[Kapan lo balik, Za?]
[Ini gue udah balik. Gue tiba semalam]
[Kapan kerja lagi?]
[Ya, sekarang. Ini gue mau buruan cabut ke RS sebelum lo VC gue]
[Bagus, deh! Oh, ya, gue udah ceritain belum kalau kita kedatangan dokter baru, dokter perempuan yang cantik jelita?]
[Kapan lo komunikasi sama gue? Bukannya baru ini kita callingan pasca gue dinas ke luar kota?]
[Iya, juga, ya!]
[Dasar pelupa!]
[Serius gue nggak kirim-kirim pesan atau foto ke elo?]
[Nggak ada. Mungkin lo kirim pesan ke orang lain kali, tapi ingatnya kirim ke gue]
[Bisa jadi, ya! Apa karena terlalu banyak yang gue pikirin, ya?]
[Apa yang lo pikirin emangnya?]
[Dokter Liora, yang tadi gue bahas.]
[Lo naksir sama dia?]
[Bukan gue aja yang naksir. Firza juga. Bahkan kami sudah saingan secara fair sekarang. Gue rasa Frans juga pasti akan naksir kalau dia nggak punya kekasih]
[Masa, sih? Hebat banget dia bisa bikin kalian kepincut]
[Lo pasti juga pasti naksir pas ketemu dia]
[Nggak mungkinlah]
[Gue yakin lo bakal jadi saingan gue dan Firza. Mana mungkin lo nggak cinta sama wanita sesempurna dia?]
[Coba share fotonya dulu!]
[Tunggu bentar!]
Reza menanti Reno mengirimkan foto wanita cantik yang barusan mereka bahas. Tak lama kemudian Reza terpana melihat foto wanita di layar ponselnya.
[Wow, dia bukan saja cantik! Dia amazing!]
[Iya, kan? Mana dia cerdas lagi. Dia direkomendasikan oleh Rumah Sakit tempat dia bekerja dulu untuk masuk ke RS Internasional. Dia bisa bekerja bersama kita lewat jalur rekomendasi. Walaupun ada serangkaian tes juga dan dia lulus, membuat dokter Reynaldi tidak sungkan dan tidak ragu untuk menerimanya di RS miliknya]
[Wah, menarik! Kalo gitu gue mau jadi saingan kalian.]
[No problem]
[Lo nggak takut nyeritain ini sama gue?]
[Justru gue cerita sama lo, biar kita bisa fair bersaing. Karena tanpa gue cerita juga, lo juga pasti akan tahu, kan? Mendingan kita fair kayak gini. Intinya siapa aja yang dipilih oleh dokter Liora yang lain harus mundur dan tidak boleh ada pertengkaran di antara kita bertiga. Ingat, kita dokter dan kita berpendidikan! Jangan hanya karena seorang wanita, persahabatan kita yang sudah kita bina lama sejak masa kuliah hancur begitu saja]
Reza tertawa pelan.
[Bijak banget lo!]
[Gue bukan sok bijak. Gue cuma ngingetin aja. Soalnya hal-hal yang berhubungan dengan wanita dan hal yang berhubungan dengan uang terkadang bisa membutakan mata seseorang. Terkadang hanya karena dua hal itu persaudaraan dan persahabatan bisa putus. Karena itu gue ngingetin begini. Be smart when you chase a woman!]
[Deal, gue setuju dan jangan nangis, ya, kalau dia milih gue!]
[Issssh, sok ganteng lo!]
Reza kembali tertawa melihat bibir mencebik Reno di layar ponselnya.
[Emang ganteng. Kita lihat aja siapa yang jadi pemenangnya nanti.]
[Oke. Yang bisa memenangkan hati dokter Liora harus rela traktir dua saingan yang kalah makan di restoran selama seminggu full sebagai kompensasi atas patah hati karena terkalahkan. Deal?]
[Kayak mau taruhan aja]
[Ya, jangan bilang taruhan juga, dong! Kalau dia sampai dengar dia pasti marah. Ujung-ujungnya nggak ada yang dia pilih. Kita ‘kan bukan taruhan? Hanya sebagai kompensasi saja karena di antara kita bertiga pasti ada dua orang yang gagal. Maka yang berhasil menjadi kekasih dokter Liora yang harus traktir.]
[Oke, gue setuju. Sekarang buruan tutup! Gue mau ke rumah sakit sekarang juga. Gue nggak sabar ingin kenalan sama dokter Liora]
***
“Selamat datang kembali, Bro,” sapa Reno ketika Reza keluar dari lift di lantai 10 RS Internasional.
Firza pun tidak mau kalah ikut menyapa Reza dengan riang. “Welcome back, Bro.”
Reza tersenyum gembira sambil menghambur ke arah dua sahabatnya.
“Gue kangen sama kalian berdua. Gue kangen dengar celotehan kalian, terutama kebawelan Reno,” celetuk Reza tertawa.
Reno mengerucutkan bibirnya. “Dasar!”
“Lo emang bawel. Nggak usah protes. Justru kebawelan lo itu yang ngangengin,” sambung Reza kembali tertawa.
“Lo nggak kangen sama Frans?” tanya Firza iseng.
“Kangen juga, sih. Kangen curhat-curhatan sama dia.”
“Emang lo nggak mau curhat sama kita?” tanya Reno sedikit kecewa.
“Nggak, ah! Kalian berdua banyak bercandanya. Bagaimana mau curhat coba,” seru Reza mencebikkan bibirnya, membuat Firza dan Reno balas mencebik lalu akhirnya sama-sama tertawa.
“Eh, mana, nih? Mana wanita yang bakal kita perebutkan?” tanya Reza mencari keberadaan wanita cantik yang sedang hangat diperbincangkan sahabat-sahabatnya.
“Bentar lagi. Tumben hari ini dia agak telat. Biasanya jam segini gue dan Firza udah sibuk deketin dia,” jelas Reno.
“Oke, kalau gitu gue mau nunggu di depan pintu lift. Pasti dia datang sebentar lagi. Kalian mau nunggu juga, nggak?” tawar Reza adil.
“Kami sebenarnya mau nunggu, tapi kami ada jadwal pagi ini dan harus bersiap-siap.” Firza menambahkan.
“Oke, kalian balik aja ke ruangan sekarang! Biar gue yang menyambut Tuan Putri kita.”
Reza pun melangkahkan kakinya ke depan pintu lift menunggu wanita cantik yang ia lihat di foto tadi.
“Nah, sepertinya ini, nih!” gumam Reza saat melihat tombol lift menyala, menandakan kalau ada seseorang yang akan keluar lift.
“Kenapa liftnya dari atas? Apa dia ke atas dulu cari makanan?” tebak Reza bertanya-tanya.
Dan Reza pun terpana kala pintu lift terbuka. Jantungnya seketika berdebar ketika melihat wajah cantik yang begitu menawan dengan rambut panjang hitam terurai, garis wajah yang jelas, hidung mancung, serta memiliki alis yang begitu tebal. Seketika senyumnya terbit dengan sendirinya.
Reza merasa ia telah jatuh cinta jatuh cinta pada pandangan pertama. Belum pernah ia bertemu dengan wanita mana pun yang bisa menggetarkan jiwanya dalam segala pertemuan. Wanita ini berhasil melakukannya. Seketika itu juga Reza bertekad akan menjadikannya kekasihnya, bahkan lebih.
“Apa kamu dokter Liora?”
Liora yang sempat terpana karena senyuman indah Reza, refleks mengangguk, belum bisa mencerna apapun kala ia melihat dokter yang begitu tampan rupawan di depannya.
‘Siapa dia? Apa ini dokter Reza yang sedang dinas ke luar kota?’ batin Liora bertanya-tanya.
Belum sempat ia menjawab pertanyaannya sendiri, tiba-tiba laki-laki itu mengulurkan tangannya lalu mengajaknya keluar dari lift. Dirinya juga tidak mengerti kenapa bisa begitu spontan menyambut tangan laki-laki ini dan mengikutinya keluar lift. Tak lama, suara berat laki-laki itu pun kembali menggema di telinganya.
“Perkenalkan, aku dokter Reza, salah satu rekan kamu yang sepertinya akan jadi teman dekat kamu, Dokter Liora!”
‘Tepat sekali dugaanku. Ternyata laki-laki ini adalah dokter Reza. Wah, dia memiliki kharisma yang luar biasa! Dia begitu berwibawa. Dia berbeda dari Reno dan Firza. Dia memiliki sesuatu yang membuat wanita akan terpesona padanya,' batin Liora takjub.
“Iya, Dokter. Saya ....”
“Nggak usah pakai bahasa formal lagi, dong! Sama seperti Reno dan Firza, aku juga nggak mau dipanggil secara formal. Panggil saja aku Reza!” seru Reza menyela ucapan Liora sambil tersenyum.
“A-aku, aku nggak bisa begitu, Dokter. Samain aja kayak dokter Reno sama dokter Firza, ya! Aku akan tetap akan memanggil dokter di depan nama kalian, tapi aku akan berusaha bicara santai pada kalian.”
Reza mengangguk setuju. Tidak masalah baginya asalkan wanita ini bicara santai padanya.
“Baiklah, aku setuju. Pagi ini kamu punya jadwal nggak?”
“Nggak ada, Dok. Jadwalku jam 09.00 nanti,” sahut Liora jujur.
Reza tersenyum menang. Sepertinya keberuntungan ada di pihaknya. Dua jam ke depan ia bisa tebar pesona pada wanita spesial ini.
“Fine, kalau gitu kita ngobrol aja, yuk! Aku ingin mengenal kamu lebih jauh,” seru Reza gamblang. “Aku akan traktir kamu di kafe lantai dasar.”
“Tapi ....” Liora keberatan. Ia masih canggung dengan Reza yang begitu supel dan luwes terhadapnya.
“Nggak pakai tapi-tapi. Seperti yang aku katakan, aku ingin mengenal kamu lebih jauh. Yuk, ikut aku sekarang!” ajak Reza langsung menarik pelan tangan Liora, berniat mengajaknya kembali masuk ke dalam lift.
Frans mengepal geram. Sejak tadi ia sudah kesal melihat senyuman indah yang ditebarkan oleh Reza pada wanita ini. Terlihat jelas sorot memuja di mata Reza untuk Liora. Jangan katakan kalau Reza langsung mencintai wanita ini! Tidak, itu tidak boleh terjadi.
Reza adalah temannya dan wanita ini bukan wanita suci. Meskipun tidak bisa ditampik, dirinyalah yang menyebabkan wanita ini tidak suci lagi. Namun, tetap saja ia tidak rela kalau teman baiknya yang selama ini sering berkeluh kesah padanya, bahkan menginap di apartemennya, mendapatkan wanita seperti Liora. Ia harus menghalanginya sebelum cinta itu benar-benar tumbuh di hati Reza. Ia harus mencegah semuanya.
“Eh, lo mau ke mana? Pentingan gue apa dokter baru ini? Pulang dari luar kota bukannya nyariin gue, malah ingin tebar pesona di sini,” omel Frans mengalihkan perhatian Reza.
Buru-buru ia menggandeng tangan Reza, ingin mengajaknya masuk ke kantornya dan berniat mengabaikan Liora. Namun sayang, Reza sudah memiliki tekad yang kuat di dalam hatinya karena sudah meyakini kalau wanita ini adalah wanita yang sangat spesial baginya.
Reza juga yakin saat ini ia sudah jatuh cinta pada wanita ini hanya dalam hitungan detik. Maka itu ia tidak akan membuang-buang kesempatan. mumpung Reno dan Firza sedang ada urusan, ia akan memaksimalkan pendekatannya pada Liora.
“Sorry, Frans. Ketemuan sama lo bisa kapan-kapan. Namun, momen pas untuk berduaan saja dengan dokter Liora nggak gampang dan nggak tahu kapan bisa terjadi lagi. Jadi, sorry, gue lebih milih dia dibanding lo. Kalau ketemu lo bisa bisa diaturlah nanti, tapi dengan dokter cantik ini belum tentu bisa. Belum tentu dia mau lagi ke kafe bareng gue di waktu berikutnya dan belum tentu juga jadwal kami match. Sorry, gue tinggal dulu, Frans. Nanti aja ketika waktu senggang baru kita ngobrol lagi.”
Secepat kilat Reza menepis tangan Frans, kemudian ia meraih tangan Liora lalu mengajaknya masuk ke dalam lift.
“Kita pergi sekarang, Ra. Ke depannya sepertinya kamu akan selalu terlibat denganku,” ujar Reza tersenyum lebar membuat Frans panas hati.
Sambil mengepalkan tangannya geram, Frans mengumpat dalam hatinya.
‘Sialan! Kenapa ketiga temanku tergila-gila pada wanita ini, sih?’
Bersambung ...