“Kok, Liora belum keluar, ya? ujar Reza mondar-mandir di depan mejanya, membuat Frans tersenyum miring.
Ia senang Reza, Firza dan Reno tak akan punya kesempatan untuk makan siang lagi dengan Liora.
“Apa jadwalnya bertambah, ya?” tanya Reza menoleh Frans.
Frans pura-pura bodoh lalu menjawab asal.
“Nggak tahu. Gue nggak terlalu kepo ngurusin jadwal dia. Nggak penting juga, kan?”
“Perasaan saat di kafe tadi, dia bilang dia nggak ada jadwal jam 11.00. Jadwalnya nanti setelah makan siang.” Reza bertanya-tanya sambil terus mondar-mandir gelisah, membuat Frans kesal.
“Ya, mana gue tahu dan nggak mau tahu juga. Males, tahu nggak?”
Reza mendelik curiga. Ia menyipitkan matanya menatap Frans yang menurutnya aneh saat ini.
“Lo kenapa? Kok, kayaknya sewot banget pas gue bahas Liora. Kenapa? Lo punya masalah sama dia?”
Frans mendengus kesal. Kenapa sahabatnya malah mencurigainya begini, sih?
“Gue males ngomongin hal yang nggak penting. Itu aja.”
Reza menyeret sebuah kursi lalu langsung duduk di depan meja Frans, kemudian menatap sahabatnya serius.
“Frans, lo tahu nggak? Kayaknya gue benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dia.” Reza mengakui perasaannya dan memberitahukan pada sahabatnya.
“Lo gila kalau lo bilang gitu. Mana ada cinta pada pandangan pertama. Cinta itu butuh proses,” sembur Frans kesal.
Apa yang ia takutkan terjadi. Ia harus mencuci otak sahabatnya agar berhenti memikirkan Liora.
“Gue serius, Frans. Sejak gue bertemu dengan dia pertama kali ketika dia keluar dari lift tadi, gue berdebar-debar setengah mati. Gue berusaha untuk menenangkan debaran di d**a gue saat bicara dengannya di kafe tadi. Ketika dia tersenyum, jantung gue rasanya mau meloncat keluar, Frans. Senyumnya menyihir gue. Gue terbius olehnya, sumpah! Dan tiba-tiba saja dari lubuk hati gue terdalam, gue berniat untuk menjadikannya kekasih gue,” ujar Reza blak-blakan.
Hati Frans meradang. Sahabatnya benar-benar sudah gila.
“Sinting lo! Baru beberapa menit ketemu udah mau jadiin pacar aja. Selidiki dulu siapa dia! Mana tahu dia orang jahat,” seru Frans berusaha mempengaruhi Reza.
“Mana ada dokter jahat?” cibir Reza.
“Eh, jangan lihat profesi, dong! Lihat orangnya dulu! Cermati karakternya! Selidiki dulu dia siapa. Yang gue tahu dia itu orang miskin. Lo tahu sendiri kalau orang miskin mendekati orang kaya, apa tujuannya?” tegas Frans menghina Liora.
“Bukan dia yang deketin gue, gue yang deketin dia dan gue nggak peduli dia miskin atau nggak. Yang penting hati gua klik. Kehidupan dia benar-benar dramatis. Dia benar-benar banting tulang untuk dirinya sendiri hingga sampai ke titik ini. Kalau dia memang wanita penggali emas, sudah sejak dulu dia jual kecantikannya dengan cara menggaet laki-laki kaya saat awal dia masuk ke sini. Lo lihat, dia bahkan tidak menerima perasaan Reno dan Firza. Karena itu gue yang mau maju untuk mendapatkan hatinya. Lo dukung aja nggak dan nggak usah sewot, bawel, dan nggak usah juga pengaruhi gue!”
“Lo benar-benar nggak waras kalau mau sama dia, Reza,” cetus Frans geram.
“Cinta nggak bisa dipaksa, Frans. Sama kayak lo sama Sella. Awalnya ‘kan kami bertiga nggak ada yang setuju lo jadian sama dia karena dia terlihat begitu ... sorry to say, Frans. Dia terlihat begitu agresif ngejar lo. Bahkan kita bertiga waktu itu yakin kalau lo itu nerima Sella cuma karena nggak enak hati karena Sella selalu memperhatikan lo selama enam bulan lebih.”
“Heh, jangan sembarangan ngomong, ya! Gue suka dan gue cinta sama Sella.” Frans menutupi perasaannya saat ini.
Bibirnya berbohong. Saat ini ia tak yakin apa dirinya mencintai Sella lagi.
“Ya, udah! Kalo lo cinta sama dia, kami malah bersyukur. Artinya lo happy sama Sella. Sekarang lo juga harus terima kalau gue cinta sama Liora. Walaupun nggak masuk akal karena baru beberapa detik saja kami bertemu, tapi dalam hati gue ada keyakinan kalau dia adalah wanita yang baik dan gue punya keyakinan diri ingin memilikinya.” Reza menegaskan.
Frans benar-benar geram dan panas hati mendengar penuturan sahabatnya. Sejak awal Reza mengatakan kalau ia mencintai Liora, sejak saat itu pula hatinya kacau. Ia marah dan kesal. Sekuat tenaga ia sudah berusaha untuk menghalangi niat Reza, tapi keteguhan hati Reza tak bisa digoyah.
Frans kini pusing, tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan untuk memisahkan Liora dan Reza.
“Woy, lo denger nggak gue ngomong apa? Kok, jadi bengong?” panggil Reza mengibaskan tangannya di depan wajah Frans yang mematung.
“Terserah lo!” sahut Frans ketus begitu sadar dari lamunannya.
“Nah, gitu, dong! Sewajarnya lo dukung gue sama Liora,” seru Reza ceria saat mendapatkan dukungan dari sahabatnya. “Lo nggak makan siang sama Sella?”
Frans menunduk, berusaha menyembunyikan raut masamnya.
“Nggak, bentar lagi gue ada operasi.”
“Oke, fokus aja sama data-data pasien lo. Gue mau nungguin Liora keluar,” seru Reza lalu beranjak dari duduknya dan kembali mondar-mandir di depan mejanya.
Sementara Frans mencebik dari kejauhan.
‘Tunggu saja sampai sore. Kamu tak akan bisa bertemu dengan Liora setiap jam makan siang karena jadwalnya akan dibuat padat. Kamu tidak akan pernah bisa makan siang bareng dia,’ batin Frans merasa menang, melihat Reza mondar-mandir gelisah di depan sana.
Namun, kesenangan Frans tidak bertahan lama ketika wanita cantik yang ingin ia jauhkan dari Reza tiba-tiba melenggang dengan ceria keluar dari ruangan operasi yang seharusnya selesai sekitar setengah jam lagi.
Frans menganga. Kenapa Liora bisa menyelesaikan semua pekerjaannya lebih cepat, membuatnya lagi-lagi mengepalkan tangannya, merasa geram setengah mati.
“Udah kelar? Cepat banget, Ra,” seru Reza takjub.
Liora tergelak renyah. “Iya, dong. Walaupun nggak cepet-cepet amat, sih! Hanya sekitar setengah jam sebelum waktu yang ditentukan,” terang Liora santai.
Reza tersenyum riang. “Ya, bagus, deh! Kita bisa segera makan siang bareng kalo gitu. Yuk, kita berangkat sekarang!” ajak Reza mengulurkan tangannya.
Liora menoleh ke penjuru ruangan, tapi tak menemukan dua sahabatnya. Yang ia lihat hanyalah si b******k Frans.
“Tapi, dokter Reno dan dokter Firza ....” Liora masih berusaha ingin menunggu dua sahabatnya.
“Jangan pikirkan mereka, Ra! Mereka nggak bisa makan siang bareng kamu lagi. Jadwal mereka pas menjelang makan siang semua. Mereka paling-paling bisa keluar sekitar 30 hingga 45 menit ke depan. Jadi mulai hari ini kamu akan selalu makan siang bersamaku. Sekarang pilih, mau makan siang di mana?” tanya Reza menawarkan.
“Aku mau makan siang di rooftop aja. Itu yang murah soalnya,” ceplos Liora tak malu-malu.
Reza tertawa pelan. “Ah, itu alasannya! Kalau gitu mulai hari ini dan seterusnya aku akan mengajak kamu makan di restoran di lantai dasar.”
Liora mengibaskan tangannya beberapa kali di depan Reza, merasa keberatan makan di restoran lantai dasar yang notabene tak ada menu yang murah.
“Nggak, Dok. Aku nggak mau makan di sana. Itu terlalu mahal bagiku,” tolak Liora.
“Nggak ada tapi-tapi, Ra. Sekarang juga kita turun ke lantai dasar. Aku yang akan traktir makan siang kamu setiap hari.”
Reza dengan luwesnya menarik tangan Liora sambil tersenyum lebar padanya lalu melenggang ceria meninggalkan Frans yang lagi-lagi meradang karenanya.
“Kurang ajar! Kenapa dia begitu cepat menyelesaikan operasinya, sih? Kenapa dia harus makan siang dengan Reza, sih? Kenapa!?” maki Frans frustrasi.
Bersambung ...