Bab 8

1168 Kata
Aku tak bisa diam saja memunggu kabar mas Wira, aku harus ke apotek membeli obat untuk Dimas, kulihat Dimas dikamar sudah tertidur, aku berlari kerumah mbak Gita untuk minta tolong jaga Dimas. "Mbak, assalamualaikum." Panggilku, ketika sudah berdiri didepan pintu rumah mbak Gita. "Walaikumsalam, ada apa Nay?" "Mbak tolong jagain Dimas sebentar ya, dia demam, sedangkan obatnya habis, aku mau ke apotek dulu." "Lho, Dimas demam? Kapan mulai demam Nay?" "Tadi pagi mbak, yaudah aku ke apotek dulu ya mbak, nitip Dimas sebentar." "Iya Nay." Tanpa fikir panjang aku langsung melajukan motorku ke ATM terdekat, karena aku sama sekali tidak memegang uang barang sepeserpun, nasib baik, isi bensin dalam motor masih full. Sesampainya di ATM, ada beberpa orang yang tengah mengantre. Sambil menunggu, kau terus mencoba menghubungi mas Wira, namun tetap tak diangkat. Sampai pada giliranku masuk ke bilik ber Ac itu. Kumasukan selembar kartu kedalam mesin, setelah menekan beberapa nomor pin, aku langsung memencet tombol tarik tanpa memeriksa saldo. Namun sang mesin menginformasikan bahwa saldo tidak cukup. Dan setelah aku cek saldo ternyata kartu setipis kertas ini tidak ada isinya. Berkali-kali aku istighfar menyebut nama sang Maha Kuasa, agar emosiku tidak naik ke ubun-ubun. Segera aku menghubungi mas Wira namun tak diangkat, sekarang aku masih berdiri di depan mesin ATM, dan mencoba menarik sejumlah uang, berharap tadi aku salah baca, namun hasil masih sama. Akhirnya dengan terpaksa aku menghubungi kak Umar untuk menanyakan mas Wira. "Aku gak sama Wira Nay?" Jawab kak umar Setelah telepon tersambung "Aku bingung kak, mas Wira kasih aku ATM kosong, sedangkan aku gak pegang uang sama sekali, Dimas lagi demam, obat habis." Ntah kenapa aku jadi cerita begini, sangking kesalnya. "Yaudah kamu kerumah kakak aja dulu." Akupun meluncur kerumah kak Umar, aku dan mbak Vina istri kak Umar lumayan dekat jadi aku tak canggung disuruh kerumahnya. Mbak Vina sudah menungguku diteras. "Duduk dulu Nay." Akupun duduk dikursi teras sebelah kak Umar duduk. "Ini dipakai dulu untuk beli obat." Kak Umar menyodorkan uang merah 3 lembar. "Tapi kak, mas Wira?" Tanyaku ragu. "Tadi kakak sudah telfon Wira." Aku mengambil uang tersebut, karena aku memang sedang butuh. Sudah satu minggu aku off jualan, disamping lagi sepi juga karena Dimas sedang sakit. "Makasih ya kak." "Nay kalian ada masalah?" Tanya mbak Vina, wanita berambut ikal itu meletakan satu cangkir teh hangat dimeja. Lantas aku ceritakan semua kecurigaanku antara mas Wira dan Mila. "Dikantor juga kata kak Umar sudah lama desas desus itu." "Iya mbak, aku juga denger tapi anehnya Mila bilang kalau mas Wira itu dekat sama Heni dan mbak Sinta." "Mungkin mau lempar batu sembunyi tangan". Gawaiku tiba-tiba berbunyi, dan ternyata mas Wira. "Halo mas, mas tu dimana, Dimas demam, mas malah pergi padahal hari ini libur." Cecarku tanpa henti. "Dek maaf ya, mas pergi sama bang Johan, bang Johan minta temani ke Curup, ini na bang Johan mau ngomong." "Tega kamu mas, anak lagi demam bukannya jagain malah keluyuran." "Halo Nay, ini Abang, maaf ya Nay abang gak tau Dimas demam, ini kami langsung pulang." "Iya bang". Jawabku singkat. Lalu aku matikan panggilan telfon. Aku tidak percaya kalau mas Wira pergi sama bang Johan. Lihat saja mas apa yang aku lakukan. "Mbak, kak Naya pamit dulu ya." "Diminum dulu Nay, biar sedikit tenang." "Iya mbak." Akupun menghabiskan teh hangat yang dibuat mbak Vina. "Mbak maaf, aku buru-buru maubbeli obat, makasih sudah bantu aku." "Iya Nay, hati-hati kalau ada apa-apa telfon mbak atau kakak." "Iya mbak." Akupun pulang, namun dalam perjalanan aku membelok motorku kearah rumah bang Johan, aku yakin bang Johan dirumah. Sebaiknya aku telfon mbak Gita dulu biar gak khawatir. "Halo mbak, gimana keadaan Dimas?" "Dimas tidur Nay, barusan mabk gendong." "Mbak aku titip dulu ya, penting ini soalnya." "Iya Nay, selesaikan dulu urusammu." Dengan kecepatan tinggi aku melaju kearah rumah bang Johan yang cukup jauh. Sesampainya dirumah bang Johan, aku melihat dari kejauhan bang Johan sedang duduk didepan teras bersama ibunya, benar dugaanku. Bang Johan tampak terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba, dia rampak salah tingakah, mqu masuk kerumah, tetapi aku terlanjur melihatnya. "Eh Nay sini masuk." Suara bang Johan sangat gugup, karena aku tau dia sedang berbohong. "Cepat sekali abang sampai, bukannya tadi lagi di Curup?" Tanyaku mengintimidasi. "Johan seharian dirumah Nay, gak kemana-mana". Diluar dugaan, ibu bang Johan malah yang menjawab. "Maaf Nay, Wira mendesak soal tadi." "Aku cukup tau aja bang kalian kerja sama dengan perselingkuhan mas Wira dengan Mila, itu yang aku tau sekarang." "Bukan begitu Nay." "Ada apa nak?" Tanya ibu bang Johan lembut. Lantas aku ceritakan semua yang terjadi tadi. "Han gak baik seperti itu, Dimas sekarang lagi sakit, kok kamu malah ikut-ikutan membohongi Naya." "Iya bu maaf, Johan tadi bingung." "Nay abang antar pulang ya, biar sekalian Abang antar Dimas berobat." "Gak usah bang, terimakasih, teruslah berpura-pura." Jawabku sinis. "Bu Naya pamit, maaf kalau sudah bikin kegaduhan dirumah ibu." Aku pulang dengan perasaan kesal fdan dongkol campur aduk jadi satu. Aku mampir ke apotek membeli obat untuk Dimas, dan membeli beberapa roti. Dimas paling suka roti isi dicelupkan ke teh hangat. Sama sepertiku, anak baik itu 80% sifatnya menurun dariku. Sepanjang perjalanan gawaiku berbunyi, tak ku hiraukan benda pipih itu menjerit-jerit ingin diangkat. Sesampainya dirumah aku langsung kekamar Dimas, ternyata dia masih tidur, kutempelkan punggung tanganku kekening Dimas, namum belum juga kunjung turun. "Nay sebaiknya Dimas dibawa kerumah sakit, mbak takut kenapa-kenapa." "Tapi kalau dibawa pake motor, takutnya dia nanti kedinginan mbak." "Mbak minta tolong suami mbak cari pinjaman mobil dulu ya Nay, kamu tunggu disini ya?" "Iya mbak." "Yaudah mbak cari dulu ya." Setelah beberapa menit kemudian mbak Gita dan suaminya datang membawa mobil bu Julia, bu Julia turut serta didalamnya. "Ayok Nay." "Iya mbak". Tak henti-hentinya aku beristighfar. Tak kuasa air mataku luruh. Dimas memang anak yang kuat. Tak sedikitpun dia menangis ataupun merengek. Dia hanya memandangiku tanpa kata. Panas tubuhnya semakin meningkat. Tiba-tiba badannya lemas dan dia tak sadarkan diri. "Dimas, Dimas bangun sayang, Dimas." Aku terus memanggilnya. Mbak Gita yang ada disamping kemudi sangat panik melihat menangis sambil terus memanggil nama Dimas. "Mas agak ngebut mas, Dimas pingsan." "Iya Git". Jawab suami mbak Gita tak kalah panik. Bu Julia yang ada disampingkupun terus menenangkanku. Aku beruntung dikelilingi tetangga yang baik hati seperti mereka. Bahkan perhatiannya melebihi suami sendiri. Dan sekarang suamiku tak tau rimbanya. Sesampainya di rumah sakit, Dimas langsung diberikan pertolongan oleh beberapa tim medis di UGD. Ada yang memasang selang infus, memasukan obat penurun panas melalui an*snya dan ada yange mengambil sampel darahnya untuk dicek di laboratorium. Aku terus berdoa dan berdzikir, mbak Gita dan Bu Julia ada disampiku. Sedangkan mas Sigit suami mbak Gita mengurus administrasi. Tak lama penanganan pada Dimas telah selesai. Salah satu tim medis mendekati kami. "Gimana Dok?" Tanya kami serempak. "Kuta tunggu hasil lab dulu bu, sekitar 30 menit, kalau dari gejala diagnosa sementara gejala demam berdarah, karena ada ruam di tubuh anak Dimas". Aku tak bisa menyembunyikan kecemasanku. Mbak Gita dan bu Julian bergantian menenangkanku, sedangkan laki-laki yang menjadi ayahnya entah dimana rimbanya. Lihat saja nanti kalau dia muncul. Akan kuberi pelajaran. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN