Part 8

1107 Kata
Chen kembali mengikuti setiap pergerakan Tuan Ma, kali ini penjagaan semakin diperketat. Hal itu membuat Chen cukup kesulitan untuk bisa mendekat atau mencari celah. Sampai pada akhirnya Chen menemukan beberapa tempat yang bisa digunakan untuk membidik Tuan Ma pada pertemuannya dua hari mendatang. Setelah itu, Chen kembali ke apartemen. Ia tidak bisa menemukan Shakira dimanapun. Hingga akhirnya Chen menghubungi ponsel wanita itu. “Kau dimana?” tanya Chen. “Aku sedang makan.” “Apa?” “Aku lapar, apa aku tidak bisa menikmati hidangan dengan baik?” “Tidak, bukan begitu. Kenapa kau tidak memberitahu aku?” “Untuk apa? Kau bahkan bukan siapa-siapa untukku!” Tut … Chen merasa kesal hingga akhirnya melempar ponsel itu ke lantai hingga terbelah menjadi dua. Pria itu benar-benar tidak bisa menahan emosinya saat ini untuk menghadapi tingkah Shakira. Pria itu kembali fokus utnuk merakit senjata, dan menghubungi beberapa orang untuk membantunya. “Siapkan ruangan di gedung lantai dua puluh. Ya, ada di utara gedung milik Ping An Group.” “Baik!” “Jangan lupa, berikan beberapa alat untuk melarikan diri dari lantai itu.” “Kau ingin terbang atau lompat?” “Terserah, cukup dengan nyawa yang tidak akan terlepas dari tubuhku, itu saja cukup!” “b*****h ini!” Panggilan telepon yang dilakukan Chen pun berkahir. Chen menekan earpiece yang terpasang ditelinganya. Kembali pada senjata yang sedang ia rakit, Chen benar-benar ingin melakukannya dengan benar dan tidak terdeteksi. Karena Tuan Yan sudah memberitahu jika istri Tuan Ma, akan berada di gedung itu. Tidak lama setelah itu, terlihat Shakira masuk ke dalam apartemen dengan membawa makanan ringan di tangannya. Wanita itu tanpa rasa bersalah melewati Chen yang sedang merakit senjata. “Shakira, apa kau bisa menggunakan senjata ini?” tanya Chen. “Kau memiliki riwayat pekerjaanku. Seharusnya kau tahu senjata apa saja yang bisa aku gunakan, Chen!” jawab Shakira dengan nada tegas. Chen hanya menggelengkan kepala, kembali tidak ingin berdebat dengan wanita itu ia pun mengacuhkannya. Setelah senjata itu telah siap, Chen meletakkannya di dalam tas besar berwarna hitam yang ada di bawah meja. Chen berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan. Ia terlihat sedang membuat mie instant dan juga merebus telur. Sedangkan Shakira duduk di ruang santai dengan menatap televisi yang sedang menampilkan berita hari ini. Di sana terlihat jika Ping An Group akan mengadakan rapat penting untuk beberapa perusahaan yang mencoba menghentikan penjualan saham mereka. Beberapa dari orang-orang itu mengatakan jika Tuan Ma berlaku curang dalam bisnis ini, Sehingga membuat perusahaan mereka rugi. “Kau akan tetap melakukannya?” tanya Shakira. “Ya.” “Jangan bodoh dengan membidik dari gedung sisi utara. Mereka bisa saja melacak dirimu di sana!” “Bagaimana kau tahu?” “Kau kira aku hanya bermain di luar sana?” “Shakira, bekerjasamalah! Jangan membuat misi ini berakhir gagal.” “Jika ingin berhasil, seharusnya kau membiarkan aku yang melakukannya!” “Hei, di sini Tuan Yan menyuruh kita bekerja secara Tim!” “Tetapi aku tidak suka bekerja secara Tim!” “Shakira!” Shakira berdiri dari tempatnya lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Wanita itu sungguh egois dan keras kepala. Membuat Chen harus beberapa kali kesal dibuatnya. *** Malam ini, Chen sedang duduk dengan sebotol bir di atas meja. Pria itu terlihat meneguk beberapa gelas kecil, lalu menikmati camilan sembari melihat berkas ditangannya. Berkas itu adalah milik Shakira, wanita yang selalu membuatnya kesal dalam setiap misi. Bukan hanya satu kali ini saja ia mendapatkan misi dengan Shakira. Untuk misi pertama mereka, Chen hampir saja mati karena dibunuh wanita itu. “Kau benar-benar tidak berubah sejak beberapa tahun lalu.” Chen menghela napasnya perlahan, lalu kembali meminum bir yang ada di atas meja hingga habis lima botol. Sementara di dalam kamar, Shakira juga sedang melihat berkas milik Chen. Ia melihat riwayat pertarungan dan misi yang pernah pria itu lakukan. Dalam sebuah file dari ponsel, Shakira bisa melihat jika Chen selalu bekerja dengan menghadapi banyak bahaya yang hampir merenggut nyawa. “Pria bodoh! Dan akan selalu bodoh!” ujar Shakira. Malam semakin larut, Shakira memilih untuk berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut. Namun, tidak lama setelah matanya terpejam. Ia merasa ada yang sedang memeluk dari belakang. “Apa yang kau lakukan?” tanya Shakira. “Tidur.” “Kau mabuk?” “Tidak, aku hanya menghabiskan tujuh saja.” “Kau gila! Pergi dari sini!” usir Shakira. Chen hanya terkekeh, dan enggan beranjak dari ranjang. Akhirnya Shakira bergerak untuk pergi dari kamar itu, tetapi sayang … Chen sudah menyembunyikan kunci kamar di suatu tempat. “Chen! Di mana kunci kamar ini?” tanya Shakira. “Entahlah!” Chen kembali terkekeh melihat kekesalan dari diri Shakira. Shakira mendekati Chen dan mencari keberadaan kunci itu pada pakaian yang dikenakan oleh Chen. Sayangnya, saat Shakira hendak menyentuh tubuh pria itu, ia justru ditarik dan jatuh di atas pelukan Chen. “Uhm, Chen … lepaskan!” protes Shakira. “Tidak!” “Chen, baiklah. Kau bisa tidur di sini. Aku akan tidur di sofa itu.” Chen melepaskan tubuh Shakira, lalu membiarkan wanita itu berjalan menuju sofa. Saat Shakira sedang berbaring di sana, Chen beranjak mendekatinya. Tubuh Chen kembali menindih Shakira dan membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas. “Chen, kau mabuk! Pergi!” usir Shakira sekali lagi. Chen kembali tidak mendengarkan ucapan wanita itu dan justru bergerak dengan brutal. Chen melepaskan pakaian Shakira dengan paksa, sehingga pakaian itu robek. Tidak sampai di situ, Chen meraih dasi yang masih melingkar di lehernya dan digunakan untuk mengikat tangan Shakira ke atas. “Chen! Apa-apaan ini?” “Sstt!” Chen kembali terkekeh. Kini ia melihat bagian utama dari tubuh Shakira, dan merobeknya. Chen membalikkan tubuh Shakira, lalu melepaskan celana milinya. Tanpa memberikan aba-aba, pria itu memasukkan miliknya begitu saja. “Akh! Sialan kau, Chen!” umpat Shakira. Chen kembali terkekeh, lalu menggerakkan pinggulnya. Rasa nikmat yang dirasakannya, berbeda dengan apa yang Shakira rasakan. Shakira harus menahan rasa perih pada bagian intimnya karena terluka. “Ahh.” Chen terus bergerak, hingga beberapa menit kemudian berhenti. Chen melepaskan ikatan pada tangan Shakira, dan mengubah posisi mereka. Kini tangan Shakira terikat kebelakang, dengan tubuh yang berada di atas Chen. “Ahh, bergeraklah agar kau bisa merasakan nikmatnya!” ujar Chen dengan memejamkan mata. Shakira tidak peduli, ia tidak bergerak sama sekali dari posisi itu. Sampai akhirnya Chen yang melakukan gerakan, dan membuat Shakira ikut mendesah. Milik Shakira terasa berkedut, dan Chen bisa merasakan ada cairan hangat yang keluar dari sana. Chen segera menyelesaikan kegiatannya dengan kembali mengubah posisi mereka. Ia menggendong tubuh Shakira dan membawanya ke atas ranjang. Gerakan pinggul Chen tidak beraturan, hingga sampai pada puncaknya, cairan milik pria itu memenuhi liang gairah milik Shakira.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN