Mengacaukan Jadwal

1262 Kata
[Pa, aku mau minta tolong lagi] Frans akhirnya menggunakan cara kotor untuk mengacaukan jadwal teman-temannya melalui papanya. Ia tak buang waktu lagi. Ia langsung VC papanya detik itu juga. [Apa lagi, Frans?] [Tolong jadwal Reza juga diatur, Pa! Atur sebelum jam makan siang, jadi mereka tidak akan bisa makan siang tepat waktu, tapi mereka akan makan siang setelahnya sekitar jam 01.00] [Papa heran, kenapa kamu jadi repot mengurusi jadwal teman-teman kamu, sih?] [Nggak usah tanya alasannya apa, Pa! Ini alasan pribadi] [Kenapa? Ada yang mau merebut pacar kamu?] [Bukan, Pa. Pokoknya tolong atur aja jadwalnya seperti yang kuminta tadi!] [Kalau untuk Reno dan untuk Firza, Papa masih bisa atur karena pasien mereka tidak masalah dengan dokter yang mana aja dan tidak masalah jadwalnya dimajukan dari jadwal biasanya. Namun, itu tidak berlaku untuk jadwal Reza] [Maksud Papa?] [Papa nggak bisa mengatur jadwal pasien Reza karena pasiennya pada kompak inginnya jadwal jam 10.00. Mereka ada urusan jadi hanya bisa meminta jam segitu. Pasien Reza itu VVIP, sama seperti kamu. Dan rata-rata sedang hamil muda semua dan nggak mau diganti dengan dokter lain di jam yang sama. Sampe sini kamu mengerti, kan? Papa nggak bisa tiba-tiba majuin jadwal begitu aja] [Ah, Papa bener-bener nggak bisa bantuin anak sendiri!] [Eh, jangan kurang ajar sama Papa, ya! Papa aduin sama Mama kamu, habis kamu kena omel nanti] [Ya, habisnya sekedar menukar jadwal aja, masa Papa nggak bisa?] [Masalahnya pada pasiennya, bukan pada dokter Rezanya. Lagian kenapa, sih, repot urusin jadwal orang? Urus aja pasien-pasien kamu, Frans! Pasien Reza itu spesial. Mereka beda dari pasien Reno dan Firza yang bisa diatur sedemikian rupa dan nggak masalah dan nggak komplain kalau dokternya diganti-ganti, pun demikian jadwalnya. Semua pasien Reza yang jam 10.00 itu rata-rata ibu-ibu muda semua dan tidak mau diganti jam yang lain. Kamu nggak tahu apa Reza itu popularitasnya nomor dua dibanding kamu? Dan sepertinya kamu bakal dapat saingan baru yang juga bakal menjadi seperti kamu dan Reza. Apa kamu tahu itu?] [Siapa, Pa?] [Dokter Liora. Dia sudah mulai disukai oleh pasiennya. Kinerja Liora memang bagus di rumah sakit sebelumnya. Di RS lama saja yang berobat dengannya pun banyak dan lebih memilih dia dibanding dokter-dokter yang lainnya. Kamu bayangin aja gimana seorang dokter wanita begitu digandrungi oleh ibu-ibu, sedangkan mayoritas dokter kandungan banyak laki-laki ‘kan? Itu artinya dia memang bagus, Frans] Frans sebal sang papa terus-terusan memuji Liora. [Pa, aku nggak mau bahas soal dia, Pa. Yang aku mau jadwal Reza berubah. Aku ingin jadwalnya segera diganti] [Nggak bisa. Kamu mau nangis, mau ngamuk, mau berhenti dari rumah sakit ini juga, tetap saja nggak bisa. Walaupun RS ini milik Papa, tidak semuanya bisa diatur sesuka hati. Kita jual jasa di sini. Satu orang saja pasien complain, kita akan kehilangan berapa ratus pasien hanya dari mulut orang yang complain pada kita tadi. Papa nggak bisa mengorbankan RS ini hanya demi kegilaan kamu. Ga usah usil dengan jadwal teman-temanmu lagi dan fokus sama jadwal kamu aja, ya! Dah, Papa banyak kerjaan! Lanjutin kerjaan kamu sana!] Frans mencebik ke arah layar ponsel. [Papa nyebelin!] Frans lalu mematikan video call-nya sambil mendengus kesal. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku sudah bisa menyingkirkan jadwal Reno dan juga Firza yang mulai hari ini akan berhenti bermanja-manja serta mengajak Liora makan siang karena aku sudah minta papa menukar jadwalnya. Namun, aku tidak bisa mengganggu jadwal Reza. Sial! Apakah aku harus melihat momen keromantisan wanita itu dan Reza setiap harinya?” gumam Frans kesal. Frans sudah memiliki tekad yang kuat untuk menghalangi teman-temannya jatuh cinta pada Liora. Mulai hari ini Reno dan Firza sama sekali tak akan sempat makan siang dengan Liora. Tinggal memikirkan bagaimana menghalangi Reza yang sepertinya jauh lebih serius mengejar wanita itu. “Pokoknya aku tak akan biarkan sahabat-sahabatku jatuh dalam jeratnya. Tidak, pokoknya tidak boleh. Tidak ada yang boleh jatuh cinta pada penggali emas itu,” tekad Frans. Sedang sibuk memikirkan rencana untuk memisahkan Reza dengan Liora, tiba-tiba ponsel Frans berbunyi. “Kenapa dia pake hubungi segala, sih? Aku sedang pusing begini,” keluh Frans. Ia tidak mau menyakiti hati kekasihnya meski perasaannya pada kekasihnya semakin hari semakin hambar. Sedapat mungkin ia ingin menghindar, tidak ingin bertemu dengan kekasihnya. Ia akan mengatakan kalau jadwalnya cukup padat lalu segera mengirim pesan cepat dan mengatakan kalau dia sedang sibuk sekarang. Ia yakin Sella pasti mengerti. “Apa yang aku lakukan sebenarnya? Kenapa aku menolak panggilan dari pacarku sendiri?” Frans tidak mengerti dengan tingkahnya sendiri. Pikirannya bertarung dengan batinnya. Hatinya benar-benar bergejolak melihat sahabat-sahabatnya begitu gencar mengejar Liora yang ia yakini adalah wanita miskin yang ingin panjat sosial dan kaya secara instan. Ia benar-benar tak rela sahabatnya terjerat oleh wanita yang sudah tidak suci lagi seperti Liora. “Benar, pasti hanya karena itu, bukan karena aku menyukai Liora. Pasti itu alasannya,” gumam Frans meyakini teori yang ia ciptakan sendiri. “Tunggu saja! Aku akan terus menghalang-halangi kalian agar tidak selalu bersama.” Frans kembali menghubungi sang papa, kemudian meminta sang Papa untuk mengubah jadwal Liora agar bertabrakan dengan jadwal Reza. [Apa lagi?] [Kalau Papa nggak bisa mengubah jadwal Reza, ubah saja jadwal dokter Liora, ya, Pa! Ubah atau tambah ke jam 11.00 pagi] [Sebenarnya ada apa dengan kamu, sih, Frans?] [Ubah aja, Pa! Nggak usah banyak tanya. Aku yang mengawasi mereka selama ini, jadi aku yang tahu mana yang terbaik untuk mereka] [Ya, udah, Papa ubah! Puas!?] Frans tersenyum lebar pada sang papa yang sedang mengerucutkan bibirnya di balik layar ponselnya. [Makasih, Pa. Papa the best pokoknya] [Dasar! Tadi bilang Papa nyebelin] [Tadi memang nyebelin, tapi sekarang nggak] Frans kembali tersenyum pada sang papa. [Dah, kerja sana!] Layar ponsel Frans pun menghitam pasca berakhirnya panggilan video dari papanya dan Frans sendiri belum bisa menyudahi senyuman bahagianya. Sambil mulai memasukkan ponselnya ke saku celananya, ia menggumam puas. “Hari ini adalah hari terakhir kamu bisa bercengkerama dengan Reza. Mulai siang nanti kamu tak akan bisa makan siang dengan siapa pun, Liora. Tak akan aku biarkan tiga sahabat baikku menjadi kekasihmu karena aku tak rela mereka mendapatkan wanita sepertimu,” gumam Frans menyeringai lebar, puas karena bisa memanipulasi jadwal rekan-rekannya. Frans lalu kembali pada data-data pasien di mejanya, tersenyum bahagia karena berhasil menjalankan rencananya. Namun, ketika ia membayangkan canda tawa Reza bersama Liora yang orangnya memang ramah dan supel, seketika dadanya terasa panas. Membayangkan Liora tersipu malu akan pujian-pujian yang akan dilontarkan Reza padanya, membayangkan senyuman membius dari Liora pada Reza, membuatnya kesal setengah mati. “Aarrgghh, dasar b******k! Kalian benar-benar mengacaukan pikiranku. Kalian membuatku tidak konsen pada pasienku,” omel Frans geram. Ia kembali berusaha membaca data pasiennya, tapi lagi-lagi bayangan Liora selalu menari-nari di pikirannya. Sebagaimana kerasnya ia berusaha untuk menepisnya, bayangan wanita itu kala mencebik padanya, tersenyum sinis padanya dan berkata kasar padanya selalu berputar-putar dalam benaknya dan ketika ia berusaha untuk mengusirnya kembali, malah bayangan saat mereka beradegan panas terbayang begitu jelas, membuatnya berdesir. “Sialan! Apakah begini jadinya kalau sudah terlanjur menyentuh seorang wanita? Kenapa aku selalu terbayang-bayang padanya, sih? Apakah ini akan berlanjut kalau aku sudah menikahi Sella nanti? Masa aku terus memikirkan aktivitasku dengan Liora, alih-alih dengan istriku sendiri?” lirih Frans frustrasi. Namun ketika kata-kata itu meluncur dari di bibirnya, hati kecilnya seketika menolak. Hati kecilnya menolak untuk melanjutkan niatnya untuk menikahi Sella. Untungnya ia belum pernah mengutarakan itu pada Sella. Ia baru mengutarakan niat seriusnya itu pada tiga sahabatnya, sehingga ia tidak akan merasa tidak enak hati apabila sewaktu-waktu melepaskan Sella nanti. “Astaga! Aku benar-benar sudah gila. Bahkan aku sudah berniat ingin melepas Sella?” Frans kembali mengusir pikiran-pikiran anehnya lalu berusaha kembali fokus karena pada data-data pasiennya pagi itu. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN