Xi Juan menoleh ke arah Pangeran Zhen yang menahan tangannya tiba-tiba. Alisnya naik ke atas, seolah menanyakan ada apa.
"Malam ini kau tidur di dalam kediamanku." putus Pangeran Zhen sepihak sehingga membuat wanita cantik itu mendengus dan melepaskan cekalan pria yang menjabat sebagai suaminya tersebut dengan kasar.
"Aku tidak mau!"
Pangeran Zhen terlihat menahan murka mendapati penolakan Xi Juan. Ia kembali mencekal tangan istrinya kuat. "Aku tidak ingin mendengar penolakan dari mulut manismu. Malam ini kau harus tidur bersamaku."
"Cih, ajak saja selirmu untuk menemanimu." sinisnya.
"Aku ingin dirimu bukan dia."
Xi Juan terkekeh mengejek. "Enak ya kalau punya banyak istri. Tinggal milih seperti memilih baju mana yang akan di pakai. Setelah puas maka bisa di buang sesuka hati." ujarnya begitu menohok. Sukses membuat Pangeran Zhen menegang.
"Aku yakin, setelah ini kau akan mengangkat selir lagi jika menemukan wanita cantik dan sexy."
Pangeran Zhen menatap sang istri dalam. "Aku tidak akan mengambil selir lagi. Bagiku, dirimu sudah cukup."
"Lalu bagaimana dengan selirmu itu?"
"Aku tidak peduli karena mulai sekarang aku hanya peduli padamu."
"Halah, dasar buaya darat."
"Aku sungguh-sungguh, Xi Juan. Maka dari itu, tolong beri aku kesempatan untuk memperjuangkan hubungan kita. Aku ingin hubungan kita sedekat dulu lagi."
"Dekat? Maksudmu selalu b******a tiap malam, begitu?"
"Ya. Salah satunya itu."
"Dasar laki-laki otak selangkangan."
Bukannya marah, Pangeran Zhen malah terkekeh mendengar u*****n Xi Juan.
Raut wajah kesal dan marah istrinya terlihat sangat menggemaskan asal kalian tahu.
Pangeran Zhen menggendong Xi Juan secara tiba-tiba sehingga wanita cantik itu meronta kesal.
"Diam!"
"Dasar menyebalkan." desis Xi Juan.
Wanita itu hendak memukul Pangeran Zhen akan tetapi tertahan ketika mengingat misi barunya. Yaitu membuat Pangeran Zhen jatuh cinta.
Wanita itu menatap wajah tampan Pangeran Zhen dari bawah. Melihat wajah itu, kekesalan dan amarahnya memuncak seketika. Dia masih belum bisa berdamai dengan masa lalu. Saat itu juga, wanita tersebut membatalkan misinya. Tidak akan sudi dia berbuat baik pada pria b******k yang telah menyakitinya.
Tanpa di duga Xi Juan mengigit lengan kekar Pangeran Zhen hingga pria itu mengaduh kesakitan dan refleks melepaskan gendongannya. Akibatnya, Xi Juan terjatuh ke lantai dengan keras.
"Astaga!! Pinggulku sakit sekali." keluh Xi Juan seraya mengelus pinggulnya yang nyut-nyutan.
Pangeran Zhen berjongkok di depannya dan mencengkram dagunya kuat.
Pria itu terlihat marah.
"Jangan berbuat lancang padaku, Xi Juan! Ingat lah siapa diriku!!" Peringatnya penuh ancaman.
Xi Juan terkekeh tanpa mengeluh sakit akibat cengkraman kuat Pangeran Zhen di dagunya. "Aku akan selalu mengingatmu tanpa kau katakan."
Pangeran Zhen tersenyum senang. Cengkramannya pun perlahan mengendur.
"Kau adalah pria terbrengsek yang kutemui di dunia ini. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu?"
Senyuman itu surut dan berganti dengan wajah mendung.
"Sampai mati pun, aku tidak akan melupakan wajah brengsekmu itu, Pangeran Zhen." bisiknya penuh penekanan.
Pria itu merasa marah, kesal, dan juga sedih dalam waktu bersamaan. Dia tidak terima dikatakan b******k oleh istrinya sendiri. Sangat menyakitkan rasanya!
Sakit hati yang dirasakannya membuatnya melampiaskan langsung pada Xi Juan.
Tamparan keras terdengar begitu nyaring di malam yang sunyi.
"Lihat? Kau bahkan tak segan-segan berbuat kekerasan padaku."
Wanita itu tidak terlihat berekspresi sedikit pun.
"Satu minggu, dua minggu, tiga minggu mungkin aku masih bisa hidup dan selanjutnya? Aku bisa saja mati mengenaskan di tanganmu."
Wajah Pangeran Zhen terlihat kaku. "Aku tidak akan membunuhmu!"
"Kau membunuhku! Membunuhku secara perlahan, seperti ini.." Xi Juan mencekik leher Pangeran Zhen kuat sehingga pria tersebut melotot kesal.
"Hah, bertemu denganmu bisa membuatku cepat tua." desahnya malas sembari melepaskan cekikannya.
"Aku tidak akan tidur bersamamu. Ajak saja selir barumu itu."
Pangeran Zhen meninju udara kesal. "Aku menyesal membawa perempuan sialan itu ke istana. Bukannya membuat Xi Juan kembali dekat denganku, dia malah membuatku semakin jauh. Aku harus menyingkirkan perempuan itu!!" tekadnya.
Pangeran Zhen sadar..
Dia telah jatuh cinta seutuhnya pada Xi Juan.
Ia terlalu cinta dengan istrinya itu hingga rela melakukan berbagai cara demi menundukkan sang istri.
Hanya saja, cara yang dilakukannya salah.
"Aku harus berubah agar dia mencintaiku lagi seperti dulu!"
Pergi ke kediaman Xi Juan. Mengendap-ngendap masuk dan mengamati istri cantiknya itu dalam diam. Ia meneguk salivanya susah payah ketika melihat Xi Juan membuka hanfu hingga hanya tersisa pakaian tipis yang menampilkan sempurna lekuk tubuh Xi Juan yang indah.
Ini yang membuatnya menyukai Xi Juan sejak dulu. Perempuan itu cantik dan menggoda. Apalagi dulu perempuan itu sangat patuh dan bertekuk lutut padanya.
Ketika di rasa istrinya telah tidur, ia berjalan mendekat dengan langkah pelan. Takut langkahnya menganggu tidur istrinya.
Keningnya mengernyit ketika melihat wajah sang istri tidak nyaman. Wajah itu menunjukkan kegelisahan dan ketakutan.
Kala dia hendak menepuk pipi putih itu, jemarinya malah digenggam dengan erat.
Tangannya dibawa perempuan itu ke pipinya sendiri. Ia tersentak ketika merasakan pipi sang istri basah.
"Kau memimpikan apa sebenarnya?" gumamnya heran.
"Aku membencimu..."
Tubuhnya menegang mendengar ucapan yang keluar dari mulut Xi Juan yang terlihat bergetar.
"Aku membencimu..."
Dia segitu membenciku?
"Aku membencimu, Septihan..."
Siapa itu Septihan?
Sebenarnya apa yang telah dilalui istriku selama ini?
Apakah dia pernah dekat dengan laki-laki sebelumnya? Tapi, bukan kah dia tidak pernah dekat dengan laki-laki lain?!
Xi Juan. Aku tidak terima jika ada pria lain dalam hidupmu!
Kau hanya milikku selamanya!
Ia menidurkan tubuhnya di samping sang istri. Lalu dipeluknya tubuh itu dengan posesif. Mendaratkan kecupan-kecupan ringan di puncak kepala sang istri. Berharap perempuan itu tidak bermimpi buruk lagi.
Cukup lama ia melakukan itu. Sang istri akhirnya kembali tidur dengan nyenyak. Menghela nafas panjang sembari menatap wajah polos istrinya itu.
"Aku salah telah menyakitimu selama ini, maafkan aku Xi Juan. Aku janji akan berubah untukmu." Mengecup pelan kening wanita itu sebelum ikut menyusul ke alam mimpi.
-Tbc-