Pangeran Zhen yang bertingkah manis seharian ini membuat Xi Juan tidak tahan. Terlalu berlebihan menurutnya. Dan tentunya terasa menggelikan.
Ingin minggat secepatnya dari sana, akan tetapi, tidak punya peluang untuk kabur karena pangeran sialan itu mengikat kaki dan tangannya. Psycho memang pangeran satu itu.
Sejak dia terbangun dari tidurnya, ia sudah dalam keadaan di ikat. Saat di tanya alasannya, maka Pangeran Zhen dengan santainya menjawab ... "Aku takut kau pergi."
Ya, Xi Juan tentu saja akan pergi dari hadapan Pangeran menyebalkan ini. Lebih baik mengamankan dirinya sendiri sebelum menghadapi sifat menyebalkan Pangeran Zhen.
Semakin hari, Pangeran Zhen membuatnya jengkel saja.
Meski pria itu berkata ingin memulai hidup baru dengannya, pria itu tetap saja menyebalkan seperti dulu. Tidak ada yang berubah.
"Makan lah ini, jangan cemberut terus." Potongan apel hijau disodorkan padanya.
Xi Juan yang sudah terlampau kesal langsung menggigit jari Pangeran Zhen sekuat tenaga hingga pria itu menjerit kesakitan.
Gigitannya terlepas ketika Pangeran Zhen menjambak rambutnya kuat.
"Dasar istri gila! Kalau jariku putus, kau mau tanggung jawab hah?!"
Bentakan marah Pangeran Zhen membuat Xi Juan tersenyum sinis.
"Dan kalau aku botak, kau mau tanggung jawab hah?!" Kepalanya masih terasa nyut-nyutan sekarang.
"Kau duluan yang menggigit tanganku, jadi jangan salahkan aku menjambak rambutmu."
"Kau ini pria tapi kenapa suka sekali melakukan kekerasan dengan perempuan?"
"Aku tidak akan melakukan kekerasan selama kau patuh."
Xi Juan menggertakkan giginya kesal. "Aku bukan hewan peliharaanmu sehingga harus patuh."
"Kau istriku. Jadi, kau harus patuh padaku."
"Aku tidak mau patuh pada seorang pria yang selalu main tangan! Kau pikir tubuhku ini tahan banting? Sekarang kau memang senang main tangan padaku, tapi apa kau tahu? Tingkahmu itu bisa membuatku pergi jauh dari hidupmu!"
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari hidupku. Sampai kapan pun kau akan tetap menjadi milikku."
Seringaian Pangeran Zhen membuat Xi Juan mengerang kesal. "Dasar pangeran menyebalkan!!"
"Pangeran menyebalkan ini suamimu kalau kau lupa."
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai suamiku!!"
"Ah, aku tahu. Sepertinya aku harus membuatmu mengandung anakku agar menganggapku sebagai suami lagi."
Pangeran Zhen menyeringai seraya melepas pakaiannya. Sementara Xi Juan pucat pasi di tempat.
Jangan... Batinnya berbisik takut.
Pangeran Zhen mendekatinya. Nafas Xi Juan mulai tidak beraturan dengan tubuh yang gemetar.
Pangeran tampan itu tidak jadi mencium istrinya karena kaget akibat teriakan dan melihat tubuh istrinya yang bergetar ketakutan.
Rasa penyesalan dirasakan pria itu. Niat awalnya hanya ingin bermain dengan Xi Juan dalam artian tidak melakukan hal itu. Dia hanya ingin menggoda istrinya karena istrinya itu terlihat menggemaskan ketika sedang kesal. Dia sama sekali tidak menyangka reaksi wanitanya akan seperti ini.
"Maaf." Memeluk tubuh wanita itu erat dan mengecupinya berulang kali.
Perkataan lirih Xi Juan membuatnya merasa sangat bersalah. Wanita itu tetap memintanya untuk menjauh dan tidak melakukan itu.
Lama mereka berpelukan, akhirnya Xi Juan tidak lagi melakukan pemberontakan.
Pangeran itu melepaskan pelukannya untuk melihat wajah istrinya. Ternyata wanitanya itu sudah tertidur.
"Maafkan aku, Xi Juan."
****
Semenjak kejadian malam itu, Xi Juan menjadi pribadi yang lebih dingin dan cuek dengannya.
Tidak lagi berteriak marah atau mencak-mencak tidak jelas ketika dia membuat wanita itu kesal. Yang diterimanya hanya lah sorot dingin.
Tentu saja Pangeran Zhen merasa frustasi melihat reaksi Xi Juan yang semakin dingin tiap harinya.
Wanita itu pun lebih sering menemani Lien yang kehilangan suami untuk selamanya.
Tidak ada celah untuknya bisa membawa wanitanya itu mengobrol.
Belum lagi, keadaan Lien yang begitu memprihatinkan membuatnya mengurungkan niat untuk memaksa Xi Juan bersamanya dan memperbaiki semua kesalahannya.
Dia memang sedikit peduli dengan Lien tapi itu bukan berarti dia suka. Dia hanya sedikit kasihan melihat ekspresi sedih Lien di setiap harinya setelah ditinggal pergi selamanya oleh Kaisar Chun.
Sementara ibunya sudah menyiapkan rencana untuknya dan Pangeran Chen, membunuh anak yang dikandung Lien.
Namun, demi apa pun. Pangeran Zhen tidak akan pernah membunuh anak Lien yang notabenya sahabat Xi Juan.
Jika Xi Juan tahu dia lah pelakunya, maka tentu saja Xi Juan semakin bertambah membencinya.
Pangeran Zhen memberanikan diri memasuki kediaman istrinya yang mana, di sana juga ada Lien.
Niatnya untuk menghampiri keduanya terhenti ketika mendengar ucapan istrinya yang aneh. Ia segera bersembunyi di tempat yang strategis.
"Makan lah sup ini, Azni. Anakmu butuh asupan agar mereka bisa berkembang sehat di dalam perutmu."
Hening. Lien tidak menjawab sama sekali. Wanita cantik itu hanya menatap lurus ke lantai.
"Hei, Azni yang kukenal bukan lah Azni yang mudah putus asa dan seperti zombie setelah kehilangan. Apa kau tidak ingat motto hidup kita di zaman modern dulu? Kita sangat anti menangis-nangis lebay jika terjadi masalah yang besar, apalagi sampai terpuruk. Ayo dong! Bangun! Jadi lah seperti Azni yang kukenal lagi!!"
Kening Pangeran Zhen mengernyit mendengar ucapan Xi Juan.
Zaman modern? Ulangnya.
"Jika teman-teman kita di zaman modern tahu kau seperti ini, mereka pasti tidak akan suka. Seorang mafia tidak boleh lemah karena membuat para musuh mudah menghancurkan."
"Kau mudah saja berkata seperti itu karena kau tidak merasakannya, Fadila. Bayangkan saja! Di masa modern aku di makan ikan hiu, terbangun kembali di dalam tubuh seorang permaisuri yang jelek dan diabaikan, mempunyai suami yang mengidap mysophobia, susah payah aku membantu menghilangkan phobianya, begitu banyak yang aku lalui selama di dunia modern ini tapi kenapa tuhan begitu kejam merenggut Kaisar Chun dariku?! Bahkan anak di dalam perutku belum lahir. Aku tidak tahu harus menjawab apa ke mereka nantinya jika mereka bertanya di mana ayahnya. Aku tidak sanggup membayangkan nasib anakku selanjutnya, Fadila. Aku tidak ikhlas Kaisar Chun meninggalkanku seperti ini. Aku tidak sanggup rasanya melanjutkan hidup tanpa dirinya, tapi aku mencoba bertahan dengan adanya buah hatiku. Aku lelah!! Aku ingin menjadi Azni yang seperti dulu tapi begitu susah!! Bayangan Kaisar Chun membuatku susah menjadi diriku yang dulu!! Bukan kemauanku seperti ini.."
Xi Juan memeluk sahabatnya yang tengah menangis pilu setelah mengungkapkan isi hatinya itu.
"Kau tidak sendiri, Azni. Ada aku, Fadila, sahabatmu. Aku akan membantumu merawat anak-anak itu ketika sudah besar nanti dan masalah dia menanyakan siapa ayahnya, kau tenang saja. Aku akan membantumu menjelaskan jika kau tidak sanggup. Jangan sedih lagi.."
Timbul di pikiran Pangeran Zhen untuk melindungi anak Lien dari ibu dan kakaknya. Ia tidak ingin Xi Juannya semakin marah dan membencinya.
-Tbc-