“Kamu ternyata alumni dari SMA yang sama denganku juga, ya? Wah, kebetulan banget, ya?”
Reza sekuat tenaga menahan debaran di dadanya kala berdekatan dengan wanita cantik ini. Aroma vanila yang menguar dari tubuh dan rambut Liora, benar-benar membuatnya mabuk kepayang.
Reza tak butuh waktu lama untuk meyakini kalau dirinya sudah jatuh dalam pesona Liora. Dan tidak butuh waktu lama pula ia memutuskan untuk menjadikan wanita ini miliknya.
“Iya, Dok. Itu benar-benar kebetulan. Aku nggak nyangka 4 orang rekanku ternyata dari SMA yang sama denganku dulu. Nggak nyangka kita jadi dokter kandungan dan bekerja di RS yang sama seperti ini,” timpal Liora riang.
Ia suka dengan keluwesan dan sikap Reza padanya. Ada kedewasaan sikap yang jauh berbeda dari Reno dan Firza yang menurutnya sedikit kekanakan. Liora menganggap Reno dan Reza seperti sahabat dan saudara sendiri. Dan itu memberikannya keceriaan.
Terus terang saja, hidupnya jadi berwarna sejak ia akrab dengan Reno dan Firza. Sedikit banyaknya ia mulai bisa bangkit, menekan kesedihannya dalam-dalam dan mengalihkan fokusnya pada pekerjaan dan dua rekannya yang selalu membuatnya tertawa. Dan kini, ia mendapatkan seorang rekan lagi yang sepertinya bisa membuatnya nyaman.
“Aku malah yang nggak nyangka. Kok, ada wanita yang mau jadi dokter kandungan? Kebanyakan dokter kandungan 'kan laki-laki? Boleh aku tahu apa alasan kamu memilih spesialis kandungan, Ra?” selidik Reza.
Liora melempar senyuman manisnya, membuat jantung Reza berdegup kencang. Reza menahan semuanya sambil terus fokus menatap wajah Liora, bersiap mendengarkan penjelasannya.
“Itu karena mamaku pernah cerita kalau mama memiliki kesulitan melahirkanku. Aku bahkan tak sengaja menyakiti mamaku selama tiga hari tiga malam di mana mamaku tak kunjung bisa melahirkanku, sedangkan air terus mengalir dari jalan lahirnya. Beliau sampai pindah tempat melahirkan tiga kali, baru aku bisa dilahirkan.”
“Astaga! Kasihannya mama kamu, Ra,” seru Reza spontan.
Liora mengangguk pelan lalu melanjutkan ceritanya.
“Waktu itu mama tinggal di pelosok sehingga mama hanya mengandalkan bidan desa. Namun, bidan desa itu gagal membantu mama melahirkan sedang air terus keluar semalaman sampai-sampai mama terpaksa dirujuk ke rumah sakit daerah keesokan harinya, tapi hingga 24 jam pun mama tetap tidak bisa melahirkanku. Kebetulan hari itu hari Minggu sehingga dokter spesialis tidak ada sama sekali dan dokter jaga yang membantu mama juga tidak berhasil membantu mama karena mama memiliki riwayat susah mengejan.”
“Wah, benar-benar dramatis, ya! terus akhirnya gimana?” Reza penasaran.
“Akhirnya mamaku dibawa ke rumah sakit di kota menggunakan ambulans dan ujung-ujungnya mama harus divakum. Itu juga yang membuat mama trauma sehingga tidak ingin memiliki anak lagi sehingga aku menjadi anak tunggal.” Liora menambahkan.
Reza tertegun. Ternyata ini motivasi Liora ingin menjadi dokter kandungan.
“That’s amazing story, Ra. Sekarang aku ngerti kenapa kamu ingin jadi dokter kandungan.”
“Iya, Dok. Aku tak akan membiarkan pasienku mengalami hal yang sama seperti yang dialami mama. Andai mama tahu kalau ia punya kesulitan mengejan, tentu mama akan pilih prosedur SC saja tanpa harus bersusah payah melahirkanku kurang lebih tiga hari tiga malam.”
“Aku mengerti. Sekarang bagaimana beliau?”
“Mama telah tiada. Beliau terkena kanker rahim. Papa juga sudah meninggal terkena penyakit stroke karena bersedih kehilangan mama. Aku sendirian berjuang dengan beasiswa dibantu oleh kedua temanku dan akhirnya bisa menyelesaikan kuliahku. Aku berjuang bekerja serabutan hingga akhirnya aku bisa sampai di sini,” terang Liora menceritakan perjuangannya.
Semuanya meluncur begitu saja di bibirnya. Rasa nyaman yang ia rasakan saat berdekatan dengan Reza, membuatnya percaya dan tak ragu membuka masa lalunya yang penuh air mata. Ia bahkan tidak berminat menceritakan ini pada Reno dan Firza karena dua orang rekannya itu selalu mengajaknya bercanda.
Dan sepertinya Reza melampaui kedua rekannya tersebut. Reza sepertinya pintar menginterogasinya secara tak langsung, membuatnya tak ragu menceritakan masa lalunya. Kini, ia merasa sedikit lega karena bisa menceritakan kisah pilunya di masa lalu.
“Serabutan gimana, Ra?” tanya Reza penasaran sambil menahan rasa kagum di hatinya akan perjuangan Liora.
Bertambah kuatlah keinginan dalam dirinya untuk memiliki wanita ini. Ternyata Liora seorang pekerja keras. Ia jadi ingin memberikan kebahagiaan padanya. Benar, mulai detik ini tak akan ia biarkan Liora bersedih lagi.
“Aku mengajar les bahasa Inggris, membuka jasa translate karena aku bisa bahasa Inggris sampai aku bisa bekerja di rumah sakit pemerintah dan cukup menghasilkan di sana.”
“Kenapa kamu berhenti dari sana?” tanya Reza penasaran.
Liora tidak akan mungkin menceritakan kenapa dia berhenti dari rumah sakit pemerintah yang selama ini sudah menaunginya. Itu karena ia ingin menghindari mantan pacarnya dan ia tidak mungkin menceritakan itu pada Reza. Alangkah tidak profesionalnya dirinya nanti, sedangkan dirinya juga memang ingin mencari penghidupan yang layak selain di sana.
“Aku hanya ingin menapaki jenjang karir yang baru, Dokter,” kilah Liora cepat.
“Kamu benar. Aku setuju sama keputusanmu. Kita memang harus berani mengambil resiko, mencoba melamar di tempat baru dan yakin akan mendapatkan karir yang baru dan cemerlang. Yakinlah, kamu masuk ke rumah sakit yang tepat! Gaji di rumah sakit ini luar biasa besar. Kamu juga bisa buka praktek di rumah nanti dan itu akan menambah penghasilan kamu. Aku benar-benar kagum dengan perjuangan hidup kamu, Ra. Ke depannya kalau ada kesulitan, jangan hanya andalkan dua orang teman kamu itu, tapi andalkan juga aku, ya!”
Liora tertawa pelan, merasa geli dengan kata-kata laki-laki tampan di depannya ini.
“Dokter lucu, deh! Kita baru kenal beberapa menit yang lalu. Masa aku harus mengandalkan dokter?”
“Tapi aku merasa sudah begitu lama kenal dengan kamu, Ra,” sahut Reza serius.
“Dokter gombal,” seloroh Liora sambil tertawa.
Reza ikut tertawa. “Aku nggak gombal. Aku merasa klik dan klop denganmu sejak beberapa detik kita bertemu. Aku nggak ngerti juga kenapa. Dan ketika kita berbincang-bincang sambil minum kopi seperti ini, aku merasakan kita memiliki kemistri. Karena itu ke depannya jangan tolak kehadiranku, ya! Mulai saat ini aku yang akan mengajak kamu makan siang setiap hari.”
“Tapi ....”
“Tidak ada penolakan!” tegas Reza menggoyangkan jari telunjuknya di depan Liora sambil tersenyum.
Liora tertegun menatap senyuman indah penuh ketulusan di mata laki-laki ini. Dia memang benar-benar bisa membuatnya nyaman. Sepertinya ia bisa menjadikan laki-laki ini sebagai teman atau sahabat dekat. Semoga saja perjuangannya di rumah sakit ini akan jauh lebih mudah.
Setidaknya ia punya tiga orang teman yang akan selalu membelanya, terutama dari laki-laki b******k yang sangat ia benci.
“Baiklah asal jangan terlalu mengharapkanku, ya!” canda Liora tersirat.
Karena jujur saja, ia tak ingin ada hubungan romantis dulu saat ini. Kesedihannya pasca hilangnya mahkotanya saja masih belum ia atasi sepenuhnya. Tak mungkin ia mau membina hubungan dengan siapa pun saat ini karena kondisinya yang tak sempurna lagi. Ia hanya akan fokus bekerja dan bersosialisasi saja di RS ini, menabung lalu membeli sebuah rumah agar bisa segera berhenti mengontrak.
Andai rumah orang tuanya masih ada, tentu ia tak harus berhemat untuk membayar kontrakannya. Sayangnya rumah itu harus terjual untuk membiayai almarhum papanya yang sakit stroke.
“Kenapa aku tak boleh mengharapkanmu?” balas Reza ingin tahu.
“Nggak, Dok. Aku cuma bercanda. Aku hanya ingat dr. Reno dan dr. Firza yang terang-terangan mengejarku dan bersaing sehat untuk mendapatkanku. Aku juga bilang hal yang sama ke mereka untuk tidak berharap banyak padaku. Aku masih ingin fokus dengan karir dan masa depanku. Aku ingin hidup enak dengan hasil keringatku sendiri. Aku bicara begini karena aku takut ketika aku mengecewakan kalian, kalian akan memusuhiku. Aku kalau sudah sayang sama seseorang, baik itu teman ataupun sahabat maka aku akan menyerahkan semua hatiku untuk mereka. Alangkah sedihnya aku kalau nanti harus bermusuhan dengan kalian.”
Liora menjelaskan kondisinya dan alasannya tak ingin membina hubungan romantis dengan siapa pun saat ini.
Reza kagum akan kedewasaan Liora juga perjuangannya. Ia jadi semakin semangat untuk maju merebut hati si cantik ini.
“Kita ini sudah dewasa, Ra. Kita harus berpikiran modern dan maju. Mana mungkin orang sekelas kita mau ngambek-ngambekan kalo nggak berhasil mendapatkan apa yang kita inginkan. Intinya aku pribadi mau dekat sama kamu. Jangan menolak ajakanku dan jangan menjauhiku saja! Izinkan aku selalu berada di dekatmu, ya!” seru Reza bijak. ‘Dan biarkan aku berjuang untuk merebut hatimu, Liora,' sambung Reza dalam hati.