[Kapan mau makan siang bareng kami, sih, Ra?]
Liora terpaksa menghentikan mobilnya dan terpaksa harus mengangkat panggilan video dari Aurel, takut sahabatnya ini marah padanya. Ia merasa bersalah karena selalu membatalkan ajakan makan siang sahabatnya tersebut.
[Aduh, kayaknya nggak bisa hari ini, Rel!]
[Lo udah menundanya seminggu lebih, Ra. Tega amat lo sama kita. Sedangkan gue dan Laura, tiap-tiap tiga hari pasti ketemuan makan siang. Cuma sama lo kita yang nggak bisa ketemu. Kami mau samperin lo ke rumah sakit, tapi lo ngelarang. Lo diajak jalan-jalan keluar juga nggak bisa. Terus gimana, dong? Kapan kita ketemunya kalau begini caranya]
[Maafin gue, Rel. Gue bener-bener nggak bisa. Jadwal gue itu sesaat sebelum makan siang. Kadang jam makan siang gue juga kepake. Kalau gue makan siang di luar, gue bakal telat balik lagi ke RS Sedangkan sebelum operasi dan memeriksa pasien, gue harus siapin semuanya dulu, termasuk mempelajari data-data pasien gue. Itu juga sebabnya gue nggak bisa makan siang di tempat lain selain makan siang di kantin rooftop RS, Rel]
[Ya, makanya kami yang mau ke sana. Sekalian mau ngeliat RS Internasional itu gimana? Soalnya kita belum pernah ke sana. Jadi gimana? Kapan kita bisa ketemu?]
[Kayaknya hanya bisa weekend, deh, Rel.]
[Kenapa harus weekend? Kenapa nggak bisa makan siang di hari biasa? Nanti kami aja yang nyamperin lo, Ra. Masa nggak bisa mulu, sih?]
[Masalahnya gue mau ambil hati dua senior gue, Rel.]
[Ambil hati?]
[Iya, karena nggak enak kerja di rumah sakit kalau nggak punya kenalan, Rel? Kita bakal di posisi sulit. Karena itu gue bener-bener pengen deket sama senior gue di RS itu agar posisi gue aman]
[Senior lo perempuan?]
[Di mana-mana dokter kandungan itu kebanyakan laki-laki, Rel. Rekan gue itu ada empat dan semuanya laki-laki. Cuma satu yang gue belum ketemu karena masih ditugaskan ke luar kota]
[Ganteng-ganteng nggak mereka?]
[Ganteng-ganteng, dong!]
[Kalau mereka ganteng, kenalin satu, dong!]
[Oke, kapan-kapan, ya! Kalau jadwalnya sudah stabil, kalian boleh ke sini. Jadi kehadiran kalian nggak sia-sia. Gue takutnya kalian udah capek-capek menyusul ke sini, tapi gue cuma bisa nemuin lo sama Laura kurang lebih 10 menit dan harus balik lagi ke ruang operasi.]
[Iya, juga, sih.]
[Makanya, mending kita ketemu pas weekend aja]
[Tunggu! Lo bilang tadi mau ngambil hati senior lo? Gimana caranya?]
[Ya, dengan cara makan siang bareng mereka. Dua senior gue itu, selalu berebutan dan gantian ngajak gue makan siang dan traktir gue. Gue nggak enak nolaknya. Lagian juga waktu makan siangnya bener-bener singkat, Rel]
[Sejak kapan?]
[Sejak beberapa hari lalu. Kemungkinan hari ini juga begitu. Awalnya mereka mau ajak gue makan malam juga, tapi gue rayu supaya jangan. Gue capek dan mau buru-buru pulang, mau tidur]
[Emang lo suka sama mereka berdua?]
[Nggak. Gue udah kasih gambaran ke mereka kalau nanti gue nggak juga jatuh cinta pada mereka, mereka nggak boleh marah atau musuhin gue karena gue nggak mau punya musuh lagi]
[Lagi? Emang sekarang lo punya musuh?]
[Punya satu]
[Hah!? Kok, bisa?]
[Panjang ceritanya]
[Pendekkin, dong!]
Liora tertawa pelan mendengar celetukan sahabatnya.
[Nanti gue cerita. Besok ‘kan weekend? Kita ketemuan aja. Di mana bagusnya kita janjian?]
[Kafe Romero aja]
[Deal. Kalo gitu gue berangkat kerja dulu, ya! Gue takut telat. Sampai jumpa besok, Rel.]
Liora mengakhiri panggilan videonya dengan Aurel lalu melanjutkan perjalanannyahh menuju ke rumah sakit karena terlambat sedikit saja ia pasti akan diomeli oleh laki-laki b******k yang paling menyebalkan yang ada di ruangannya, yaitu iblis bertopengkan dokter kandungan.
“Mudah-mudahan aku nggak telat,” gumam Liora sedikit cemas.
Ia buru-buru keluar dari mobilnya setibanya ia di parkiran RS Internasional, menjinjing jasnya karena tidak sempat memakainya lagi lalu ia pun berlari menghambur ke dalam rumah sakit segera mencari lift dan tanpa berpikir panjang ia segera masuk ke dalamnya.
Dan ketika ia ingin menutup pintunya dengan nafasnya yang tersengal-sengal, tiba-tiba Frans ikut masuk ke dalam lift dan tanpa aba-aba langsung menekan tombol ke lantai 10, lantai paling atas di mana ruangan mereka berada.
‘Sial! Kenapa aku harus ketemu dengannya, sih? Apa dia telat juga? Ah, persetan dengan dia!’ batin Liora kesal.
Ia buru-buru memalingkan wajahnya lalu membelakangi laki-laki yang membuatnya muak itu sambil berharap pintu lift akan segera terbuka.
“Kamu menghindariku?” tanya Frans dingin.
Liora bergeming. Ia menganggap Frans tidak ada sama sekali di sana. Ia sudah bertekad tidak akan menoleh Frans sama sekali. Bahkan rasanya ia tak sudi memiliki rekan berhati kejam seperti laki-laki biadab ini.
Jujur saja, Liora sama sekali tidak berniat untuk memusuhi Frans. Namun, rasa benci, muak, kesal dan geram itu muncul karena Frans memintanya menggugurkan kandungannya andai ia hamil. Dari sana saja ia tahu, Frans bukan laki-laki baik. Frans adalah laki-laki b******k, kejam, tidak punya hati dan tidak bertanggung jawab. Dan ia paling benci dengan karakter laki-laki yang seperti ini.
“Apa kamu tuli?” ulang Frans lagi.
Ia sudah menunggu jawaban Liora selama satu menit, tapi Liora tak kunjung menjawab, membuatnya kesal.
Liora tetap bergeming. Ia menulikan telinganya, menganggap tak ada siapa-siapa di dalam lift, membuat Frans tambah emosi.
‘Kurang ajar! Dia sengaja mengabaikanku rupanya,’ batin Frans geram.
Frans nekat menarik tangan Liora, membuatnya menatap ke arahnya.
“Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, hah?” desis Frans emosi.
“Anda kenapa, sih?” seru Liora merengut kesal.
“Kenapa kamu menghindariku? Kenapa kamu tidak menganggap aku ada?”
Liora geleng-geleng kepala. 'Bukannya si songong ini bilang tak mau terlibat denganku? Kenapa pula dia repot menanyakan sikapku? Aku sudah mempermudahnya dengan mengabaikannya sehingga semua masa laluku dengannya terkubur rapat. Kenapa dia malah jadi aneh begini? Jangan-jangan dia bipolar? Atau jangan-jangan skizo! Hiiiiii!’ batin Liora merinding.
Liora tak mau repot menanggapi omelan si b******k ini. Ia kembali membelakangi Frans sambil terus berdoa agar lift ini segera sampai ke lantai atas karena ia benar-benar penat berdekatan dengan laki-laki garang, pemarah yang suka mengejek dan sok sempurna ini.
Tak terasa lift pun sudah sampai di lantai atas dan begitu pintu terbuka Liora tidak membuang waktu lama-lama lagi. Ia langsung buru-buru melangkah keluar meninggalkan Frans begitu saja, membuat Frans kesal setengah mati. Frans tidak ingin wanita ini terus-terusan mengabaikannya, sedangkan dirinya adalah seniornya. Tanpa diduga-duga, setengah tak sadar, Frans langsung menarik tangan Liora kembali masuk ke dalam lift, kemudian menekan tombol ke arah rooftop.
“Anda apa-apaan, sih, Dok?” desis Liora tajam.
“Kamu itu yang apa-apaan? Sejak tadi aku menanyaimu, tapi kamu mengabaikanku,” balas Frans geram.
“Saya tak mau bicara sama anda dan tidak mau menganggap anda ada? Apa itu salah? Harusnya anda bersyukur saya menjauhi anda, bukan menempel dan meminta tanggung jawab anda,” sentak Liora garang.
“Ikut aku sebentar ke rooftop! Kita harus bicara penting.”
“Sayang sekali saya tidak ingin bicara sama anda lagi. Saya pernah bilang kalau saya tidak ingin terlibat dengan anda lagi. Jadi biarkan saya sendiri dan jangan urusi hidup saya lagi!”
“Aku perlu bicara dengan kamu, ngerti nggak sih apa yang aku sampaikan sejak tadi?” Frans menekankan.
“Saya tidak mengerti dan tak mau pusing untuk mengerti. Sekarang minggir! Jangan halangi pintunya!”
Frans bergeming. Ia menutupi pintu dan tombol lift agar Liora tak bisa ke mana-mana.
“Aku harus bicara sama kamu di rooftop karena kita harus meluruskan sesuatu kembali.” Frans mengulangi keinginannya walaupun ia tak tahu apa yang akan ia bicarakan pada wanita ini.
“Saya tidak perlu meluruskan sesuatu karena tidak ada yang harus diluruskan di sini,” kata Liora sadis.
Liora lalu menepis tangan Frans, kemudian kembali menekan tombol ke lantai 10 di mana ruangan operasi mereka berada.
Frans menggeram kesal. Ia kembali menekan tombol ke arah rooftop, berusaha menghalangi Liora keluar dari sini, membuat Liora berdecak kesal.
“Sebenarnya apa yang anda inginkan dari saya, Dokter Frans?”
Frans tidak bisa berkata-kata. Ia juga sebenarnya tidak mengerti kenapa dirinya begini. Akhirnya ia mencari alasan agar tidak malu sendiri.
“Makanya aku mau ajak kamu ke atas agar aku bisa menyampaikan apa yang aku inginkan.”
“Katakan saja sekarang! Saya tak mau berduaan dengan anda lama-lama.”
‘Sialan! Siapa juga yang mau berduaan dengan kamu?’ umpat Frans kesal.
“Jauhi teman-temanku!” cetus Frans menumbalkan teman-temannya.
“Kenapa?”
“Aku tidak suka kamu akrab dengan kedua temanku. Mereka benar-benar polos. Aku nggak mau mereka jatuh dalam permainanmu.”
Frans menutupi tindakan impulsifnya sejak tadi. Tidak pernah ia pikirkan ia bisa menyeret Liora, tapi juga tidak tahu apa ingin bicarakan. Semuanya terjadi begitu saja. Itu adalah dorongan dari hatinya karena ia begitu kesal seminggu lebih diabaikan oleh wanita ini.
Ia juga tidak mengerti. Padahal keinginannya sejak awal adalah tidak saling mengurusi kehidupan masing-masing, tapi tidak tahu kenapa ia sendiri tidak mau diabaikan begini.
“Maaf, Dok. Bukan saya yang ingin mendekati dr.Reno dan juga dr. Firza. Merekalah yang berlomba-lomba mengejar saya. Lagi pula saya tak pernah ada niat buruk pada mereka. Sebaiknya anda tidak usah ikut campur urusan saya lagi. Permisi!”
Liora kembali mendorong tubuh Frans ke samping lalu menekan tombol lantai 10. Amarahnya benar-benar hampir meledak saat ini. Bisa-bisanya si b******k ini mencurigainya dan menuduhnya macam-macam.
‘Frans sialan! Kamu benar-benar laki-laki jahat!’ batin Liora geram.
Sementara Frans bingung dengan dirinya sendiri. Rasa marah, bingung dan kesal benar-benar berbaur di dalam hatinya, membuatnya membeku, hanya bisa menatap wajah Liora yang saat ini terlihat kesal dan marah padanya. Herannya cemberut begini saja, Liora tetap terlihat cantik.
Belum puas menatap kecantikan wanita yang mulai mengusiknya, pintu lift tiba-tiba terbuka. Dan ia membelalak lebar saat melihat sahabatnya yang bernama Reza sudah menunggu di depan pintu lift, tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya pada Liora.
“Apa kamu dokter Liora?”
Liora mengangguk secara spontan dan tanpa sempat mencerna semuanya, tangannya sudah ditarik pelan oleh dokter tampan itu keluar dari lift.
“Perkenalkan, aku dokter Reza, salah satu rekan kamu yang sepertinya akan jadi teman dekat kamu, Dokter Liora!”
Bersambung ...