Rencana Weekend Liora

1837 Kata
“Nggak makan siang bareng pacar hari ini, Sel?” goda teman-teman Sella, yaitu Nina dan Rina di ruangan perawat siang itu. Dengan sombong Sella tersenyum, bersiap membanggakan kekasihnya di depan rekan-rekannya. Selama ini dirinya sudah berceloteh panjang lebar tentang kekasihnya yang begitu tampan luar biasa, seorang laki-laki blasteran yang benar-benar ia sukai dan cintai hingga berhasil membuat semua teman-temannya iri. Bagaimana tidak, dirinya yang hanya seorang perawat, bisa mendapatkan seorang dokter kandungan yang tampan juga blasteran. Bahkan dirinya sudah bicara aneh-aneh pada rekan-rekannya, mengatakan kalau dirinya akan segera dilamar oleh Frans. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu karena ia pernah tidak sengaja mendengar percakapan Frans pada sahabat-sahabatnya yang mengatakan kalau Frans akan menjaganya hingga halal. Berulang-ulang Frans mengatakan itu pada teman-temannya, mengatakan bahwa dirinya akan serius menjalin hubungan dengannya hingga ke jenjang yang lebih jauh. Tidak salah ‘kan kalau ia pongah dan nekat mengatakan pada rekan-rekannya kalau tak lama lagi dirinya akan dilamar oleh Frans? “Kalian kayak nggak tahu calon suamiku aja. Dia ‘kan jadwalnya banyak dan padat? Dia itu punya posisi penting di rumah sakit ini karena itu aku bisa ngopi bareng sama dia aja sudah syukur banget. Bisa pulang bareng dia aja udah serasa anugerah, tahu nggak?” seru Sella tertawa. “Iya, sih. Tapi ‘kan lo bisa balas dendam pas weekend di mana kamu bisa happy-happy bareng dia?” seru Rina iri. Sella kembali merasa pongah. “Kamu benar. Dia benar-benar bisa membahagiakanku saat weekend. Kami bisa jalan-jalan, makan dan tak jarang dia beliin semua yang aku mau. Yang bikin aku bahagia, kami bisa hug and kiss sepuas kami, tanpa takut dipergoki orang seperti saat sama-sama berada di RS ini,” seru Sella tak malu-malu. Rina dan Nina semakin iri. “Ah, so sweet! Iri bener, deh!” seru Nina. “Banget ....” Rina ikut menimpali. Sella sungguh bahagia melihat sahabatnya iri padanya. Andai mereka tahu betapa hotnya kiss yang sering ia lakukan dengan Frans, pasti mereka lebih kepanasan dan iri setengah mati padanya. “Ah, kalian! Kalian jadi bikin aku kangen sama dia, tahu nggak? Sejak pagi aku belum ketemu dia karena dia sibuk banget. Sekarang, gimana dong?” rengek Sella. “Telepon aja dia kalo kamu kangen! Atau langsung ke ruangannya dan peluk dia sebentar, Sel!” celetuk Nina tertawa. Sella ikut tertawa. Iya, juga, ya! Bila perlu curi ciuman sedikit kali, ya!” “Astaga, nakal kamu, ya!” seru Rina. “Tapi, Sel, kamu pasti bahagia banget kalau kamu jadi menikah sama dia. Alangkah gembiranya pas kamu hamil dan yang akan memeriksa kandungan kamu, suami kamu sendiri. Kalian bisa bercengkrama, bercanda tawa bahkan bergenit ria di ruangan USG. Wah, aku benar-benar makin iri, sumpah! Jadi pengen cari pacar dokter kandungan juga kayaknya.” “Iya, aku juga jadi pengen merayu dokter kandungan di atas sana,” timpal Nina. Sella tersenyum bangga karena dirinya sudah lebih dulu berhasil menggaet seorang dokter kandungan blasteran yang tampan rupawan sebelum rekan-rekannya berniat tebar pesona pada dokter kandungan di lantai 10 sana. “Kalian benar. Aku dukung kalau kalian punya pikiran demikian. Asal jangan narget calon suamiku saja, ya!” timpal Sella mengingatkan sambil bercanda. “Nggak kebayang betapa bahagianya aku nanti dan sudah bisa pastikan anakku nanti pasti akan blasteran kayak papanya. Kalian lihat sendiri betapa tampan dan tingginya dia. Rambut coklatnya, mata birunya, benar-benar membuatku tersihir. Anak-anakku nanti pasti akan cantik dan tampan rupawan menuruni gen papanya. Terus terang aja aku nggak mau punya anak dikit dari dia. Paling enggak aku mau tiga sampai empat anak,” sambung Sella bangga. “Wah, sudah sampai ke sana pikiran kamu, Sel?” seru Rina. “Tentu saja. Memiliki keturunan tampan nan rupawan itu benar-benar tidak gampang, lho.” Sella semakin menjadi-jadi meluapkan rasa bangganya. “Tapi ‘kan kamu udah cantik, Sel?” tandas Nina. “Iya, aku cantik, tapi kalau aku menikah sama orang lokal, maka tidak ada yang spesial di sana.” “Apapun itu, aku benar-benar iri sama kamu,” aku Rina membuat Sella semakin besar kepala. “Ya, mudah-mudahan kalian dapat laki-laki yang sesuai dengan keinginan kalian. Oh, ya! Kalian mau makan siang ‘kan? Buruan pergi sana! Nanti habis jam istirahatnya.” Sella mengingatkan. “Kamu nggak mau makan siang bareng kita?” tanya Nina menawarkan. “Nggak, aku akan makan camilan saja di sini. Mengingat aku nggak punya teman makan hari ini, aku berniat ingin kencan sama calon suamiku lewat ponsel aja.” Sella membohongi dua rekannya. Padahal sejak pagi, ia belum mendengar suara Frans. Frans hanya sekali mengiriminya pesan dan menyatakan kalau dia sibuk tadi. “Oh, iyalah ...” ujar Nina lalu menggandeng tangan Rina. “Mending kita cabut sekarang daripada kita mendengar mereka mesra-mesraan. Yang ada kita makin iri, secara kita ‘kan jomblo?” “Kamu benar. Mending kita cabut sekarang,” sahut Nina setuju. Keduanya lalu kompak melambaikan tangan pada Sella. “Kami tinggal dulu, Sel. Bye ... sampai jumpa nanti.” Selepas kedua rekannya pergi, Sella segera meraih ponselnya, merasa benar-benar kesal pada kekasihnya karena sejak pagi begitu susah dihubungi. “Aku akan hubungi dia dan mengajaknya kencan besok pagi. Awas saja kalau dia tidak mau pergi jalan-jalan sama aku!” *** Frans tidak bisa berkonsentrasi lagi pada data pasiennya. Ia buru-buru keluar dari ruangannya, benar-benar tidak bisa berpikir jernih lagi. Ia menekan lift satunya lalu naik ke atas rooftop, mencari spot yang paling ujung lalu menghembuskan napasnya dalam-dalam di sana. Rasanya ingin menjerit saat ini juga sambil menatap pemandangan gedung-gedung tinggi dari atas rooftop, tapi ia menahannya. “Kenapa? Kenapa semua usahaku gagal, sih? Kenapa aku tidak bisa memisahkan Reza dan Liora hari ini? Dan kenapa juga aku jadi repot begini?” desah Frans pusing. Percuma saja ia mengatur semua jadwalnya kalau ujung-ujungnya Reza masih bisa makan siang dengan Liora. Frans juga tidak habis pikir, kenapa Reza begitu tergila-gila pada wanita itu, padahal baru kali ini mereka bertemu. Sihir apa yang digunakan oleh Liora sehingga semua laki-laki yang adalah sahabatnya tertarik padanya? Sedang sibuk menenangkan batinnya sendiri, tiba-tiba Sella kembali meneleponnya. Frans masih berusaha untuk mengabaikan panggilan suara dari Sella. Namun, sepertinya Sella benar-benar bersikukuh kali ini menghubunginya. Mau tidak mau ia harus menerimanya meskipun ia enggan. “Timingnya nggak tepat banget, sih!” omel Frans dengan sangat terpaksa mengangkat panggilan dari pacarnya. [Honey, kamu marah, ya, sama aku?] [Nggak, kenapa kamu berpikiran begitu?] [Kenapa sejak pagi aku hubungi kamu, kamu nggak pernah mau angkat?] [Aku tadi ‘kan sudah bilang kalau aku sibuk?] [Sibuk apaan, sih? Kamu biasanya masih bisa menjawab teleponku, sesibuk apapun kamu] [Maaf, aku benar-benar nggak bisa membalas pesan kamu tadi. Mana Reza yang baru pulang dari luar kota banyak mengajakku ngobrol juga tentang pasiennya] Lagi dan lagi, Frans terpaksa berbohong. Ia tidak punya alasan yang bisa ia gunakan untuk menutupi semua yang terjadi padanya. Tidak mungkin ia mengatakan kalau ia uring-uringan hari ini gara-gara Liora berduaan terus dengan Reza sejak pagi, kan? [Ya, udah! Aku enggak akan mempermasalahkan masalah ini. Aku cuma mau bilang kalau besok aku mau ajak kamu jalan-jalan ke Mall Indah. Aku ingin makan junk food dan ingin keliling mall cari aksesoris. Jangan bilang nggak mau, ya!] Sebenarnya Frans berat hati. Ia benar-benar ingin sendirian saat ini, meresapi semua yang ia alami selama seminggu ini. Terus terang saja hari-harinya jadi kacau dan penuh amarah karena Liora berkeliaran di sekitarnya dan juga karena ia melihat indikasi Liora berusaha untuk merayu teman-temannya. Itu yang membuatnya resah. Lagi-lagi ia selalu menumbalkan sahabatnya. Teorinya mengatakan bahwa Liora punya niat terselubung pada sahabat-sahabatnya. Ia tak rela sahabat-sahabatnya jadian dengan wanita yang sudah tidak suci itu dan ia tidak mungkin mengatakan semua ini pada pacarnya, kan? Sella pasti akan berpikiran negatif padanya. Akhirnya ia menyetujui permintaan Sella, tak mau Sella curiga. [Baiklah, jam berapa?] [Sekitar jam 10.00. Jemput aku di rumah, ya, Honey!] [Oke] [Apa kamu sudah makan siang?] [Sudah. Aku makan camilan aja karena tak sempat mau makan siang. Aku harus mengurus jadwal operasiku setelah ini] [Baiklah, selamat bekerja, Honey. Sampai jumpa besok] Frans menghela nafas. Ia segera menyimpan ponselnya di saku celananya lalu menggumam pelan. “Ada baiknya aku jalan-jalan besok. Setidaknya tiap Sabtu dan Minggu aku tidak akan bertemu dengan wanita itu. Aku akan memikirkan lagi bagaimana memisahkannya dari para sahabatku. Sebaiknya aku berhenti sejenak memikirkan masalah ini,” gumamnya lagi lalu turun kembali ke ruangannya siang itu. *** “Kok, kamu jadi repot antar aku kayak gini, sih, Dok?” seru Liora tak enak hati. Reza memaksa mengantarnya dan mengatakan akan menyuruh seseorang untuk mengantarkan mobilnya ke rumah kontrakannya sebentar lagi. Bahkan gilanya, Reza berniat mengantar jemputnya setiap hari nanti. Liora segera membuka pintu mobil Reza lalu keluar dan berdiri di depan pagar rumah kontrakannya. Sementara Reza ikut keluar mobil dan mendekati Liora, rasanya belum siap untuk berpisah dari wanita yang tak henti-hentinya membuat hatinya berdebar dan berbunga-bunga. “Sudah aku bilang aku serius sama kamu. Masalah kamu mau menerima aku atau tidak, aku tidak peduli. Aku orangnya aktif kalau suka sama orang. Kamu ‘kan sudah tahu itu? Seharian ini kita bersama dan kamu pasti sudah tahu bagaimana karakterku.” Reza menjelaskan. “Tapi kamu jangan mendesakku, ya? Bisa saja aku gerah nanti,” jelas Liora gamblang. Reza tertawa renyah. “Aku tidak akan mungkin memaksamu. Anggap aja aku sahabatmu yang bisa kamu andalkan! Urusan romance kita serahkan pada takdir. Yang penting aku usaha dulu, Ra.” Liora tersenyum. Benar juga. Ia akan menganggap Reza sahabat dekat dulu. Mana tahu di masa depan Reza bisa menggugah hatinya. “Baiklah, Dok.” Reza gembira Liora mau menerima semua usahanya. “Nah, gitu dong! Aku akan selalu mendukung kamu, Ra. Aku sudah tahu masa lalu dan perjuangan kamu. Aku akan membantu kamu untuk mencapai karir kamu yang tertinggi di rumah sakit tersebut.” “Baiklah, Dok. Yang jelas dokter jangan kecewa kalau sewaktu-waktu keinginan dokter terhadapku tidak bisa terwujud.” Liora kembali menegaskan. “No problem. Kadang hubungan romantis diawali persahabatan, Ra. Aku yakin lama-lama kamu akan terpesona padaku,” seru Reza optimis, membuat Liora tersenyum. “Oh, ya! Apa kamu senggang besok?” tanya Reza melancarkan modusnya. “Ah, aku ada janji sama dua sahabatku di Kafe Romero di Mall Indah! Kebetulan aku juga harus membeli sesuatu di mall tersebut.” “Oh, gitu, ya?” seru Reza sedikit kecewa. “Kalau Minggu?” tanya Reza lagi. “Aku ingin tidur seharian, Dokter. Hari Minggu aku nggak pernah ke mana-mana. Aku perlu Me Time dan ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku.” Liora menjelaskan. Meski Reza kecewa karena tak bisa menghabiskan weekendnya bersama Liora, tapi ia tetap tersenyum pada wanita yang ia target untuk menjadi kekasihnya ini. Ia akan berusaha menjadi sosok yang pengertian bagi Liora, menyentuh hati wanita cantik ini pelan-pelan dan ia yakin lambat laun, Liora akan menoleh ke arahnya. Sambil tersenyum, Reza melambaikan tangannya pada Liora yang saat ini masih berdiri di depan pagar rumah kontrakannya, bersiap kembali masuk ke mobilnya lalu berseru riang. “Oke, aku mengerti. Kalo gitu kita akan berpisah dua hari, Ra. Have a nice weekend. Sampai jumpa hari Senin!” Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN