun keadaannya. Kau mengerti?" Melati melempar senyum dengan wajah terlihat tersiksa. Tyas terdiam, ia lalu mengangguk pelan. "Secinta apapun kau pada Gama, kau harus menyiapkan diri jika kemungkinan ini terjadi kakak. Gama bukanlah orang yang gampang dikendalikan. Sebelum hal itu terjadi, mulai saat ini bersiap saja. Gama adalah pria keras, seharusnya mulai dari sekarang kau belajar bagaimana menjinakkan perasaannya. Bukankah begitu?" ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN