“Pilih yang mana, ya?”
Liora benar-benar bingung memilah-milah beberapa blus yang ada di depan matanya ketika ia sampai di sebuah toko baju yang selalu menjadi toko favoritnya selama ini karena selalu menyediakan model pakaian terbaru yang menurutnya bagus.
Ia butuh beberapa blus untuk ia pakai bekerja karena sejak ia masuk ke RS Internasional, ia belum pernah berganti outfit. Mungkin para staf yang berada di sana merasa heran kenapa dokter seperti dirinya tidak mengenakan pakaian branded sama sekali. Yang ia kenakan adalah pakaian mall karena hanya di situ kemampuannya. Ia tidak mampu membeli baju-baju khas butik, tas branded dan sepatu branded serta aksesoris seperti jam tangan dan barang mewah lainnya.
Ia juga tidak peduli akan hal itu. Yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya agar ia bisa menangani pasiennya sebaik mungkin dan mengerti semua kendala yang dialami oleh mereka. Fix hanya itu selain mengumpulkan gaji dari sana untuk membeli rumah nanti. Untungnya ia memiliki tiga orang teman laki-laki sesama dokter kandungan yang memang benar-benar tidak menyepelekannya. Ia yakin kalau ia tidak bertemu dengan tiga orang yang baik hati ini, ia pasti akan dicemooh karena mungkin hanya dia satu-satunya yang tidak berpenampilan mahal di RS yang super elit tersebut.
“Kapan aku bisa jadi orang kaya dengan keringatku sendiri sehingga aku bisa tampil sedikit modis, setidaknya memiliki dua atau tiga barang branded yang bisa aku pakai untuk meningkatkan kepercayaan diriku?” gumam Liora pelan sambil terus memilah blus dengan aneka motif di toko langganannya tersebut.
Ia ingin mencari blus berwarna putih dan krem serta pink muda dengan aneka model dan berniat mencari celananya sekalian.
“Ambil saja semuanya, Ra! Tidak usah dipilih-pilih lagi. Semua yang ada di sana adalah pilihan dari toko ini. Ada 20 blus di sana. Ambil aja semuanya, biar aku yang bayar!”
Liora terkejut mendengar suara orang yang ia kenal dan yang juga ia benci. Seketika ia menoleh dan mendongakkan kepalanya dan ia pun langsung disuguhi senyuman indah laki-laki yang pernah hadir dalam hidupnya. Dia Ivan, mantan kekasih yang ia sedang hindari saat ini.
‘Sial! Kenapa aku bisa ketemu dia di sini, sih?’ batin Liora kesal.
Liora kembali berpaling, berusaha tidak mengindahkan kehadiran Ivan lagi. Ia kembali fokus memilih baju-baju yang ingin ia beli. Ia akan menganggap laki-laki itu tidak ada sama sekali di sini.
“Kamu pasti masih marah padaku, kan, Ra?” seru Ivan lagi lalu mendekati Liora, ikut memilah-milah pakaian yang cocok untuk wanita cantik yang pernah mengisi hari-harinya tersebut.
“Alangkah baiknya kalau kemarahan kamu itu kamu luapkan padaku. Jangan hanya dipendam saja! Kamu boleh memarahiku dan mengutukku, tapi izinkan aku menjelaskan semuanya,” sambung Ivan lagi.
Liora geram mendengar nada bicara Ivan yang sepertinya tidak merasa bersalah sama sekali atas kandasnya hubungan mereka.
“Cukup! Aku tidak butuh penjelasan dan aku tak sudi mendengarkan alasan kamu karena tanpa kamu jelaskan pun, aku sudah melihat dengan mata kepalaku sendiri apa saja yang kamu lakukan di belakangku. Jadi cukup! Kita juga tidak memiliki hubungan apa-apa sekarang. Jangan mengusik hari-hariku lagi! Urusi saja wanita-wanita yang sering kamu ajak ke hotel selama ini!”
“Makanya dengerin dulu, Ra! Aku tidak akan membela diri. Aku memang melakukan itu karena aku tak mendapatkannya darimu,” aku Ivan gamblang, menyulut emosi Liora.
Liora meradang. Apa laki-laki ini sudah gila mengakui kebejatannya dengan gamblang begini?
“Aku tak mau mendengar apapun lagi. Aku memang tidak pernah bisa memberikan itu padamu. Aku berusaha kuat menjaga keutuhan diriku, membuatku tidak pernah goyah meskipun kamu berulang kali merayuku dengan ciuman panasmu. Aku tetap pada prinsipku. Aku tidak tahu kalau itu adalah salah satu kekuranganku hingga kamu tega mencari wanita dan mengajaknya tidur denganmu,” cetus Liora berapi-api.
Ia tersinggung mendengar penuturan gamblang dari laki-laki sialan ini. Ternyata ia pacaran dengan laki-laki b******k yang pura-pura baik selama ini.
“Bukan maksudku mengorek kekuranganmu, Ra. Sudah aku bilang aku tidak akan menyangkalnya. Itu fakta. Aku tidur dengan banyak wanita, tapi itu hanya sebatas kebutuhan dasar seorang laki-laki saja. Perasaanku tetap sama padamu. Aku bahkan berniat menjadikan kamu istriku,” urai Ivan kian gamblang, membuat Liora menganga lalu menyembur Ivan dengan garang.
“Aku sudah gila kalau sampai mau sama laki-laki bekas beberapa wanita seperti kamu. Kamu bermimpi kalau mengharapkan aku jadi istri kamu,” desis Liora kasar.
Liora akan tetap mempertahankan prinsipnya meski ia sudah kehilangan sesuatu yang ia jaga selama ini. Bagaimanapun juga iya kehilangan sesuatu yang berharga dalam dirinya bukan karena unsur kesengajaan. Itu semua terjadi tidak sengaja ia tidak ingin menangisi dirinya dan mengutuk dirinya sendiri karena hal itu. Ia sudah berusaha untuk bangkit dan melupakan semuanya.
Namun bukan berarti setelah ia kehilangan itu, ia harus jadi w************n yang mudah disentuh oleh segala macam laki-laki ‘kan? Terlepas dari kemalangan yang menimpanya, dirinya tetaplah wanita berprinsip dan modern yang tak akan mengobral tubuhnya pada laki-laki mana pun yang bukan suaminya.
“Ra, please! Aku mohon beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya! Bisakah kamu ikut denganku ke kafe sebentar saja! Kita bicara dengan santai. Jangan dengan emosi begini! Semua pakaian yang ada di sini ambil saja. Aku yang akan membayarnya untuk kamu.”
“Tidak perlu. Aku tidak perlu uang kamu. Sejak dulu aku tidak pernah mau kamu traktir selain makanan, kan? Aku bukan wanita materialistis yang bisa kamu beli dengan uang lalu akan kamu mintai imbalan untuk tidur denganmu. Itu prinsipku sejak dulu. Aku pekerja keras dan aku tidak mau ditraktir begitu saja, terutama yang berhubungan dengan outfit dan kebutuhan sehari-hari.”
Ivan menatap sendu wajah Liora, tak mengindahkan kemarahanya sama sekali karena ia begitu merindukan wanita ini. Sudah tiga minggu pasca berpisah dan dirinya benar-benar beruntung bisa menemukannya di sini.
“Ini yang membuatku begitu susah melepaskan kamu, Ra. Kamu memang berbeda. Perbedaan yang ada di diri kamu itu yang membuatku menyesal menyia-nyiakan kamu dan bermain nakal di belakangmu. Aku ingin memperbaiki semuanya. Bisakah kita balikan lagi, Ra? Aku masih sangat mencintai kamu,” pinta Ivan tulus.
Liora menatap penuh kebencian pada laki-laki ini. Apa dia tidak mengerti sejak tadi ia benar-benar risi dan merasa kesal karena kehadirannya? Ia ingin Ivan segera angkat kaki dari sini. Melihat mukanya saja sudah membuatnya muak. Ia terbayang saat wajah tampan ini mencium dan mencumbu wanita lain. Seketika ia merasa jijik pada mantan kekasihnya ini.
“Berhentilah bermimpi! Sampai kapan pun aku nggak mau balikan sama kamu. Sebaiknya kamu pergi. Aku memang benar-benar membutuhkan pakaian-pakaian ini untuk modalku bekerja. Jadi biarkan aku belanja dengan tenang!”
“Kamu udah dapat kerjaan? Di mana?” tanya Ivan lagi-lagi mengabaikan perkataan Liora.
“Bukan urusan kamu aku mau kerja di mana. Sekarang juga tinggalkan aku sebelum aku berteriak di sini dan akan membuat kamu malu!” ancam Liora tak main-main.
Ivan terdiam, tapi kakinya enggan untuk melangkah. Ia masih ingin menikmati wajah cantik yang pernah menghiasi hari-harinya, wanita cantik yang berbeda dibandingkan wanita-wanita yang pernah hadir dalam hidupnya.
“Aku akan menunggu kamu selesai belanja, Ra. Jangan pikirkan biayanya! Aku yang akan membayar semuanya.”
“Apa kamu tuli? Perlu aku ambil mikrofon dan berteriak di sini kalau aku tak ingin ketemu sama kamu lagi. Aku juga tidak butuh uang kamu,” bentak Liora geram.
Padahal ia suka belanja di mall ini, khususnya di toko baju ini karena pakaiannya memang benar-benar bagus dan kualitasnya tebal serta nyaman dipakai. Namun, gara-gara laki-laki b******k ini, ia terpaksa harus pindah ke toko lain karena ia sudah tidak sanggup lagi bicara dengan laki-laki ini. Sekeras-kerasnya dirinya, sekasar-kasarnya dirinya bicara, tetap saja hatinya sakit kala mengingat kekasih yang sudah bersamanya cukup lama masuk ke dalam sebuah kamar hotel saat ia sedang menghadiri sebuah seminar.
Ia tidak pernah menyangka kalau laki-laki yang selama ini tidak pernah macam-macam dengannya, meskipun tak bisa ditampik dia juga ada usaha untuk merayunya, tetapi tetap tidak pernah secara eksplisit mengajaknya untuk tidur bersama, tiba-tiba tidur dengan wanita lain. Dan ketika ia konfirmasi, laki-laki ini sama sekali tidak bisa menjawab karena dirinya memiliki bukti kalau laki-laki ini sedang menggandeng seorang wanita seksi masuk dalam sebuah kamar hingga dia tidak bisa berkelit lagi.
Tidak ingin berlama-lama lagi di sini bersama laki-laki yang telah menyakiti hatinya, Liora langsung berbalik badan berniat meninggalkan Ivan. Namun, belum sempat ia melangkahkan kakinya, tiba-tiba Ivan menariknya secara paksa lalu Ivan tidak memberinya kesempatan lagi untuk melepaskan diri dan menyeretnya keluar dari toko baju sehingga mau tak mau kakinya melangkah mengikuti Ivan.
“Lepaskan tanganku sebelum aku menjerit dan kamu akan jadi bulan-bulanan massa di sini!”
Liora mendesis pelan, masih menjaga agar laki-laki ini tidak sampai dipukuli oleh orang-orang yang ada di mall ini.
“Silakan saja kalau kamu mau malu! Aku benar-benar butuh bicara sama kamu, Ra. Aku merindukan kamu. aku benar-benar ingin kita berbaikan lagi. Aku janji aku tidak akan main wanita lagi. Aku akan menahan semua hasratku dan aku akan melakukannya denganmu setelah kita menikah nanti.”
“Menikah? Apa kamu tidak salah?” seru Liora tak percaya.
“Aku ingin menikahi kamu, Liora. Aku benar-benar ingin menikahi kamu. Sejak dulu aku ingin serius sama kamu. Aku hanya bermain-main dengan wanita-wanita bayaran itu. Mereka bukan pacarku. Mereka hanya wanita semalam yang bisa disewa untuk menyalurkan kebutuhanku,” ujar Ivan jujur.
“Cih, apapun itu, aku tidak sudi menikah dengan laki-laki yang suka jajan seperti kamu! Lepaskan tanganku! Lepasin nggak!” desis Liora lagi.
Ivan benar-benar tidak ingin kehilangan wanita ini lagi. Ia benar-benar beruntung bisa bertemu dengan wanita ini di sini karena ia tahu toko baju ini adalah toko baju favorit Liora. Wanita ini pergi tanpa jejak setelah menyatakan putus dengannya dan pindah kontrakan baru.
Liora bahkan mengganti nomor ponselnya sehingga ia kehilangan jejaknya. Kesibukannya di rumah sakit sebagai manajer juga membuatnya tak punya momen untuk mencari Liora. Hingga akhirnya ia teringat toko baju ini yang membuatnya nekat datang ke sini sejak pagi untuk mengintai apa Liora akan datang berbelanja atau tidak dan akhirnya ia berhasil menemukannya. Karena itu ia tidak akan mungkin melepaskan Liora begitu saja. Liora harus jadi miliknya lagi.
“Ikuti saja aku, Ra! Kita harus bicara dengan hati yang tenang.”
Liora geram dan marah. Ia tak sudi bicara pada laki-laki ini lagi. Ia akan menggigit tangan laki-laki ini sekarang juga agar bisa melepaskan cengkeraman tangannya.
Namun, belum sempat ia melaksanakan niatnya, tiba-tiba ia sudah terlepas dari cengkeraman tangan Ivan dan berakhir dalam pelukan seorang laki-laki yang langsung mendesis tajam pada Ivan.
“Jangan berani-berani menyentuh kekasihku, Sialan!”
Bersambung ...