Part 8

1002 Kata
Mengomel dan mengumpat di dalam hati, itu lah yang dilakukan Xi Juan. Ia kesal dengan Pangeran Zhen yang didapatinya tidur sambil memeluknya saat terbangun tadi pagi. Melihat raut wajah datar dan tak bersalah pria di sampingnya membuatnya semakin geram saja. Berusaha meredam emosi dan melupakan semuanya, wanita cantik tersebut kembali fokus pada makanan dihadapannya. Hampir saja wanita itu mendelik ketika Pangeran Zhen meletakkan daging sapi di atas piringnya. Pria itu memberikannya senyuman manis sebelum kembali fokus ke makannanya. Dia menggeleng pelan dan fokus ke makanannya lagi. Akhirnya, acara sarapan bersama pagi ini selesai. Keluarga besar kekaisaran berbasa-basi sementara ia memilih untuk menjadi pendengar yang baik. "Oh ya, kenapa belakangan ini aku tidak melihat selir Pangeran Zhen? Kemana dia? Apakah dia sakit?" Rasa kesal dan geram kembali dirasakannya ketika Lien bertanya hal itu. Sungguh, ia tidak suka dengan wanita lain di hidup Pangeran Zhen. Meskipun dia tidak mencintai, ia tidak ingin diduakan. "Aku baru sadar setelah kau mengatakannya. Dia kemana ya?" "Palingan menikmati kekayaan istana." Tatapan sinis tak sanggup untuk tidak dilayangkannya ke arah pria yang mengambil selir sesukanya. Hidup bersama pria yang tidak setia adalah hal yang paling dibencinya. Apalagi ini... Sudah tidak setia, mirip dengan mantan yang dibencinya lagi! Sampai kapan pun, dia akan berusaha melepaskan diri dari genggaman Pangeran Zhen yang sangat menyebalkan itu. "Aku khawatir dengannya. Bagaimana kalau kita kunjungi saja kediamannya?" Raut wajah Lien terlihat sangat khawatir. "Aku setuju. Kita ke sana sekarang." Xi Juan terpaksa ikut meski tidak sudi. Berjalan di sisi Pangeran Zhen karena pria itu mengenggam tangannya erat. Berulang kali berusaha melepaskan genggaman tersebut, pria itu tetap mengulanginya. Lagi, lagi, dan lagi. Mereka sampai di kediaman Pi Lou. Pangeran Zhen tidak berniat melepaskan genggamannya sama sekali. "Astaga! Bagaimana bisa wanita itu kabur dari kerajaan dengan membawa harta benda kerajaan ini?! Kau, Zhen! Kalau hendak mengambil selir lagi jangan asal mengambilnya! Pilih lah selir yang jelas asal usul keluarganya! Jangan hanya karena kecantikannya kau langsung membawanya ke istana! Perilaku burukmu ini harus diubah mulai sekarang karena kau bisa saja membawa malapetaka untuk kerajaan kita." Liu Hua mengomeli Pangeran Zhen yang terlihat tidak peduli. "Kau benar-benar silau dengan kecantikan! Percaya lah! Jika kau masih seperti ini, di masa depan kau bisa hancur. Kau bisa kehilangan segalanya!" Omelan Liu Hua ternyata tidak berhenti di situ saja. Pangeran Zhen hanya menatap datar. Tanpa minat. Membosankan, pikirnya. "Kau dengar ibu ngomong?! Kenapa diam saja?!" "Tenang saja, bu. Setelah ini aku tidak akan mengambil selir lagi. Bagiku sekarang Xi Juan sudah cukup." Xi Juan yang disebut namanya langsung menatap pria itu. Geli rasanya mendengar ucapan omong kosong Pangeran Zhen. "Ibu tidak melarangmu mengambil selir asal mereka berasal dari kalangan terhormat." Pangeran Zhen tersenyum datar. "Baik berasal dari kalangan terhormat atau tidaknya, aku tidak akan pernah mengambil selir. Sekarang aku sadar, aku telah jatuh cinta ke Xi Juan. Aku ingin menata hidup baru dengannya dan menjalani kehidupan yang lebih menyenangkan dari sebelumnya." Wanita cantik itu mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya mendengar perkataan pangeran itu. Sampai kapan pun, dia tidak akan pernah mau memulai hubungan yang lebih baik dengan pria semacam Pangeran Zhen. Yang ada, dia makan hati terus. Dan takutnya, dia kelepasan membunuh Pangeran Zhen suatu saat nanti. Perempuan tersebut mengubah raut wajahnya menjadi manis saat Pangeran Zhen menatapnya. "Aku harap dia memaafkan kesalahanku dan mau memulai hidup baru bersamaku." Lien yang menjadi penonton menguap. "Tidak usah drama kalian di sini. Sekarang aku ingin kalian menemaniku di kediaman kami." Pangeran Zhen menatap Lien. Kemudian tersenyum. "Baiklah." Dalam diam Xi Juan kembali mengumpati Pangeran Zhen. Bukan karena cemburu melihat senyuman pria itu untuk Lien, oke? "Kau ngidam lagi, Lien?" kekeh Zhu Yi. Yang ditanya menyengir. "Hehe, iya, bu. Entah kenapa aku ingin mereka berdua menemaniku." "Bagaimana dengan Xiu?" tanya Pangeran Xiumin sedih. Dia merasa keberadaannya semakin tidak terlihat di mata Lien. "Ah, Xiu boleh ikut juga." "Kakak semakin melupakan Xiu." gumaman sedih itu dapat di dengar oleh semua orang yang berada di dalam ruangan. "Wajar saja dia melupakanmu. Dia punya suami dan anak yang harus diurusmya." ketus Kaisar Chun. "Ish, kau tidak boleh begitu dengan Pangeran Xiu. Tidak boleh jahat!!" Mendengar pembelaan itu, Pangeran Xiumin kembali tersenyum. "Kau jangan bertingkah kekanakan karena itu sangat memalukan." desis Zhu Yi. Senyuman itu surut dan berganti dengan mata yang berkaca-kaca. Xi Juan hanya bisa berdecak di dalam hati melihat sifat kekanakan Pangeran Xiumin. Tampan sih tampan tapi sayang kekanakan. Tapi... Lebih baik seperti Pangeran Xiumin daripada Pangeran Zhen. "Aku lelah. Ayo kita ke kediaman." Acara membanding-bandingkan Pangeran Xiumin dan Pangeran Zhen oleh Xi Juan langsung terhenti. Wanita itu sedikit tersentak ketika Pangeran Zhen menarik pinggangnya dan memeluknya posesif. Ia mendengus melihat senyuman miring pria itu. Mereka pergi ke kediaman Kaisar Chun tanpa membuka suara. Hanya derap langkah yang terdengar. "Aku ingin buah naga." pinta Lien kala sampai di kediaman. Xi Juan langsung memusatkan perhatian ke arah Lien. "Kenapa tidak ada yang menyahut?" desah Lien lesu. "Ah, aku akan mengambilkannya untukmu," kata Kaisar Chun cepat. Mengambil buah naga dengan cepat dan kembali ke tempat semula dengan pisau di tangannya. "Aku ingin semua bijinya dibuang." Gerakan Kaisar Chun yang hendak memotong buah naga terhenti. "Kau bercanda 'kan, Lien?" Xi Juan pun juga merasa tidak percaya mendengar ucapan sahabatnya. "Aku tidak bercanda. Pokoknya aku tidak mau ada bijinya." Kaisar Chun menghela nafas kemudian menatapnya. Entah kenapa, ia merasa akan menjadi sasaran empuk ngidam Lien lagi. "Kalian bantu aku untuk menghilangkan bijinya." Nah kan benar.. Dan dia, hanya bisa pasrah karena tidak tega melihat puppy eyes sahabatnya. Pangeran Zhen pun juga pasrah. Sementara Pangeran Xiumin kegirangan dan tidak merasa keberatan sama sekali. Jadi lah, kerja rodi dadakan. Mereka memisahkan biji dari daging buah naganya dengan begitu teliti. Raut wajah mereka terlihat begitu frustasi, kecuali Pangeran Xiumin yang bahagia, seolah mendapatkan mainan baru. Mereka semakin frustasi ketika biji telah terpisah semuanya, Lien malah tidur nyenyak dengan wajah damai. "Untung kau sahabatku kalau tidak, aku tidak akan segan-segan untuk menggugurkan kandunganmu." ucap Xi Juan. Tapi di dalam hati saja karena tidak ingin mendapat amukan Kaisar Chun. -Tbc-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN