Bab 2
Samar-samar aku mendengar suara orang, yang memanggil namaku, bahkan mengetuk pintu dengan sekencang-kencangnya. Aku pun terbangun, saat mendengar tangisan Annisa yang sepertinya kaget, dengan suara ketukan dan teriakan orang dari luar pintu kamar.
Aku mengangkat tubuh mungil putriku, kemudian aku menyusuinya. Setelah ia terlelap, baru aku kembali mengundurkan Anisa ke atas kasur. Kemudian aku segera berjalan menuju pintu kamar untuk membukanya. Setelah pintu terbuka, ternyata Mas Arya sudah ada di depan pintu kamar.
Mata melotot, dengan wajah yang merah padam. Tanpa aku duga sebelumnya, Mas Arya mendorongku, dengan begitu kuat. Aku pun terjatuh dan keningku sampai terantuk ranjang kayu, yang biasa digunakan untuk kami tidur
"Aww," pekikku, sambil memegang keningku, yang terkena ranjang dan ternyata keningku benjol sebesar telor ayam kampung.
"Rasain kamu, Salma! Makanya, jadi perempuan itu yang manut sama suami. Kamu jadi perempuan kok susah banget diatur, sudah dibilangin kamu itu harus beres-beres di rumah Ibuku, ini sampai kami kembali pulang, rumah masih tetap seperti itu. Maunya apa sih kamu ini? Memang apa susahnya sih tinggal beres-beres doang, bisa sambil momong anakmu juga 'kan?" tanya Mas Arya, dengan emosi.
"Kalau memang menurut Mas Arya, beres-beres itu gampang. Ya sudah, silakan kamu bereskan rumah Ibumu yang berantakan itu. Kenapa juga kamu mesti menyuruh aku, yang jelas-jelas memiliki anak kecil?" Aku melawan ucapan suamiku dengan nada tinggi juga.
Plak!
Aku ditampar Mas Arya, setelah aku mengatakan semua itu, perkataan yang memang mengganjal di hatiku.
"Ayo tampar, Mas. Terus tampar aku sampai kamu puas! Kalau perlu sekalian kamu habisi aku, biar kamu tidak lagi menyakiti jiwa dan ragaku. Biar keluargamu juga tidak lagi menghinaku, sudah cukup kesabaranku selama sepuluh tahun ini. Sudah cukup rasa baktiku kepadamu dan keluargamu. Aku capek, aku lelah, Mas!" Aku berkata sambil berteriak teriak tidak karuan, ditambah lagi suara jeritan Annisa yang kaget karena pertengkaran kami.
"Ada apa ini Arya, salma. Kok kalian malah ribut?" tanya Tante Tiara, yang merupakan tantenya Mas Arya.
Ia datang dan bertanya, kenapa kami sampai ribut begini.
"Biasa Tante, itu si Salma selalu bikin aku emosi terus," sahut Mas Arya.
"Sudah ah, kalian jangan ribut terus, malu tau sama orang-orang. Apa kalian berdua lupa, jika di rumah orang tua kalian sedang banyak orang? Masa iya sih, kalian di sini malah berantem," tegur Tante Tiara
Ia melerai pertengkaran kami, kemudian setelah itu ia pergi meninggalkan kami. Aku yang melihat anakku terus menangis, segera aku gendong dan aku susuin lagi, hingga Annisa pun kembali anteng di dalam gendonganku. Andai saja aku tidak memiliki Annisa, yang masih buruh perhatian Bapaknya, sudah pasti aku akan pergi dari kehidupan Mas Arya sejak dari dulu.
"Heh, Salma, makanya kamu jangan suka membantah apa kata suami. Kamu harus nurut apa kataku, itupun jika kamu memang kamu masih mau menjadi istriku. Kamu jangan pernah berpikir, kalau aku tidak bisa mendapatkan istri lebih baik dari kamu. Aku ini lelaki, Salma. Apalagi keadaan aku sekarang mapan, jadi siapapun perempuan yang aku mau, pasti akan aku dapatkan saat ini juga. Paham kamu," ujar Mas Arya, ia berkata dengan begitu pongahnya.
"Terserah," kataku pendek, sambil berlalu pergi keluar meninggalkan Mas Arya.
Karena Annisa yang sudah selesai menyusu, jadi aku gendong dan aku bawa keluar menuju rumah mertuaku, yang masih banyak orang hilir mudik. Aku pergi ke rumah mertua, bukan mau bantu-bantu. Tetapi karena aku malas, meladeni suami temperamen seperti Mas Arya.
Aku duduk di kursi, yang memang masih berserakan di depan rumah mertuaku, dengan tubuh sempoyongan. Mungkin semua ini karena aku belum makan apapun dari pagi, bahkan dari semalam. Buasanya seorang Ibu menyusui, pasti butuh asupan makanan yang cukup, biar Asinya juga bagus. Tapi aku berbeda, sebab aku dijatah makan sama suami dan juga mertuaku.
Walaupun aku memiliki rumah sendiri, tetapi urusan dapurku tetap di pantau oleh mertuaku. Bahkan gaji Mas Arya, enam puluh persen di pegang mertuaku. Aku hanya diberi buat kebutuhan Annisa saja, bahkan itu pun selalu saja kurang. Sedangkan sisanya di pegang Mas Arya, khusus untuk keperluannya sendiri.
"Salma, kenapa tadi kamu tidak ikut, saat mengantar Hendra menikah? Itu kening kamu juga kenapa?" tanya Mbak Rini yang merupakan tetanggaku.
"Iya, Mbak. Ini tadi aku jatuh terus kepentok ranjang karena buru-buru mau ngambil Annisa karena nangis. Tadi itu Annisanya rewel banget, Mbak, makanya aku nggak ikut. Aku takut, jika di sana malah mengganggu acaranya," sahutku.
Aku berbohong kepada Mbak Rini, sebab tidak mungkin juga aku berkata yang sebenarnya di hadapan orang lain. Karena semua itu hanya akan membuat aku malu, bahkan mendapat perlakuan kasar lagi lebih dari ini.
"Kamu beneran kepentok, apa dianiaya Arya?Kamu juga nggak usah bohong sama Mbak, Salma. Tadi itu, bukan karena Annisa yang rewel kan, tapi karena kamu yang nggak di ajak sama keluarga suamimu? Kamu nggak usah berbohong sama Mbak, sebab semua orang juga tau, kalau mertua dan suamimu itu seperti apa kepadamu. Di sini semua orang sudah pada tau dan bukan rahasia lagi, kalau kamu selalu diperlakukan kasar oleh mereka. Hanya saja kamu nya yang tetap sabar dan terus bertahan, di keluarga yang seperti ini." Mbak Rini berkata sambil berbisik di telingaku, mungkin dia takut jika ada keluarga Mas Arya yang mendengarnya.
"Ya begitulah, Mbak," kataku pada akhirnya.
"Kamu sudah makan belum, Salma? Kalau belum, kamu makan dulu sana, biar Annisanya Mbak yang pegang. Kamu kok liver banget begitu," perintah Mbak Rini, sambil mengambil Annisa dari gendonganku.
Mbak Rini mengajak Annisa bermain, serta menyuruhku untuk makan, sebab menurut Mbak Rini, kini wajahku kelihatan sangat pucat. Karena aku dari pagi memang belum sempat makan. Karena sarapan dan makan siangku kali ini adalah pertengkaran dengan Mas Arya.
Aku pun masuk ke rumah mertuaku untuk mengambil makan, sebab selama mertuaku hajatan, Mas Arya menyuruhku untuk makan di rumah orang tuanya. Tapi semua itu dengan imbalan, aku harus membantu dulu pekerjaan mertuaku.
"Mau apa kamu datang ke sini, Salma? Mau minta makan? Tuh cuci dulu perabotan di dapur, baru kamu boleh makan," suruh Bu Sari.
"Iya, Bu. Tapi biar nanti dulu ya nyucinya, sekalian setelah Salma makan," sahutku.
Aku meminta keringanan kepada mertuaku, supaya aku mencuci piringnya setelah aku makan. Karena aku benar-benar tidak tahan kepala aku pusing, serta berkunang-kunang akibat menahan lapar.
"Nggak bisa begitu, Salma. Orang pegawai saja, tidak ada yang dikasih upah duluan sebelum bekerja. Ini kamu enak banget, datang-datang minta langsung makan saja. Keluarkan dulu tenagamu, baru bisa makan terpakai." cecar Bu Sari, ia malah membandingkanku dengan pegawai.
Bersambung ...