Ya motor metik itu tak lain tak bukan milik Hermila Mutiara, nama yang cantik namun sayang kelakuannya tak secantik namanya.
Aku sengaja berhenti cukup jauh dari rumahku, agar aku bisa diam-diam memasuki rumah lewat pintu samping.
Sekuat tenaga aku menahan emosiku agar tak meledak, karena aku tidak suka ribut-ribut atau semacamnya.
Aku berjalan perlahan dengan kamera mode on, siap merekam setiap kejadian yang akan terjadi nanti.
"Pulanglah Mil, aku akan cari istri dan anakku". Bentak mas Wira.
"Gak mas, sebelum kamu berjanji akan menikahiku, biarlah mereka pergi atau mat* sekalian agar gak ada lagi pengganggu!".
"Jaga ucapanmu Mil, aku tidak akan menikahimu".
"Mas ini anakmu, dia harus punya ayah".
"Aku tak yakin itu anakku"
"Tega kamu ngomong gitu mas".
Dadaku naik turun menahan amarah, butiran bening seketika luruh tak terkendali. Kututup mulutku agar tak mengeluarkan suara. Masih kugenggam erat handphone yang masih merekam itu agar tak terjatuh.
Pembicaraan macam apa ini, Mila hamil? Dan itu anak mas Wira. Tak tahan aku bersembunyi dibalik jendela.
Akhirnya aku masuk rumah dan mereka samgat terkejut.
"Apa aku dengar ini nyata mas?"
"Kanaya....". Mas Wira membulatkna matanya sempurna. Begitupun dengan Mila, ah aku tak sudi lagi menyebut nama itu.
"Jawab mas!".
"Gak dek, ini bukan seperti apa yang dengar, dengarkan penjelasan mas dulu".
"Cukup mas, aku gak mau dengar apapun".
"Dan kamu".
Plak aku menampar keras wajahnya hingga tanganku panas. Penghianat itu meringis menahan sakit.
"Pergi kamu dari sini."
"Gak, aku gak akan pergi sebelum mas Wira berjanji menikahiku."
Aku memandang bengis kearah mas Wira. Sorot mataku bak pedang terhunus.
"Selesaikan urusan kalian, aku tidak ada waktu untuk ini."
Aku meninggalkan pasangan selingkuh itu diruang tamu, sedangkam mas Wira bergerak menyusulku.
Aku memasuki kamar dan menguncinya. Aku tumpahkan semua tangisanku disana. Aku masukan sebagian bajuku fna baku Dimas kedalam tas.
"Dek buka pintunya, Dimas dimana dek, Dimas gimana keadaannya dek, please sayang buka pintunya."
"Diam kamu mas, aku tak ingin dengar suaramu yang berisik itu."
"Kanaya tolong buka pintunya."
Setelah selesai berkemas, aku membuka pintu dan mas Wira masih bersimpuh didepan pintu.
"Sayang kamu mau kemana? Tolong jangan tinggalkan aku." Mas Wira terus mengiba.
Aku berjalan menuju garasi, dimana motorku terparkir disana. Aku tak memperdulikan mas Wira dan gundiknya disana. Kulihat gudik tak tahu diri terus saja mengekor dibelakang mas Wira sambil merengek.
"Dek dimana Dimas"
"Rumah sakit". Jawabku singkat.
"Rumah sakit mana dek?"
"Kamu cari tau aja sendiri!"
Kukeluakan motor dari dalam garasi, aku tak menghiraukan keberadaan w*************a itu. Aku langsung tancap gas, kulihat dari spion mas Wira berlari kearah mobilnya, namun gundiknya mengikuti. Dan selanjutnya aku tak tau lagi apa yang terjadi, karena aku telah menghilangkan dipertigaan gang.
Sesampainya dirumah sakit aku memarkirkan motorku diparkiran khusus inap dan aku bergegas menuju ruangan Dimas, sebelumnya aku sudah membeli kebutuhan selama di rumah sakit.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam". Jawab mbak Gita dan mas Sigit serempak. Dimas sudah terlep tidur. Mbak Gita membelai-belai rambut Dimas.
"Maaf ya mbak, mas aku lama."
"Gak kok Nay, yaudah mas kalau mau berangkat". Jawab mbak Gita.
"Yaudah mas berangkat dulu ya."
"Makasih ya mas atas bantuannya."
"Mbak antar mas Sigit kedepan dulu ya Nay".
"Iya mbak."
Aku menarik nafas panjang, kupandangi wajah Dimas yang tengah terbaring diranjang. Suhu tubuhnya sudah berangsur turun.
"Alhamdulillah." Batinku
"Setelah ini kita pulang kerumah oma ya sayang." Sambungku lagi.
Tak kuasa air mataku terus jatuh, hingga tak sadar jika mbak telah lama memperhatikanku.
"Nay cerita, ada apa?" Tangan lembutnya mengelus pundakku yang tengah tergugu.
Aku menyodorkan video hasil rekamanku tadi ke mbak Gita.
"Apa ini Nay?" Tanya mbak Gita bingung.
"Mbak lihat aja dulu". Lantas mbak Gita memutar video itu. Mbak Gita ternganga melihat isi rekaman itu, hingga menutup mulutny dengan tangan kiri.
"Astaghfirullah Nay, ini beneran?".
"Iya seperti apa yang mbak lihat". Tiba-tiba gawai mbak Gita bergetar.
"Nay, Wira". Sambil memperlihatkan layar handphone nya kearahku.
"Angkat aja mbak".
"Halo Wira".
"Mbak apa mbak sama Kanaya?
"Gimana Nay?" Tanya mbak Gita mencari kepastian.
"Bilang aja iya, tapi jangan datang sekarang mbak. Aku belum mau ketemu sama dia".
"Iya Wir, tapi Naya belum mau ketemu sama kamu, lagian ini juga sudah malam, jam besuk sudah habis".
"Iya mbak, Dimas dirawat dirumah sakit mana".
"Bayangkara". Jawab mbak Gita singkat.
Mbak Gita menutup sambungan telefon, dan memasukan gawainya kedalam tas mungilnya.
"Jadi rencanamu selanjutnya apa Nay?".
"Aku mau pisah sama mas Wira mbak, aku akan pulang kerumah ibu setelah Dimas sembuh".
"Jangan ambil keputusan dikala emosi Nay".
"Aku sudah fikirkan semuanya mbak".
"Gimana dengan video itu? Apa ku ada niat untuk viralkan ke media sosial?"
"Gak mbak, aku cuma akan kirim sama atasan mas Wira aja beri mereka diberi pelajaran, karena sudah melanggar peraturan perusahaan".
Ya aku memang tak ada niat untuk memviralkan video itu di media sosial, karena, karena dampaknya sangat besar, aku sudah berfikir panjang.
Setelah makan malam dengan nasi bungkus yang mbak Gita bawa tadi, aku langsung sholat isya dan beristirahat. Kami membentang tikar dibawah ranjang Dimas.
Paginya aku membuat janji dengan Pak Herman atasan mas Wira. Aku akan membahas tentang perselingkuhan karyawan.
Sesampainya dikantor mas Wira, aku langsung diantar scurity keruangan pak Herman. Ruangan pak Herman berada di gedung yang berbeda dengan ruangan karyawan.
"Selamat pagi pak Herman"
"Selamat pagi bu Kanaya, silahkan duduk".
"Baik pak terimakasih".
"Ada apa yang menggerakkan hati ibu datang kesini?"
"Saya langsung saja pak, suami saya terlibat skandal sesama karyawan disini pak, ini buktinya". Aku menyodorkan rekaman kepada pak Herman.
"Astaghfirullah, Wira, Mila". Pak Herman sangat terkejut denga isi video itu.
"Saya akan panggil mereka kesini, untuk klarifikasi semua ini, tolong kirim video itu ke handphone saya sebagai bukti".
"Maaf pak, tapi video ini privasi, saya takut akan tersebar nantinya".
"Barang bukti itu aman dengan saya, setelah saya menindak mereka, video itu akan saya hapus, saya juga tidak mau ini tersebar karena akan merusak citra perusahaan saya".
"Baik pak".
Tut...tut...tut...
"Selamat pagi pak". Jawab pemilik suara yang disebut telepon.
"Suruh Wira dan Mila keruangan saya".
"Baik pak".
Setelah sepuluh menit menunggu, akhirnya mereka datang.
Tok..tok..tok..
"Masuk". Sahut pak Herman.
"Kanaya."
***
Apa yang akan terjadi? Apakan akan terjadi perang dunia ketiga?
Nantikan kelanjutannya.
Jangan lupa subscribe dan love nya.