Bab 9

1003 Kata
Aku mondar-mandir menunggu kabar dari lab, mbak Gita terus menguatkanku, Setelah 30 menit berlalu hasil lab akhirnya keluar. Dan benar Dimas terkana DBD. Namun belum cukup parah, karena langsung dibawa ke rumah sakit, jadi bisa langsung ditangani. Setelah Dimas masuk ruang rawat inap, Bu Julia izin pamit pulang dan diantar mas Sigit sekalian mengembalikan mobil. Sedangkan mbak Gita tetap menemaniku di rumah sakit. "Nay kamu gak ngasih tau Wira kalian disini?" "Gak mbak, biar mas Wira cari tahu sendiri." Aku sengaja mematikan handphone agar aku bisa fokus mengurus Dimas dan melupakan kekesalanku pada mas Wira. Mas Wira benar-benar keterlaluan, sama sekali dia tak menghiraukan anaknya yang tengah sakit. "Mbak kalau mbak mau pulang dulu gak apa-apa, mas Sigit pasti belum makan dari tadi mbak, mbak urus dulu mas Sigit." "Kamu gak apa-apa sendirian Nay?" Mbak Gita tampak khawatir. Dia tau aku sedang tidak baik-baik saja. "Gak apa-apa mbak." "Yaudah kalau gitu mbak pulang dulu ya, sesudah ashar nanti mbak kesini lagi." "Ya mbak, makasih ya untuk semuanya." "Udah gak usah ngomong gitu, mbak pamit ya." Mbak Gita mencium kening Dimas, dan belalu meninggalkan ruangan tempat Dimas dirawat. Mbak Gita memperlakukan Dimas layaknya anak sendiri bahkan kadang lebih. Perempuan berhati bidadari itu menghilang dibalik pintu. Aku sangat-sangat bersyukur punya tetangga sekaligus sahabat sekaligus saudara seperti mbak Gita. Benar-benar tanpa pamrih. Dimas yang tadi sempat pingsan sudah siuman. Dan sekarang dia sedang tidur. Aku terus menggenggam tangan mungil anak semata wayangku itu. Pipiku basah dengan ulah air mata yang mengalir tanpa permisi. Disaat seperti ini fikiran negatifku tak terkontrol. Aku takut jika tiba-tiba Dimas pergi untuk selamanya. Melihat tubuh anak baikku tadi pucat pasi seperti tak bernyawa. Tapi Alhamdulillah, aku terus mengucap syukur ketika Dimas terjaga dari pingsannya. Kugenggam tangan mungil itu untuk menguatkan hatiku yang tengah rapuh. Tak terasa aku tertidur disamping Dimas berbaring. Aku terbangun takkala perutku melilit karena seharian belum terisi makanan sama sekali, tapi aku tak tega meninggalkan Dimas dikamar sendiri untuk mencari makanan sekedar pengganjal perut. Mau pesan online tapi aku sedang mematikan handphone. Aku keluar kamar rawat Dimas, mencari petugas piket untuk aku minta tolong jaga Dimas sebentar, tapi tak kunjung ada yang lewat. Akupun masuk kembali kekamar Dimas, dan Dimas sudah bangun. Aku buru-buru memeluknya dan menanyakan apa yang dia rasakan. "Sayang udah bangun?" "Ma ... haus." Katanya terbata. "Iya sayang, ini minumnya." Dimas menghabiskan setengah gelas air putih. "Dimas apanya yang sakit nak?" Tanyaku khawatir. Sambil terus aku pijit kakinya dan tangannya. "Rambutnya ma." Dia memegangi kepalanya. Aku sedikit terkekeh. Ini anak sakit tapi masih bisa membuatku tertawa. "Sini mama elus-elus ya." Dimas hanya mengangguk. "Permisi bu, makan malamnya." Suara dari luar menghentikan aktivitasku. Seorang petugas ketering rumah sakit mengantarkan makan malam untuk pasien. "Makasih mbak." Aku mengambil wadah bulat khas piring rumah sakit. Dan kuletakkan diatas nakas. "Semoga lekas sembuh." "Terimakasih tante". Sontak mbak petugas itu menghentikan langkahnya dan tersenyum seraya mendekti Dimas. "Anak hebat, semangat ya, jangan lupa dimakan." Ucap mbak itu sambil mengelus rambut Dimas. "Makasih ya mbak." Dia tersenyum mengangguk dan pergi mengantar makanan ke pasien lainnya. Derit troli yang dia dorong memecah kesunyian rumah sakit. "Sayang makan sekarang ya." "Iya ma, kata tante tadi kan harus dimakan, kasian kalau gak Dimas makan tantenya capek masaknya." Yaa Allah anak ini baik sekali. Makasih yaa Allah sudah menitipkan anak baik ini padaku. Alhamdulillah Dimas menghabiskan setengah porsi makanan yang diberikan tadi. Pukul lima sore mbak Gita datang bersama mas Sigit. "Nay kamu makan dulu ya, dari tadi kan belum makan." "Aku mau ambil baju ganti Dimas dulu mbak, takut nanti hujan, udah mendung soalnya." "Ya udah kalau gitu hati-hati, nanti kalau kamu mau beres-beres rumah dulu gak apa-apa Nay, mbak nginap disini kok, mas Sigit mau berangkat ke Luar Kota malam ini." Aku dan mbak Gita memang senasib, suaminya sering keluar kota, karena dia kepala proyek. Jadi kalau sedang tidak ada proyek ya sampai satu minggu mas Sigit dirumah. "Aku titip Dimas ya mbak, kalau ada apa-apa telfon aku ya." "Iya Nay, gak usah khawatir." Aku akhirnya menghidupkan gawai yang sedari tadi mati, banyak pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari mas Wira. [Dek mas bentar lagi sampai rumah, tunggu mas ya] [Dek kok gak aktif WA-nya, mas telfon juga gak masuk] [Sayang, kalian kemana, Dimas gimana] [Sayang kok rumah sepi kalian dimana] [Maafin mas sayang, mas tau mas salah, tapi jangan pergi tanpa pamit gini] Berarti mas Wira sudah dirumah, baguslah biar aku ceritakan dirumah saja. Ojek online yang kupesan tadi sudah sampai diloby rumah sakit. Aku gegas turun, namun sebelumnya mencium kening Dimas. "Sayang, mama pulang dulu ya, mau ambil baju Dimas dulu sama mainan Dimas." "Iya ma, mama hati-hati ya, kalau papa udah pulang, ajak kesini sekalian ya." "Iya sayang." Aku tersenyum kecut, kemudian belalu meninggalkan ruangan rawat Dimas. Kuturuni satu persatu anak tangga, sampai diloby aku tak menemukan ojek online yang kupesan tadi. "Mbak Kanaya ya." Sapa seseorang dari arah belakang. "Oh iya, ojol ya." Tanyaku balik. "Iya mbak, silahkan ini helmnya." Aku menerima helm dan kukenakan. "Sesuai titik ya mbak?" Tanyanya. "Tidak mas, agak maju lagi dikit." "Oke mbak." Ojek yang aku kendarai melaju dengan kecepatan sedang. Rintik gerimis mulai turun. Awan hitam menggantung dimana-mana. Rintik hujan mulai turun membasahi bumi. Aroma khas hujan menyeruak, sejenak aku tengadahkan wajahku agar terkena rintikan air hujan. Aku sangat suka hujan, namun tidak untuk sekarang. Setiap kali aku memejamkan mata, ada rasa sesak menghimpit d**a. Teringat sikap mas Wira yang acuh terhadap Dimas. Jika dia memang berkhianat, aku tak masalah jika dia mengabaikanku, tapi tidak untuk Dimas. Mungkin mas Wira memang telah bosan denganku. "Mas agak ngebut dikit, takut hujan deras, soalnya saya harus balik lagi ke rumah sakit." "Baik mbak." motor kini melaju dengan kecepatan yang agak tinggi. Lima belas menit kemudian aku sampai dikomplek rumahku, dari kejauhan sudah ada mobil mas Wira dipinggir jalan dan di belakang mobil itu terparkir motor metik warna biru. Sepertinya aku mencium aroma penghianatan disini. *** Motor siapakah yang ada didepan rumah Kanaya? Penaran, ikuti terus ya kisahnya. Bantu subscribe dan jangan lupa love nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN