Bab 1
Bab 1
"Dek, kamu mau pergi kemana? Kok penampilanmu, serta anakmu sudah rapi begitu? Bawa tas segala?" Tanya Mas Arya suamiku, mengomentari penampilanku serta anaknya.
"Aku mau ikut ke acara pernikahan adikmu lah, Mas. Emang kenapa?" tanyaku heran.
Aku merasa aneh sama Mas Arya suamiku, yang menanyakan tentang penampilanku. Padahal, hari ini adalah hari dimana adik bungsunya yang bernama Hendra akan menikah. Aku sebagai ipar dan menantu tertua, ingin ikut menyaksikan acara pernikahannya Hendra. Tetapi kenapa Mas Arya malah bertanya aku mau kemana? Sedangkan dia sendiri saja sudah berpenampilan rapi, memakai baju setelan sama dengan keluarganya. Menurut Mas Arya, hanya anak- anak mertuaku saja, yang memakai pakaian couple. Sedangkan para menantunya tidak ada, yang memakai pakaian yang sama dengan suaminya. Tetapi itu kata suamiku, sebab saat acara kumpulan keluarga aku tidak diperbolehkan ikut oleh suamiku. Alasannya ini khusus anak-anak mertuaku saja, para menantu tidak diperkenankan hadir. Jadi aku tidak tahu, kalau menantu yang lain di berikan pakaian couple atau tidak. Mas Arya juga terbiasa memanggil anaknya, dengan sebutan anakmu. Seolah dia tidak mengakui, kalau Annisa Nadhira itu anak kami berdua.
"Dek, kata Ibu kamu nggak usah ikut ke acara pernikahannya Hendra. Soalnya di rumah Ibu nggak ada yang nunggu, mana masih berantakan lagi. Lebih baik sekarang, kamu ganti pakaianmu dengan daster seperti biasa! Kemudian, kamu segera pergi ke rumah Ibu untuk membantu membereskan rumahnya!" Mas Arya memerintahkanku untuk mengganti pakaianku dengan daster, seperti hari-hari biasanya dan segera pergi ke rumah Ibunya untuk beres-beres.
"Lho, Mas. Kok gitu sih? Aku kan ingin ikut ke acaranya Hendra, aku ingin menyaksikan pernikahan adikmu. Masa iya, aku malah di suruh tinggal di rumah untuk beres-beres. Ini momen pentingnya Hendra, Mas. Aku pingin ikut ya, Mas?" pintaku kepada suamiku.
"Dek, kamu nurut dong apa kata suamimu? Ada, maupun tidak ada kamu pernikahan Hendra akan tetap berlangsung. Jadi kehadiran kamu itu, tidak berpengaruh terhadap acara ini. Lebih baik sekarang, kamu nurut apa kata Mas dan juga permintaan Ibu." Mas Arya berkata, bahwa aku tetap tidak boleh ikut ke acara pernikahannya Hendra.
Degh!
Aku merasa kaget, saat mendengar perkataannya Mas Arya. Kok dia tega sekali berkata seperti itu padaku. Padahal, aku ini istrinya, kok dia tega berbicara seperti itu. Padahal, aku benar-benar ingin ikut ke acara pernikahan ini. Tetapi, Mas Arya dan juga Ibunya tidak memperbolehkan aku untuk ikut.
"Mas, kenapa aku tidak boleh ikut ke acara pernikahannya Hendra? Apakah Nina dan Nuri juga tidak ikut pergi mengantar? Apa mereka juga dilarang ikut oleh Ibu sama sepertiku, Mas?" tanyaku, aku menanyakan kepada Mas Arya, tentang kedua menantu Ibu yang bernama Nina dan Nuri.
Aku ingin tahu, apakah Nina dan Nuri diperbolehkan ikut mengantar pengantin atau tidak sepertiku. Karena biasanya, mertuaku itu selalu membedakanku, dengan menantu yang lainnya. Menantu yang lainnya selalu dinomer satukan, sedangkan aku menantu tertua di keluarga suamiku, malah selalu berada diurutan paling belakang.
"Nina dan Nuri ikut, sebab mereka tidak memiliki anak bayi sepertimu. Apa kamu nggak kasihan sama anak kamu, anak baru enam bulan sudah harus berdesak-desakan di dalam mobil. Belum lagi perjalanannya lumayan jauh, nanti anakmu malah sakit." Mas Arya memberikan alasan, kenapa aku tidak boleh ikut, sedangkan menantu yang lain pada ikut.
"Kalau memang alasannya aku tidak boleh ikut karena, aku memiliki anak kecil sih masuk akal, Mas. Tetapi kenapa juga, aku yang memiliki anak kecil ini, malah di suruh beres-beres di rumah Ibumu? Itu namanya, aku di suruh jadi pembantu keluargamu, Mas. Silahkan kalian pergi dan nggak usah ajak aku, tetapi aku juga tidak akan datang kerumah Ibumu!" Aku berkata sambil pergi ke dalam kamar, serta pintu kamar pun aku banting menandakan aku marah pada suami dan keluarganya. Aku juga tidak lupa mengunci kamar, supaya Mas Arya tidak bisa masuk kedalam.
"Salma, buka dong pintunya! Kamu harus segera mengganti pakaianmu, setelah itu kamu pergi ke rumah Ibu. Pokoknya kamu harus menuruti apa kataku, aku tidak mau ada alasan apapun darimu, serta aku juga tidak mau dibantah. Kalau kamu tidak mau menuruti apa kataku, lihat saja nanti saat aku pulang," ancam Mas Arya.
Ia tetap menyuruhku untuk pergi beres-beres di rumah Ibunya. Ia benar+benar tidak memperdulikan perasaanku. Mas Arya bahkan mengancamku, kalau sampai aku tidak menuruti perkataannya. Dia akan berbuat sesuatu padaku, tetapi entah apa yang akan diperbuat olehnya.
Tetapi aku juga sudah tidak peduli lagi dengan ancaman darinya, aku tidak sudi lagi menjadi b***k di keluarga suamiku. Aku sudah terlanjur sakit hati dengan perlakuan mereka terhadapku, begitu pun dengan sikap suamiku yang tidak pernah membelaku di hadapan keluarganya.
"Salma, kamu dengar nggak omonganku! Awas ya kamu, kalau sampai kami datang dari pernikahannya Hendra, rumah Ibu masih berantakan." Mas Arya kembali mengancamku.
"Terserah kamu, Mas. Kamu mau ngapain aku juga. Aku sudah tidak peduli lagi, Mas. Aku capek jika harus terus menerus seperti ini," teriakku.
Aku berteriak sambil menangis, hingga membuat anakku kaget dan ikut menangis pula. Aku pun memeluk anakku satu-satunya ini, kemudian aku pun segera memberinya asi. Aku menyusui anakku, sambil air mata terus saja berderai mengenai pipiku.
Perlakuan suamiku dan juga keluarganya begitu menyayat hatiku, hingga rasanya melebihi goresan sembilu. Aku menangis sambil menyusui An bisa, hingga tidak terasa aku sampau terlelap. Mubgkin karena telah lelah menangis, hingga membuat aku tertidur begini. Begitu juga dengan anakku Annisa, ia ikut terlelap bersama denganku.
Aku menikah dengan Mas Arya hampir sepuluh tahun lamanya, tetapi aku baru dikaruniai anak yang kini masih berusia enam bulan. Selama pernikahanku dengan Mas Arya. Aku selalu dihina dan disepelekan, sebab tidak kunjung memiliki momongan. Aku dikatai mandul, perempuan pembawa si*l dan lain sebagainya.
Tidak jarang juga mertuaku menyuruh Mas Arya untuk menceraikanku. Tetapi Allah berkata lain, dengan kesabaranku menanti sang buah hati, kini hadir gadis cantik dari dalam rahimku sendiri, walaupun harus menggunakan cara operasi caesar. Karena menurut Dokter jalan lahirku sempit, jadi jalan operasi caesar lah satu-satunya cara untuk mengeluarkan bayi dari dalam rahimku.
Aku kira setelah kehadiran putriku, Mas Arya dan keluarganya akan bersikap baik kepadaku. Tetapi itu hanya dalam anganku saja, mereka masih terus berbuat dzolim terhadapku, bahkan lebih parah dari yang dulu. Mereka semua seperti orang yang tidak mempunyai hati.
"Salma ... Salma, buka pintunya! Kalau kamu nggak mau buka, akan aku dobrak pintunya."
Bersambung ...